NOVEL: Tinondeian Bagian 4 (Akibat SMS Mesum)

Tinondeian Bagian 4

Oleh: Iswan Sual, SS.

Akibat SMS Mesum




B
eginilah kira-kira lengkapnya cerita itu.
Suatu ketika, dalam perjalanan dengan kaki dari Tataaran ke kampus, tiba-tiba terasa ada getaran di kantong depan celana Jeans kusam dan penuh sobekku. Saat ku tengok, terpampang ada panggilan masuk di telepon genggamku. Belum sempat aku menekan  tombol terimanya, sambungannya telah diputus. Nomor itu diberi nama oleh ponselku ‘unknown’ (tak dikenal).
Hanya sekali unknown itu memanggil. Tak lagi ada yang berikutnya.
Padahal sedang ku tunggu.
Aku penasaran.
Maklum, biasanya orang yang baru punya ponsel, jika ada nomor yang tak dikenal masuk, menjadi ke-GR-an (G= gede. R= rasa).
Kudesak-desak diriku agar momen itu harus terlupa.
Aku harus melupakannya demi kebaikanku sendiri. Aku bisa gila karena memikirkan sesuatu yang tak jelas. Kemudian mati. Aku tak ingin menjadi hantu penasaran.
Aku harus berhenti menerawang dan menerka siapakah dia. Kalau tidak, itu hanya akan menjadikanku orang tolol.
Aku pulang ke kamarku.
Sialnya tak ada uang lagi untuk makan malam.
Ku minum air sebanyak-banyaknya untuk mengenyangkan perutku.
Belum ada kiriman uang dari orang tua. Harga kopra terpuruk. Kata Hanstien, Papa sudah berusaha mencari pinjaman uang. Tapi belum berhasil sampai sekarang. Aku harus banyak menahan lapar jika begitu.
Benakku kini memikirkan beban yang harus ku pikul. Masih ada tugas yang harus aku lakukan. Melanjutkan pengetikan skripsi.
Tapi kali ini, tujuanku bukan di sekretariat BEM.
Aku harus pergi ke sekretariat Sanggar Seni Tolu. Aku ingin merasakan suasana baru. Sambil menikmati karya-karya sanggar yang terpampang itu membuatku merasa nyaman.
Tujuan lain ke situ adalah untuk mencari lawan debat. Mencari tahu apakah mereka baru saja membaca buku baru yang bisa mereka bagikan isinya.
Sayangnya. sesampai di situ tak satupun manusia terlihat. Pintu terbuka lebar. Untung aku telah memberitahu kedatanganku ini sebelumnya. Jadi, tak ada ragu untuk masuk ke dalamnya.
Saat sedang berada di depan komputer, tiba-tiba pikiran menjadi buntu. Rasa lapar membuatku ide-ide mengendap. Semakin dipaksa muncul semakin mengendap. Lupakan saja dulu. Teori mengatakan, kalau sesuatu yang ingin kita ingat tak muncul dalam benak, kita harus melupakannya sebentar agar bisa diingat. Komputer di otak akan bekerja lamban bila perintah-perintah dipaksakan tanpa ada jedah.
Muncul pikiran untuk mengirimkan sms ke nomor ‘unknown’ yang beberapa jam lalu memiskolku. Hanya iseng. Mengobati kebuntuan. Hidup itu perlu improvisasi. Tidak boleh monoton.
Ku tulis, “Knapa miskol? Rindu ya?”
Message sent….
Tak sampai 5 menit  telpon genggamku bereaksi.
You have 1 message
Ada pesan masuk.
Segera ku baca.
You have 1 message
To: Toar
Mmngx tdak bole ya? Eh jngan Ge-eR ya. Yang miskol duluan kan kakak. Btw, skarang lagi apa?”
From: Unknown

Wah…brarti yang punya nomor ini aku kenal. Dan….berarti dia adalah adik angkatan kuliahku. Oh betul…betul. Aku ingat….. Hari sabtu lalu aku bertemu seorang gadis dalam acara ibadah Gereja Advent. Ini tak salah lagi. Gadis cantik itu!? Aku sempat minta nomor ponselnya. Ya tidak salah lagi….Tapi sayang tak sempat aku tanya namanya waktu itu. Dia sangat cantik. Cantik alami. Putih dan tinggi. Wajahnya bulat dan bergigi putih rapih.
Ku ketik lagi….
To: Unknown
Skrang aku lgi krjakn skripsiku.
Oh ya…aku mskol kmu kmrin
Coz aku rndu ma kmu hahahaha…..gbu
From: Toar
Message sent….

 Wah….sungguh tak kusangkah. Aku mulai menggodanya. Tak bisa dipercaya.
3 menit kemudian…
You have 1 message
  To: Toar
Oh. Btw, dgn siapa disitu? Sndiri ato?
From: Unknown

Sungguh pertanyaan yang provokatif. Dan pertanyaan itu yang kutunggu.
Ku ketik lagi…
To: Unknown     
Aku sndiri. Knpa? Kmu mau tmani aku mlm ini?
From: Toar
Message sent….
Rayuku nakal.

1 menit kemudian….
You have 1 message………
To: Toar
Bleh. Tpi bkn skrang. Soalx
aku sibuk bantu2 sdra.
From: Unknown

Buluh romaku mulai berdiri. Aku pasti sedang mimpi. Aku tak percaya ini. Suhu badanku berubah. Terjadi inflasi. Ingin tahu apa ini nyata atau khayalan. Tentu aku takkan senang jika ternyata ini hanya mimpi.
Ku ketik lagi…..
To: Unknown
Eh, btw, kamu sdh px pacar tidak?
From: Toar
Message sent….
Tanyaku dengan berani.

Lalu……..
  You have 1 message………
To: Toar
Sudah.  Aku sdh px pcar. Tapi…
Klo kak mau denganku…boleh kok.
From: Unknown

Sungguh jawaban yang jujur dan tak tahu malu. Aku jadi antipati. Bukan berita yang baik. That’s bad news! Meskipun jujur, bukan jawaban itu yang kuharap. Aku lebih suka kalau dia berdusta saat ini. Aku lebih suka kalau dia bilang kalau dia tak punya kekasih.
Ku ketik….
To: Unknown
Oh, klo bgt tak pa2. Aq tk mw px pcar yg pnx pacr.
Aq tk mw km mghianti pcrmu.
From: Toar
Message sent….
Nasihatpun keluar dari mulut pria hidung belang gadungan ini. Bukan nasihat yang sungguh-sungguh. Pikiran liar sudah terlanjur merasuk. Maksud kotor berkecamuk.
Lalu……..
  You have 1 message………
To: Toar
Ya sudah kalau begitu. Kak kpn kkak
mau ditmani? Mmng, kak
serius mau ditmani?
From: Unknown

Tanyanya dengan penuh kepolosan. Wah ini makin gawat. Dia sudah terjerat. Permainan ini harus segera dihentikan!
To: Unknown
Lusa. Klau kmu dtng. Km kan thu
ku serius at tdak.
From: Toar
Message sent….

Eit…..wah terlambat pesan sudah terkirim. Harusnya ini tak aku lakukan. Kenapa justru aku bisa dengan cepat mengiakan semuanya. Aku sudah berusaha menghambat keinginan ini.
Roh kuat tapi daging lemah!
Pikiranku sudah jauh melambung memikirkan aktifitas penuh nafsu yang bakal terjadi di depan mata.
Akankah itu terjadi? Tidak mungkin.
Mungkinkah kesucian yang selama ini kujaga akan kotor penuh dengan lumpur.
Acara saling kirim sms selesai.
Kulanjutkan pekerjaanku. Saat ku pikir-pikir lagi… tiba-tiba aku terhenyak.
“Apa yang telah aku lakukan?!!”
“Apa yang telah aku katakan padanya?”
Kurenungkan kembali perbincangan lewat pesan singkat tadi. Ku timbang-timbang kesepakatan yang telah kami buat.
“Ini gila! Ini mustahil! Kenapa bisa seperti ini?? Ah….tidak! dia tak mungkin datang. Tak semudah itu. Tapi… bagaimana kalau dia datang?.”
Pekerjaan mengetikku terhenti.
Tak dapat lagi ku kerjakan.
Pikiranku kacau.
 Konsentrasiku buyar. Ku rapikan buku-buku referensi yang berserak di samping layar komputer.
Kumasukan satu persatu buku-buku itu ke dalam tas punggungku.
Ku klik Shut Down.
Kutinggalkan sekretariat Sanggar Seni Tolu.
Tergesa-gesah membawa buku-buku yang beratnya hampir 50 kg.
Sambil melangkah kepalaku menggeleng-geleng seperti orang sinting.
Tak percaya dengan apa yang baru terjadi.
Sesampainyaku di kamarku yang penuh pula buku di atas meja dan lantainya, ku ganti bajuku dan berbaring sambil memandangi langit-langit.
Tatapanku serasa kosong.
Namun kepalaku berkecamuk.
Aku teringat akan wajah Unknown yang mulus dan bulat. Matanya indah.
Rambut panjang yang terurai bagaikan aliran sungai yang menyejukkan. Lekuk-lekuk tubuhnya begitu terhafal dalam benakku. Terlebih tonjolan dadanya.
Ah… hentikan! Saatnya berlabu di pulau kapuk.
Mata kini merem. Kelelahan.
Aku tertidur pada larut malam.
Saat sudah nyaris pagi. 




Posting Komentar

0 Komentar