Tinondeian
Karya Iswan Sual, SS.
Bukan Perploncoan
2 minggu kemudian.
Waktu yang sangat menjengkelkan buat kebanyakan peserta akhirnya usai
sudah. Kebebasan, mulai besok, sudah bisa dinikmati dan dirayakan. Tak ada lagi
bentakan senior dan seniorita. Semuanya akan biasa-biasa saja, tak ada yang
menyuruh ini dan itu.
Malam ini adalah terakhir kalinya para peserta Program Pengenalan dan
Pembinaan kampus (Probinas) mengenakan pakaian atau kostum dan aksesoris yang
membuat mereka kelihatan seperti orang gila dan bodoh. Topi petani, tas yang
dibuat dari karung dan lain-lain mulai ditanggalkan.
Acara penutupan selesai.
Panitiapun menyuruh pesertanya supaya segera pulang. Anehnya, hingga
sekarang mereka masih juga bertahan. Ada yang mengajak senior dan seniorita
untuk foto bersama, adapula yang meminta supaya kaos Probinas mereka dibubuhi
tanda tangan. Yang paling berani, ada yang meminta nomor telepon senior atau
seniorita yang mereka kagumi waktu probinas masih berlangsung.
Malam semakin larut.
Angin dan udara dingin mulai membuat kami menggigil. Tanpa diminta, kini
para mahasiswa baru ini membentuk barisan memanjang. Saling jabat tanganpun
jadilah antara mahasiswa baru dan lama.
Dan tanpa kusangka seorang gadis berdiri tepat di depanku .
“Kak…” dengan senyum yang mempesona “Boleh tidak….aku minta nomor HP
kakak?”
Aku kaget terpaku.
Hampir tidak bisa berkata apa-apa. Dek-dekan.
Pertanyaan dari seorang gadis yang tadi pagi sempat kuperhatikan tingkah
lakunya membuatku jatuh di atas busa-busa cinta.
Sapanya bak petir menyambar menghentakkan seluruh makhluk yang
dilewatinya. Ini tidak pernah kuimpikan bakal terjadi. Padahal tadi pagi, waktu
kami bertemu pandang, wajah sinis yang aku lihat dari dia.
Dengan cepat-cepat ku lontarkan pula:
“Nomor HP kamu berapa?”
Seperti disihir, tanganku mulai melaksanakan perintah, meraba-raba kantong
celana bagian belakang. Ku keluarkan dompetku dan kuambil kartu nama berwarna
merah. Dalam kartu nama itu sudah ada nomor ponselku. Namun sudah expired-tak
berlaku.
Kutuliskan nomor ponselku di belakangnya....
“Aku takkan memberikan nomorku kalau kamu tak memberikan nomormu,”
kataku.
Perkataanku sia-sia. Terucap sesudah kartuku telah digenggam tangannya.
Aku kikuk. Kakuh………..
Setelah beberapa menit hilang, kesadaranku kembali. Ku dapati antrian
panjang yang terhenti dari para mahasiswa baru. Itu kian membuatku gugup.
Mahasiswa baru berikutnyapun mendapat giliran untuk berjabat tangan
denganku.
Aku sadar bahwa ternyata aku tak sempat memperoleh nomor posel si gadis
cantik yang berperawakan besar tadi.
“Trus kira-kira bagaimana ya supaya aku bisa berbincang-bincang lagi
dengannya? Ah bodoh! Ini gara-gara aku terlalu gugup dan tak bisa mengontrol
emosiku. Aku terlalu meluap-luap,” keluhku sambil memaki dalam bisu.
Bayangan gadis elok itu tak bisa minggat.
Rasa penyesalan menggangguku sepanjang barisan mahasiswa baru yang cukup
panjang itu bergerak.
Kelakuanku berubah.
Senyum lebar sedikit memudar. Tanganku menjabat mereka tapi pandanganku
melanglangbuana tak tahu kemana.
Buyar!
Sesekali mataku menyisiri ruangan mencari-cari posisi si gadis yang
meminta nomor ponselku barusan. Aku merasa begitu kehilangan.
Aku kehilangan sesuatu yang belum kumiliki.
Sungguh bertentangan dengan hukum: kamu harus mendapat dulu sebelum kamu
kehilangan.
Setelah semua mahasiswa baru pulang, para panitia berkumpul untuk mengevaluasi
keseluruhan pelaksanaan Probinas.
Juga sempat dibicarakan tentang acara inagurasi yang diberi nama acara “Malam
Budaya”. Program ini masih serangkaian dengan Probinas.
Acara yang dinamai “Malam Budaya”, sebenarnya hanya sebagai kamuflase
saja.
Tak beda konsepnya dengan acara inagurasi. Kami terpaksa harus
menyimpang karena ada larangan pihak pimpinan fakultas yang tak memiliki
landasan yang kokoh.
Pimpinan perguruan tinggi melarang pelaksanaan inagurasi yang menurut
mereka beresiko. Apalagi kalau dilakukan di luar kampus.
Rapat berakhir kira-kira pukul 01.00. Hampir tiba ayam berkokok menjelas
tengah malam.
Dan seperti biasa, aku langsung menuju sekretariat BEM saat semua usai.
Beberapa menit kemudian aku sudah tak sadarkan diri. Padahal tempat
tersebut banyak nyamuknya.
Mungkin aku terlampau letih. Kecapean tak menjadi pemicu yang paling
munjarab untuk tidur nyenyak.
Biasanya aku susah tidur. Tambah lagi banyak pikiran.
***
Besoknya……
Tok..Tok…Tok…Tok…Tok…Tok
Terdengar suara gedoran pada pintu. Dikuti dengan suara seorang lelaki.
“To….Toar…To!”.
Segera ku terjaga dan terbangun dari sofa.
Pada saat itu juga suara di balik pintu bisa ku kenali.
“Hei! Ini masih terlalu pagi,” tegurku dengan suara khas orang yang baru
bangun tidur. Telapak tanganku kugosok-gosokan di wajah. Memastikan tak ada
iler atau kotoran mata.
“Semalam kamu tidur dimana? Di
belakang…sama teman-teman ya?” tanyaku sambil membawa keluar tubuhku dari
ruangan. Agak canggung. Keadaan ruangan sedang kacau.
“Iya nih…aku ngantuk sekali tadi malam. Jadi tak sempat ikut rapat,”
jawab Stanly sedikit malu. Merasa diri sedikit tak bertanggungjawab.
Tanpa ada komando, kami berdua langsung masuk ruangan dan duduk di atas
sofa yang berwarna krem dan coklat.
Baru saja kami duduk, datanglah adikku. Diskusi pun dimulai tanpa
menentukan topik apa yang akan dibicarakan.
“Menurutku ada yang aneh tadi malam,” si Stanly membuka diskusi sambil
menaikan kedua kakinya di atas sofa. “Sepanjang Probinas yang aku tahu, probinas
tahun inilah yang unik. Para peserta benar-benar menjadi dekat dengan para
panitia dan senior.”
“Itu karena tahun ini sistem perpeloncoan telah dihapus. Tambah lagi,
materi yang disajikan sesuai dengan esensi Probinas itu sendiri dan bebas dari
penonjolan salah satu ideologi organisasi ekstra kampus,” sambung adikku.
“Aku setuju dengan kamu Hanstien. Bayangkan, Probinas sudah ditutup...trus
mereka sudah saya suruh pulang, tapi mereka malah bertahan dan mengajak kita
berfoto-foto lagi”.
“Hahahahahahahaha….”
Memang format Probinas tahun ini lain.
Format yang bebas dari kekerasan fisik dan psikologis. Tak seperti
sewaktu aku jadi mahasisa baru dulu. Kami diperlakukan dengan semena-mena oleh
para senior dan panitia. Secara tidak langsung kami diajar untuk menyepelehkan
junior kami nanti. Kami jadi ingin
cepat-cepat berada di semester atas agar dapat membalaskan itu pada adik-adik
semester.
Aku berharap Probinas dengan format seperti tahun ini diberlakukan
secara berkelanjutan supaya ada perubahan positif di kampus. Kampus harus jadi
tempat pembentukan karakter dan menciptakan peradaban yang lebih baik. Bukan
sebaliknya.
Benarlah istilah yang mengatakan: “Sekolah sebagai pusat kebudayaan”.
Diskusi kami berlanjut hingga menjelang siang hari. Sampai para
mahasiswa berdatangan untuk kuliah.
Setelah sadar dengan itu, kamipun bubar.
Ingatan untuk membersihkan diri dari bau badan dan bermacam daki muncul.
Aku memilih mandi di Tataaran yang adalah pemukiman paling dekat dengan
kampus.
Dari segi transportasi, sangat memuaskan.
Tataaran memiliki banyak rumah kos untuk mahasiswa. Pendapatan utama
masyarakat Tataaran adalah dari sewa kamar kos.
Di pemukiman itu terdapat banyak kamar mandi air panas. Inil adalah daya
tarik yang lain.
Mengenai Tataaran, sebaiknya kuceritakan sedikit lebih lebar.
Banyak perubahan yang terjadi di Tataaran. Dulunya ada kebiasaan dari
para pemuda setempat untuk memukuli para mahasiswa yang masih keluar malam di atas
jam 8 malam. Ini berlaku hingga tahun 2005. Bahkan mereka juga sampai masuk
kampus untuk memalak mahasiswa.
Namun lama kelamaan kebiasaan brutal ini hilang setelah mereka menyadari
bahwa sebenarnya mereka hidup bergantung dari para mahasiswa.
Sawah-sawah yang ada disekitar memang luas-luas. Air sangat melimpah.
Tinggal memilih. Mau yang dingin ada. Mau yang panas juga tersedia. Tataaran
adalah surga bagi mereka yang hedonis.
Tataaran juga dikelilingi ladang sawah yang lapang.
Namun sepertinya seiring dengan membludaknya mahasiswa yang datang berkuliah,
para penduduk juga mulai gengsi untuk mandi becek di persawahan. Sumber
pendapatan tadinya bertumpuh pada sawah kini beralih pada rumah kos, rumah
makan dan kios.
Yang kusuka dari Tataaran hanyalah kesejukannya. Jika suhu menjadi
dingin aku lebih memilih mandi air panas di Lorong Pasar.
Sambil menikmati air hangat, tanpa sengaja, aku mengingat lagi kejadian
tadi malam. Wajahku tersenyum melamunkan gadis yang namanya belum kutahu itu.
“Ah… dia tak mungkin menjadi
pacarku. Lagipula aku juga punya pacar yang cantik,”.
“Ha…Toar! Kamu jangan membohongi pikiran dan perasaan mu,” kata sisi
diriku yang lain.
“Diam kau! Aku bukan tipe lelaki yang tidak setia. Aku harus setia pada Wulandari.
Lagipula, belum tentu si gadis itu lebih baik daripada dia.”
Pikiranku berkecamuk. Benak dan hatiku berperang satu sama lain.
Tak ada yang menang dan tak ada yang kalah.
Sehabis mandi aku langsung bergegas kembali ke sekretariat. Sambil
berusaha agar lamunan serong itu lari jauh-jauh. Aku kembali ke kampus dengan
pakaian yang sama.
Keberadaanku setiap hari di ruangan itu karena jabatanku sebagai
presiden Badan Eksekutif Mahasiswa di Fakultasku. Sebagai presiden aku harus
selalu berada di tempat itu agar bisa membangun konsolidasi dan solidaritas
yang mantap di antara sesama pengurus BEM.
Waktu sisa hari itu kuhabiskan untuk melanjutkan pengetikan skripsiku.
Mudah-mudahan minggu depan aku sudah bisa ikut ujian sarjana. Sesuai
harapan orang tua. Dan harapanku juga.
Tambah lagi, aku tak rela berlama di kampus. Tak mau aku membiarkan
orangtuaku menjual beberapa bidang tanah untuk membiayai hidupku yang nyaris
kusia-siakan dengan melakukan hal-hal yang pasti orangtuaku tak inginkan.
Terkadang aku menangis mengingat jerih payah mereka yang hebat.
Menderita karena mencari uang demi kami. Demi aku yang saat ini lebih banyak bersenang-senang
dengan perempuan.
Time is money. Waktu itu adalah uang. Semakin aku berlama-lama, semakin
banyak uang dan sisa-sisa tenaga orangtuaku yang terkuras.
Dalam lubuk hati yang paling dalam, aku tak rela membiarkan mereka
menderita di saat kepala mereka kian beruban.
Betapa durhakanya aku jika berbuat demikian.
Aku harus membuat mereka bangga. Aku harus jadi anak yang baik, seorang
sarjana pertama dalam keluarga kami. Keluarga Sondakh.
Aku tak boleh mengecewakan keluarga. Itu sudah tekadku. “Tapi….kenapa
gaya hidupku seperti ini?”

0 Komentar