NOVEL: Tinondeian Bagian 2 (Bukan Perploncoan)


Tinondeian

Karya Iswan Sual, SS.

Bukan Perploncoan


2 minggu kemudian.
Waktu yang sangat menjengkelkan buat kebanyakan peserta akhirnya usai sudah. Kebebasan, mulai besok, sudah bisa dinikmati dan dirayakan. Tak ada lagi bentakan senior dan seniorita. Semuanya akan biasa-biasa saja, tak ada yang menyuruh ini dan itu.
Malam ini adalah terakhir kalinya para peserta Program Pengenalan dan Pembinaan kampus (Probinas) mengenakan pakaian atau kostum dan aksesoris yang membuat mereka kelihatan seperti orang gila dan bodoh. Topi petani, tas yang dibuat dari karung dan lain-lain mulai ditanggalkan.
Acara penutupan selesai.
Panitiapun menyuruh pesertanya supaya segera pulang. Anehnya, hingga sekarang mereka masih juga bertahan. Ada yang mengajak senior dan seniorita untuk foto bersama, adapula yang meminta supaya kaos Probinas mereka dibubuhi tanda tangan. Yang paling berani, ada yang meminta nomor telepon senior atau seniorita yang mereka kagumi waktu probinas masih berlangsung.
Malam semakin larut.
Angin dan udara dingin mulai membuat kami menggigil. Tanpa diminta, kini para mahasiswa baru ini membentuk barisan memanjang. Saling jabat tanganpun jadilah antara mahasiswa baru dan lama.
Dan tanpa kusangka seorang gadis berdiri tepat di depanku .
“Kak…” dengan senyum yang mempesona “Boleh tidak….aku minta nomor HP kakak?”
Aku kaget terpaku.
Hampir tidak bisa berkata apa-apa. Dek-dekan.
Pertanyaan dari seorang gadis yang tadi pagi sempat kuperhatikan tingkah lakunya membuatku jatuh di atas busa-busa cinta.
Sapanya bak petir menyambar menghentakkan seluruh makhluk yang dilewatinya. Ini tidak pernah kuimpikan bakal terjadi. Padahal tadi pagi, waktu kami bertemu pandang, wajah sinis yang aku lihat dari dia.
Dengan cepat-cepat ku lontarkan pula:
“Nomor HP kamu berapa?”
Seperti disihir, tanganku mulai melaksanakan perintah, meraba-raba kantong celana bagian belakang. Ku keluarkan dompetku dan kuambil kartu nama berwarna merah. Dalam kartu nama itu sudah ada nomor ponselku. Namun sudah expired-tak berlaku.
Kutuliskan nomor ponselku di belakangnya....
“Aku takkan memberikan nomorku kalau kamu tak memberikan nomormu,” kataku.
Perkataanku sia-sia. Terucap sesudah kartuku telah digenggam tangannya. Aku kikuk. Kakuh………..
Setelah beberapa menit hilang, kesadaranku kembali. Ku dapati antrian panjang yang terhenti dari para mahasiswa baru. Itu kian membuatku gugup.
Mahasiswa baru berikutnyapun mendapat giliran untuk berjabat tangan denganku.
Aku sadar bahwa ternyata aku tak sempat memperoleh nomor posel si gadis cantik yang berperawakan besar tadi.
“Trus kira-kira bagaimana ya supaya aku bisa berbincang-bincang lagi dengannya? Ah bodoh! Ini gara-gara aku terlalu gugup dan tak bisa mengontrol emosiku. Aku terlalu meluap-luap,” keluhku sambil memaki dalam bisu.
Bayangan gadis elok itu tak bisa minggat.
Rasa penyesalan menggangguku sepanjang barisan mahasiswa baru yang cukup panjang itu bergerak.
Kelakuanku berubah.
Senyum lebar sedikit memudar. Tanganku menjabat mereka tapi pandanganku melanglangbuana tak tahu kemana.
Buyar!
Sesekali mataku menyisiri ruangan mencari-cari posisi si gadis yang meminta nomor ponselku barusan. Aku merasa begitu kehilangan.
Aku kehilangan sesuatu yang belum kumiliki.
Sungguh bertentangan dengan hukum: kamu harus mendapat dulu sebelum kamu kehilangan.
Setelah semua mahasiswa baru pulang, para panitia berkumpul untuk mengevaluasi keseluruhan pelaksanaan Probinas.
Juga sempat dibicarakan tentang acara inagurasi yang diberi nama acara “Malam Budaya”. Program ini masih serangkaian dengan Probinas.
Acara yang dinamai “Malam Budaya”, sebenarnya hanya sebagai kamuflase saja.
Tak beda konsepnya dengan acara inagurasi. Kami terpaksa harus menyimpang karena ada larangan pihak pimpinan fakultas yang tak memiliki landasan yang kokoh.
Pimpinan perguruan tinggi melarang pelaksanaan inagurasi yang menurut mereka beresiko. Apalagi kalau dilakukan di luar kampus.
Rapat berakhir kira-kira pukul 01.00. Hampir tiba ayam berkokok menjelas tengah malam.
Dan seperti biasa, aku langsung menuju sekretariat BEM saat semua usai.
Beberapa menit kemudian aku sudah tak sadarkan diri. Padahal tempat tersebut banyak nyamuknya.
Mungkin aku terlampau letih. Kecapean tak menjadi pemicu yang paling munjarab untuk tidur nyenyak.
Biasanya aku susah tidur. Tambah lagi banyak pikiran.

***

Besoknya……
 Tok..Tok…Tok…Tok…Tok…Tok
Terdengar suara gedoran pada pintu. Dikuti dengan suara seorang lelaki.
“To….Toar…To!”.
Segera ku terjaga dan terbangun dari sofa.
Pada saat itu juga suara di balik pintu bisa ku kenali.
“Hei! Ini masih terlalu pagi,” tegurku dengan suara khas orang yang baru bangun tidur. Telapak tanganku kugosok-gosokan di wajah. Memastikan tak ada iler atau kotoran mata.
 “Semalam kamu tidur dimana? Di belakang…sama teman-teman ya?” tanyaku sambil membawa keluar tubuhku dari ruangan. Agak canggung. Keadaan ruangan sedang kacau.
“Iya nih…aku ngantuk sekali tadi malam. Jadi tak sempat ikut rapat,” jawab Stanly sedikit malu. Merasa diri sedikit tak bertanggungjawab.
Tanpa ada komando, kami berdua langsung masuk ruangan dan duduk di atas sofa yang berwarna krem dan coklat.
Baru saja kami duduk, datanglah adikku. Diskusi pun dimulai tanpa menentukan topik apa yang akan dibicarakan.
“Menurutku ada yang aneh tadi malam,” si Stanly membuka diskusi sambil menaikan kedua kakinya di atas sofa. “Sepanjang Probinas yang aku tahu, probinas tahun inilah yang unik. Para peserta benar-benar menjadi dekat dengan para panitia  dan senior.”
“Itu karena tahun ini sistem perpeloncoan telah dihapus. Tambah lagi, materi yang disajikan sesuai dengan esensi Probinas itu sendiri dan bebas dari penonjolan salah satu ideologi organisasi ekstra kampus,” sambung adikku.
“Aku setuju dengan kamu Hanstien. Bayangkan, Probinas sudah ditutup...trus mereka sudah saya suruh pulang, tapi mereka malah bertahan dan mengajak kita berfoto-foto lagi”.
“Hahahahahahahaha….”
Memang format Probinas tahun ini lain.
Format yang bebas dari kekerasan fisik dan psikologis. Tak seperti sewaktu aku jadi mahasisa baru dulu. Kami diperlakukan dengan semena-mena oleh para senior dan panitia. Secara tidak langsung kami diajar untuk menyepelehkan junior kami nanti. Kami  jadi ingin cepat-cepat berada di semester atas agar dapat membalaskan itu pada adik-adik semester.
Aku berharap Probinas dengan format seperti tahun ini diberlakukan secara berkelanjutan supaya ada perubahan positif di kampus. Kampus harus jadi tempat pembentukan karakter dan menciptakan peradaban yang lebih baik. Bukan sebaliknya.
Benarlah istilah yang mengatakan: “Sekolah sebagai pusat kebudayaan”.
Diskusi kami berlanjut hingga menjelang siang hari. Sampai para mahasiswa berdatangan untuk kuliah.
Setelah sadar dengan itu, kamipun bubar.
Ingatan untuk membersihkan diri dari bau badan dan bermacam daki muncul.
Aku memilih mandi di Tataaran yang adalah pemukiman paling dekat dengan kampus.
Dari segi transportasi, sangat memuaskan.
Tataaran memiliki banyak rumah kos untuk mahasiswa. Pendapatan utama masyarakat Tataaran adalah dari sewa kamar kos.
Di pemukiman itu terdapat banyak kamar mandi air panas. Inil adalah daya tarik yang lain.
Mengenai Tataaran, sebaiknya kuceritakan sedikit lebih lebar.
Banyak perubahan yang terjadi di Tataaran. Dulunya ada kebiasaan dari para pemuda setempat untuk memukuli para mahasiswa yang masih keluar malam di atas jam 8 malam. Ini berlaku hingga tahun 2005. Bahkan mereka juga sampai masuk kampus untuk memalak mahasiswa.
Namun lama kelamaan kebiasaan brutal ini hilang setelah mereka menyadari bahwa sebenarnya mereka hidup bergantung dari para mahasiswa.
Sawah-sawah yang ada disekitar memang luas-luas. Air sangat melimpah. Tinggal memilih. Mau yang dingin ada. Mau yang panas juga tersedia. Tataaran adalah surga bagi mereka yang hedonis.
Tataaran juga dikelilingi ladang sawah yang lapang.
Namun sepertinya seiring dengan membludaknya mahasiswa yang datang berkuliah, para penduduk juga mulai gengsi untuk mandi becek di persawahan. Sumber pendapatan tadinya bertumpuh pada sawah kini beralih pada rumah kos, rumah makan dan kios.
Yang kusuka dari Tataaran hanyalah kesejukannya. Jika suhu menjadi dingin aku lebih memilih mandi air panas di Lorong Pasar.
Sambil menikmati air hangat, tanpa sengaja, aku mengingat lagi kejadian tadi malam. Wajahku tersenyum melamunkan gadis yang namanya belum kutahu itu.
 “Ah… dia tak mungkin menjadi pacarku. Lagipula aku juga punya pacar yang cantik,”.
“Ha…Toar! Kamu jangan membohongi pikiran dan perasaan mu,” kata sisi diriku yang lain.
“Diam kau! Aku bukan tipe lelaki yang tidak setia. Aku harus setia pada Wulandari. Lagipula, belum tentu si gadis itu lebih baik daripada dia.”
Pikiranku berkecamuk. Benak dan hatiku berperang satu sama lain.
Tak ada yang menang dan tak ada yang kalah.
Sehabis mandi aku langsung bergegas kembali ke sekretariat. Sambil berusaha agar lamunan serong itu lari jauh-jauh. Aku kembali ke kampus dengan pakaian yang sama.
Keberadaanku setiap hari di ruangan itu karena jabatanku sebagai presiden Badan Eksekutif Mahasiswa di Fakultasku. Sebagai presiden aku harus selalu berada di tempat itu agar bisa membangun konsolidasi dan solidaritas yang mantap di antara sesama pengurus BEM.
Waktu sisa hari itu kuhabiskan untuk melanjutkan pengetikan skripsiku.
Mudah-mudahan minggu depan aku sudah bisa ikut ujian sarjana. Sesuai harapan orang tua. Dan harapanku juga.
Tambah lagi, aku tak rela berlama di kampus. Tak mau aku membiarkan orangtuaku menjual beberapa bidang tanah untuk membiayai hidupku yang nyaris kusia-siakan dengan melakukan hal-hal yang pasti orangtuaku tak inginkan.
Terkadang aku menangis mengingat jerih payah mereka yang hebat. Menderita karena mencari uang demi kami. Demi aku yang saat ini lebih banyak bersenang-senang dengan perempuan.
Time is money. Waktu itu adalah uang. Semakin aku berlama-lama, semakin banyak uang dan sisa-sisa tenaga orangtuaku yang terkuras.
Dalam lubuk hati yang paling dalam, aku tak rela membiarkan mereka menderita di saat kepala mereka kian beruban.
Betapa durhakanya aku jika berbuat demikian.
Aku harus membuat mereka bangga. Aku harus jadi anak yang baik, seorang sarjana pertama dalam keluarga kami. Keluarga Sondakh.
Aku tak boleh mengecewakan keluarga. Itu sudah tekadku. “Tapi….kenapa gaya hidupku seperti ini?”




Posting Komentar

0 Komentar