Tinondeian Bagian 3
Oleh Iswan Sual
Naga Menelepon
Saat sedang asik-asiknya memainkan sepuluh jari di atas
papan tuts, tiba-tiba telpon genggamku bergetar. Aku sengaja tak menghidupkan
nada deringnya karena tadi ada rapat singkat Pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa
dengan panitia Probinas. Aku lupa mengaktifkannya kembali.
Dengan mata yang tetap konsentrasi pada layar komputer,
kuterima teleponnya.
“Halo…”.
Ku lembutkan suaraku seperti biasanya. Begitulah
seorang public figure harus berlaku. Seperti itulah teori yang aku tarik
setelah mengutip setiap pengalaman hidup kakak seniorku ketika mereka memegang
jabatan dalam kampus.
“Halo…ini kak Toar?”, tanya suara yang berada di ujung
telepon. Suara seorang gadis. Suara lembut menggundang yang tak aku kenal. Bukan
suara pacarku.
“Siapa ini?”
“Ini Tineke…mahasiswa baru yang minta nomor HP kakak
tadi malam.” Dalam sekejab kurasakan darahku memanjat ke kepala. Wajah dan
telingaku serasa panas. Aku gugup…ya… aku gugup.
Kegugupan yang semestinya tak perlu. Tapi aku berupaya
menakhlukannya. Ku bayangkan gadis yang aku lamunkan saat aku mandi tadi. Teleponnya
sebenarnya sudah kunanti-nantikan.
“Benar, ini Toar. Kenapa? Ada yang bisa dibantu? Namamu
siapa? Kurang jelas tadi.”
“Namaku Tineke…Begini kak…aku cuma mau bilang kalau aku
juga termasuk dalam kepanitiaan acara “Malam Budaya” nanti. Aku di seksi acara.
Begini, soalnya, si Ardi yang jadi ketua panitia…dia tidak banyak tahu soal
organisasi. Jadi …kak pada saat pemilihan ketua panitia, kebutulan aku ke toilet
jadi tidak tahu menahu dengan pemilihannya”.
Bicaranya tak karuan. Wah angkuh benar si cewek ini!,
pikirku.
“Kamu tak harus jadi ketua kan…supaya bisa bekerja
dalam kepanitiaan itu? Kalau nanti ada kesulitan, nanti teman-teman panitia
Probinas dan pengurus BEM1 yang akan membantu.
Acara itu sengaja diserahkan kepada kalian untuk
menguji sampai dimana kemampuan kalian mempraktekan teori-teori yang diperoleh
sewaktu mengikuti Probinas,” kataku lantang.
Aku tak peduli kalau-kalau si gadis itu jengkel dengan perkataanku
atau tidak. Dia sudah terlebih dahulu terlalu lancang. Anggap saja itu
pelajaran buat dia yang suka meremehkan orang.
“Eh…sebenarnya kamu orang mana? Jakarta ya? Gara-gara
kamu bicaraku jadi seperti kamu sekarang ini. Aku jadi sekarang bicara dalam logat
Jakarta.”
“Iya kak...aku memang asli Jakarta.”
“Oh begitu…ya sudah. Besok kamu hadir dalam rapat
perdananya. Trus, usulkan ide-ide cemerlangmu supaya acaranya bisa sebagus dan
semeriah mungkin,” kataku menyarankan dengan nada seperti orang bijak.
“Ok….makasih ya kak,” sahutnya dingin.
Tahu akan hal itu aku hanya senyum menyeringai.
Sebenarnya percakapan di sore ini tak ingin cepat-cepat
aku akhiri. Tapi sebagai seorang pimpinan organisasi mahasiswa, sepertinya, aku
harus bersikap bijak demi menjaga citra saya dan wibawa organisasi. Atau
mungkin juga karena aku menerapkan taktik tarik ulur. Taktik jual mahal mungkin
lebih tepat istilah untuk itu.
Lebih dari itu, aku rasa, aku mencium bau-bau cinta
dari Tineke. Bisa saja bau-bau cinta dari diriku sendiri. Aku tak mau terlalu
cepat masuk dalam jeratan cintanya. Lagipula aku tidak jomblo. Aku sedang
memiliki seorang gadis Tondano yang cantik dan kucintai. Ya aku mencintainya. Aku
men….
Dia juga mencintaiku apa adanya.
Dia sangat peduli denganku. Dia memperhatikanku saat
aku sedang susah dan senang. Hanya saja….kalau dievaluasi secara keseluruhan, dia
bukan tipeku. Sejujurnya. Dia memiliki banyak sifat dan sikap yang tak aku
sukai.
Dia terlalu posesif dan suka merajuk serta tak suka
menyelesaikan masalah dengan komunikasi. Dia lebih memilih untuk tidak
berdebat. Menyimpannya dan suatu saat bisa meledak.
Namun aku tak bisa begitu saja mencampakkannya tanpa
sebab yang jelas. Yang paling pokok adalah sangat susah menghapusnya dalam
benakku karena dia yang mengambil keperjakaanku. Dia yang mengajarkanku
bercinta untuk pertama kali. Sungguh balas budi yang tak masuk akal. Sungguh
politik etis dengan logika yang sukar dipahami. Menurutku seperti itu. Orang
mau pikir lain, terserah!
Masih ku ingat saat-saat awal ketika kami baru saja
berpacaran. Kami bagai magnet bagi satu sama lain.
- BEM singkatan dari Badan Eksekutif Mahasiswa. Lembaga Pemerintahan Mahasiswa Tingkat Fakultas.

0 Komentar