Tinondeian
Karya Iswan Sual, SS.
5. PENANTIAN
2 hari kemudian. Waktu itu sudah sore. Tinggal sedikit mahasiswa yang masih
di kampus. Pekerjaan rutin membuatku jenuh…
Saat perutku terasa lapar, aku bergesas pulang ke
kamar.
Langkahku yang
cepat dan tergesa-gesa tiba-tiba terhenti.
Kira-kira 5 langkah jaraknya dari pintu.
Ada sesuatu.
Jantungku berdebar dengan cepat diikuti dengan rasa
senang mesum.
Gugup.
Kurang percaya.
“Apa yang ku lihat?”
Ada sebuah tas coklat tergantung di pegangan pintu.
Perlahan ku dekati tas itu dan……ku buka.
Ternyata benar! “Dia sudah datang”.
Semua barang yang ada dalam tas adalah milik wanita.
Pasti ini milik dia.
Tak salah lagi.
Tak mungkin salah!
Pasti tas ini milik gadis bermata indah dan berkulit
putih itu. Suaranya juga begitu mengundang.
Telpon genggamku bergetar.
Ada sms.
Dari nomor bernama unknown.
Namun sudah tak asing. Ku buka dan ku baca :
“Kak tunggu ya. Aku lagi di rumah teman.
Ada pertemuan
mahasiswa adven.
Aku akan berada di sana dalam waktu 1 jam lagi.”
Aku tak percaya ini.
Aku baca lagi: “kak tunggu ya. Aku lagi di rumah
teman. Ada pertemuan mahasiswa adven. Aku akan berada di sana dalam waktu 1 jam
lagi.”
Ku baca lagi: “kak tunggu ya. Aku lagi di rumah
teman. Ada pertemuan mahasiswa adven. Aku akan berada di sana dalam waktu 1 jam
lagi.”
Ini bukan mimpi!
Dengan cepat, setelah tersadar dari mimpi, ku balas sms
itu. Ku ketik ‘OK’.
Terkirim.
“Kira-kira apa yang akan terjadi dalam 1 jam berikut?”
Aku gugup.
Aku takut.
Tapi penasaran. Apakah kami akan….
“Ah sinting!!”
Tubuhku berpeluh. Aku bergulat dengan perasaan dan akal
sehatku.
Keadaan ini sunggguh menyiksa.
Aku bergumul dengan musuh yang terlampau hebat.
Musuh yang berat: nafsu berahi.
Tak dapat ku tahan. Entah aku atau si setan yang akan menang.
Seperti Yakub bergulat dengan Tuhan dari malam sampai fajar menyingsing. Ku
ingat apa yang tertulis dalam sebuah kitab. Kejadian 32: 24-25 mencatat
”Lalu tinggalah
Yakub seorang diri. Dan seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar
menyingsing. Ketika orang itu melihat, bahwa ia tidak dapat mengalahkannya, ia
memukul sendi pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok,
ketika ia bergulat dengan orang itu.”
Yakub menang. Yakub memenangkan pertarungan berat itu.
Sungguh mencengangkan. Yakub mengalahkan Tuhan.
Yusuf sewaktu digoda istri Potifar-pun menang. Yusuf
mengalahkan iblis.
“Kenapa begitu? Ah….mungkin saja karena istri potifar
itu adalah tante yang sudah peyot. Wajarlah kalau Yusuf menghindar. Bagaimana
kalau seorang gadis yang mengajaknya bermain di ranjang? Mungkin dia akan
bingung dan penasaran sepertiku.
Simson, contohnya, dia tak lepas dari jeratan nafsu
Delila si perempuan Filistin. Daudpun tak luput saat melihat lekukan tubuh
mulus dan molek Betsyeba, istri Uria yang sedang mandi.
Bagaimana
denganku? Apakah malam ini aku akan menjadi Yusuf atau Daud. Apa aku memiliki
kekuatan mereka?
Benar-benar sukar menolak tawaran ini.
“Oh Tuhan kenapa engkau membuat semua yang enak itu
menjadi dosa? Tidakkah engkau telah membuat kekeliruan? Kenapa aku diciptakan
hanya untuk menderita menahan diri untuk tidak bisa menikmati semua yang nikmat
yang telah dibuat dengan tanganmu sendiri? Kini aku aku meragukan engkau
sebagai gembala yang baik.”
Aku linglung. Seperti orang tak waras. Ini keputusan sulit.
Roh kuat tapi daging lemah.
6. KERASUKAN SETAN
Kira-kira pukul 07.00 malam itu,
terdengar suara ketukan pintu. Jantungku berdebar. Semakin lama semakin cepat.
Bisa kukenali itu bukan ketukan adikku. Kalau yang ini suara ketukannya lembut.
Sambil merapikan rambut dan pakaianku, aku menuju ke pintu dan membukannya.
“Selamat malam,” dengan senyum yang dibuat-buat supaya
berkesan.
“Halo kak, kok lama buka pintunya?”
“Ha ha ha”, aku tertawa. Tak jelas maknanya. Suatu
bentuk pengalihan rasa kikuk.
“Maaf, aku tak sengaja….”
Setelah mempersilahkan dia duduk aku sibukkan diri
dengan mengatur buku-buku dan pakaian-pakaian kotor yang berserakkan di sekitar
kasur, dekat di mana dia duduk. Saat itulah kulihat paha dan betisnya yang
begitu mulus. Putih. Aroma tubuhnya membuatku bergidik. Alir liur serasa
membanjir.
Walaupun samar tapi pandangan mata ini tak bisa salah.
Dia memakai celana yang super pendek. Semangat dan naluri kelaki-lakianku tak
kuasa menolak undangan naluri kewanitaannya yang terbakar api asmara. Sungguh
menggoda!
Suasana semakin panas. Nafsu yang membakar.
Aroma parfum menambah nafsuku semakin menggeliat. Segera
ku berbaring di samping di mana ia sedang duduk. Dia mengubah posisi duduknya. Sekarang
dia duduk di kasur menghadap ke arahku. Dia duduk tepat dekat ujung jari-jari
kakiku. Membuat aku tak bisa merasakannya.
Bahan percakapan tiba-tiba tak ada lagi.
Sunyi melanda ruangan. Kami terdiam selama beberapa
waktu….. Entah berapa lama.
Sudah pukul 10.00 sekarang…..
Aku telah lama membatu. Membatu dalam gugup menunggu.
Tiba-tiba meluncurlah satu kalimat dari bibirnya.
“Permisi kak,
agak ke pinggir sedikit. Saya mau tidur.”
Aku bergeser. Tapi tak bersuara. Begitu terpana.
Aku membisu namun bibir bergerak. Bergetar-getar
padahal tidak sedang kedinginan.
Aku berbaring. Begitu kikuk.
Aku seperti seorang tamu. Berusaha mencipta kesan
awal yang sempurna. Nyaris tanpa celah.
Mata terbuka lebar menatap langit-langit yang penuh
sarang laba-laba. Ada dua cicak saling berkejar-kejaran.
Tak berselang lama kedua cicak itu sudah bersama-sama.
Mungkin mereka sedang berkelamin. Mulutku tambah bergidik. Libido menaik. Detak
jantung kian melaju. Kecang seperti larinya kijang yang mau kawin.
“Kak aku tak bisa tidur jika lampu masih menyalah.”
“Apa?!” dia mulai mendesak. Dia mulai memaksaku.
Aku tahu itu adalah semacam komando supaya aku segera
mematikan lampu. Sehingga lancar beradu.
Ku turuti kemauannya. Adalah Kemauanku juga. Kalau mau
jujur. Dengan cepat kegelapan menyeret kami ke dalam dunianya. Dia menawarkan
kenikmatan tiada banding. Kami tak bisa saling memandang lagi. Namun bau
parfumnya masih tercium. Dengan kaki dan tangan aku meraba-raba menuju kembali
ke kasur untuk berbaring.
“Kak,” Wulandari mendesah, “Boleh tidak aku memeluk
kakak?”
Tak ada jawaban ya. Tak ada kata-kata sedikit terucap.
Namun tangannya telah melingkar di pinggangku.
Nafasku menjadi cepat. Secepat kuda jantan liar
melempar langkah-langkah mengejar sang betina yang juga liar.
Makin cepat dan semakin cepat.
Kubalikkan badan. Srek….. tubuhnya telah berada di bawah
tubuhku. Ku kecup bibirnya dengan penuh gairah. Sasaran berikutnya adalah
lehernya.
Seiring dengan itu tanganku langsung beraksi
menjelajahi perutnya sampai menyentuh dua benjolan lembut di dadanya.
Ku raih dengan sumringahnya. Seperti memetik buah pepaya
dengan hati-hati agar tak jatuh ke tanah. Buahnya besar dan montok. Kakinya
semakin gelisah tak menentu. Seperti dirasuk roh.
Ibu jariku perlahan beraksi pada fentilnya. Tangan
terus bergerak mengusap dengan lembut. Memutar-mutar pada fentil. Persis seperti
yang kulihat dari apa yang dilakukan oleh seorang bintang film biru Cina yang dilakukannya
pada lawan mainnya.
Mulut dengan lidah terjulur merampas tugas tangan. Kini
lidah mengambil alih. Ku jilati putingnya. Ku hisap dengan penuh semangat 45 seperti
bayi menyusui yang kelaparan.
“Kak….kak sudah pernah bercinta? Maksudku, kak sudah
pernah eM eL?” tanyanya dengan suara setengah menjerit pelan.
“Beeelum pernah. Kamu?”, sungguh pengakuan bodoh dan
memalukan di kalangan orang muda sekarang.
“Sudah beberapa kali,” tambahnya lagi.
Jawaban yang mengecewakan. Tapi tidak mengurangi
kenikmatan dan perjuangan mesumku.
Dia terus terang. Aku suka itu. Aku suka dia terus
terang kalau dia telah ditinggal sang perawan. Masa bodoh. Lagipula, dalam
keadaan seperti ini aku pasti takkan memperdulikan masalah keperawanan. Yang ku kejar adalah kenikmatan. Aku tengah
mendaki gunung yang indah. Sedikit lagi aku sampai pada puncaknya.
Dia juga lakukan ini supaya aku tak kecewa kalau tahu
nantinya kalau ternyata dia tak suci lagi.
Suci….ah apa peduliku dengan kesucian. Apakah kesucian
hanya soal robeknya selaput darah vagina atau membesarnya lubang surga dunia
itu?
“Kak mau bercinta denganku?”
“Iya…,” jawabku dengan cepat.
“Tapi aku sedang haid.”
Aku tak memperdulikan kalimat terakhirnya. Aku berdiri
dan menyalahkan lampu. Terpikir olehku kalau ada baiknya bercinta dengan lampu
menyalah sehingga lebih nikmat. Ini saatnya pembuktian teori, pikirku.
Dasar manusia pornoscientifik!
Ku lucuti semua pakaiannya dengan tergesah.
Tak sedikitpun Wulandari menolak. Dia membiarkankanku sedikit
berimprovisasi.
Kini tak satupun helai benang melekat di tubuhnya dan
tubuhku.
Ku dekatkan diriku.
Dia menyambutnya.
Diapun melucuti pakaianku sampai aku telanjang bulat.
Tak ditutupi sedikitpun.
Ku rentangkan kakinya dan kuarahkan senjataku.
Beberapa kali aku gagal. Sungguh tak berpengalaman.
Setelah mengetahuinya, dia dengan lembut, memegang
senjataku dan menuntunnya ke liang pembuat nikmat.
“Ah…ah… sakit…,” dia menjerit kesakitan.
Dan tiba-tiba giliranku.
“Ah…..!”
Cairan transparan menyembur keluar dari pistolku.
Ternyata pistol jenis ini bukan jenis pembunuh. Justru penyebab kelahiran.
Ini adalah pengalaman yang tak terlupakan, sekaligus pengalaman
terkutuk yang tak termaafkan.
“Tapi bukankah hal ini normal? Kenapa tuhan
menciptakanku disertai embel-embel nafsu birahi?”
Aku takkan pernah berdosa berahi kalau dia tak
menciptakan birahi. Ada sebab ada akibat.
“Dosa…? Tai anjing dengan semua itu.”

0 Komentar