Suka Berpidato
Oleh Iswan Sual, SS.
Teman saya bernama Magda Dominik tersenyum
heran setiap kali diundang menghadiri suatu acara yang dilaksanakan, baik oleh
pemerintah maupun tokoh masyarakat atau agama. “Why everyone here like to
talk?” katanya saat aku menghampirinya. Dia tahu pasti wajahku penuh tanya.
Mula-mula aku menganggap keheranannya itu adalah sesuatu yang remeh. Namun, sepulang
di tempat tinggalku, aku merenungkannya.
Magda
adalah seorang Kanada yang pernah tinggal di Jerman dan Polandia. Dengan
demikian pergaulannya menjadi luas. Pergaulan internasional. Tidak heran dia
bisa diterima oleh Canada Youth World untuk menjadi supervisor tim peserta
pemuda Kanada yang ikutserta dalam program pertukaran pemuda Indonesia-Kanada.
Memang, selama program pertukaran pemuda dilaksanakan (kira-kira 8 bulan), saya
adalah salah satu orang yang dengan diam-diam memperhatikannya. Dia adalah
wanita bertubuh langsing. Tingginya tidak terlalu jauh dari kami. Rambut coklat
dan bermata Indah. Dia tipe seorang wanita yang mampu mengambil keputusan yang
cepat dalam waktu yang tepat. Ingin sekali aku menamai anak perempuanku dengan
namanya. Itupun kalau ada yang mau menikah dengan saya nanti.
Kembali ke
soal undangan oleh pemerintah dan pemuka tadi. Magda Dominik sangat heran
dengan orang Indonesia (khususnya para pejabat dan pemuka) di Indonesia yang
gemar berpidato dalam satu acara. Tak tanggung-tanggung, yang berpidato itu
bisa tiga sampai lima orang. Kadang-kadang pula orang yang diminta berdoa di
awal dan di akhir acara juga mengawali doanya dengan banyak kalimat, yang
menurut saya, juga adalah sebuah pidato.
Peristiwa
suka berpidato ini saya dan Magda alami sewaktu kami masih di Padang, Sumatra
Barat. Namun, kebiasaan suka berpidato ini bukan hanya di sana. Di kampung saya
juga demikian. Ironisnya, umumnya orang tidak mendengarkan pidato-pidato itu.
Bukannya memperhatikan orang-orang yang menjadi tujuan pidato sibuk bicara
dengan teman sebangku. Jadi, saya pun bertanya seperti Magda. Kenapa mereka
suka berpidato? Padahal mereka tidak diperhatikan. Mungkinkah mereka
terinspirasi oleh presiden pertama Indonesia, Ir Soekarno? Bagaimana mereka
tetap suka berbicara di depan umum, sementara orang tidak mengabaikan?
Saya
sendiri kalau diberikan kesempatan untuk bicara dalam suatu kesempatan, jika
orang masih bicara saya belum akan bicara. Atau, kalau tengah bicara dan orang
mulai gaduh dan tidak memperhatikan, dengan tiba-tiba saya akan mengakhiri
pidato itu. Percuma memberi mutiara pada babi-babi. Seberapa mahal atau
berharganya mutiara tak akan bernilai apa-apa bagi babi.
Pejabat dan
pemuka perlu banyak mendengar daripada bicara.
Masyarakat kita sudah bosan dengan janji-janji politik kosong dan
harapan-harapan surgawi. Mereka butuh didengar suaranya. Mereka juga ingin
bicara. Bukan pemimpin melulu yang bicara. Menurtu teori komunikasi,
keberhasilan dalam komunikasi ditentukan oleh seberapa sering kita mendengar
orang lain. Bukan oleh berapa banyak sudah kita bicara. Tidaklah suatu
kebetulan Tuhan memberikan kita satu mulut dan dua telinga. Kita memang
seharusnya lebih banyak bersimpati dan berempati pada masalah orang tinimbang
menunggu dipuji oleh karena pandai berpidato secara berapi-api.
1 Komentar
Admin, ada artikel tentang sains.. kalu ada ya posting neh.. biar torang pe pegetahuan tentang sains leh ba tambah... iyo toh,,,, :))
BalasHapus