Tinondeian
Karya Iswan Sual, SS.
I. RINDU DARI MAKASSAR
TO, KAMU INI benar-benar sudah dibutakan oleh cinta.
Harusnya sekarang kamu belajar. Sebentar lagi sesi debat berikutnya dimulai.
Ingat, kita harus jadi juara. Kita sudah jauh-jauh dari Tondano, masa tidak
membawa hasil,” kata temanku sesudah memperhatikan tingkahku yang mungkin aneh
bagi dia.
Tak sedikitpun ku gubris.
Rupanya dia merasa sedikit resah dengan aku yang dari
tadi hanya sibuk dengan ponselku yang teramat usang.
Temanku yang bernama Prym itu terus menggodaku. Dia terus
memberi komentar. Padahal aku tak sedikitpun berbicara. Mungkin sengaja dia
lakukan untuk membuka rahasia pribadiku di depan dosen kami.
Pernyataannya yang sengaja diperdengarkan itu pastinya
mengundang tanya dosen kami.
Mada’am Mickapun memberi komentar ironiknya.
“Toar, what is your girl friend’s origin?1”
selidik dosenku.
“She is Tondanonese. I’m sure2.”
“Wow…you’d better discontinue the relationship. You’re
gonna suffer. Find the other one. The better one. At least, eventhough not a
Tontemboanese, but never with Tondanonese3.”
Aku terdiam seribu bahasa.
Merenungkan kata-kata menyakitkan itu. “Sungguh penuh
dengan bias,” pikirku.
Hatiku berbicara secepat kendaraan yang lalu lalang di
depan mataku di kejauhan.
Pikiranku mencari-cari fakta-fakta pendukung untuk
memperkuat argumen. Tapi tak sanggup berdebat.
Kupikir dia salah. Dosen bergelar doktor itu telah
membuat kekeliruan besar. Dia pasti telah membuat penyamarataan.
Dari pengalaman, tak bisa dipungkiri, memang gaya
hidup gadis Tondano, menurutku, agak berlebihan.
Konsumeris.
Tapi itu tak berarti mereka seburuk itu.
Aku akan buktikan bahwa semua yang dikatakan dosen
jebolan University of Melbourn itu salah.
“Ini adalah stigmatisasi,” tambahku dalam benak
memperkuat semua mosi-mosi argumen bisu.
Sungguh sedikit mengherankan.Tak tahu mengapa telah
menyebar suatu pemikiran bahwa orang Minahasa terkenal dengan istilah “Biar
kalah nasi, asal jangan kalah aksi4”.
Kalau dipikir-pikir, jujur aku akui, (orang Minahasa
secara umum perlu mengakuinya) bahwa persepsi itu benar dari sudut pandang yang
lain. Umumnya, kenyataan menunjukkan, begitulah yang terjadi.
Orang Minahasa secara sinis juga di sebut “Menang
Tampang Doang5”. Pandangan yang benar dari satu sisi.
Tidak objektif.
Tarikan kesimpulan dengan hanya berdasar dari suatu
kenyataan adalah sesat.
Rupanya banyak orang lupa bahwa Sam Ratulangi adalah
tokoh nasional. Dia adalah gubernur Sulawesi pertama. Dia ganteng dan berotak.
Babe Palar adalah tokoh nasional. Dia juga adalah duta besar Indonesia pertama
di PBB.
Tampangnya juga keren. Angelina Sondakh adalah mantan
putri Indonesia. Sekarang adalah seorang wakil rakyat di parlemen tingkatan
teratas.
Dia cantik. Dan dia pastinya berotak.
Ada pula deretan nama lainnya yang berkiprah di
tingkat nasional seperti Theo Sambuaga, Marhany Pua, E.E. Mangindaan, S.H.
Sarundajang, Johny Lumintang, Fentje Rumangkang, Dirly Sompie, dan lain
sebagainya. Tidak akan cukup daftar jika semua disebutkan.
Masih banyak orang Minahasa yang bisa dijadikan contoh
dan bukti bahwa label “Biar kalah nasi, yang penting nda kalah aksi” dan “Menang
Tampang Doang” itu keliru. Kita lihat saja nanti. Waktu yang akan menguji dan
membenarkan setiap teori.
Wulandari, pujaan hatiku, bukan tipe gadis seperti itu
menurutku. Tak ku temukan sedikitpun dia mau mengikisku perlahan. Tidak ada
signal sedikitpun dia akan menipuku. Lagipula dua juga bukan jenis perempuan
yang terlalu mementingkan mode. Dia gadis Tondanoku yang lain dari yang lain.
Gadis Minahasa sejati.
Walaupun tidak berdandan berlebihan, Wulandari tetap
kelihatan cantik. Kenyataan berbicara bahwa tampang orang Minahasa, walaupun
dengan kostum seadanya tetap saja kelihatan berkelas dan berada. Ini adalah
anugerah tersendiri untuk orang Minahasa.
Walaupun, yang memiriskan, kelebihan dalam hal tampang
ini membuat banyak gadis Minahasa dijadikan sebagai wanita penghibur di banyak
tempat di Indonesia bahkan sampai di belahan dunia lain. Ini adalah efek
negatif. Namun, ini tidak mengherankan. Orang selalu mencari yang terbaik.
Bukan yang terburuk.
Barangkali dua label di atas hanyalah pernyataan sinis
dari orang yang merasa irih dengan kelebihan orang Minahasa.
Suku manapun dengan kualitas unggul akan menjadi
rebutan dunia. Itulah yang dialami kami sebagai bangsa unggul.
__________________________
- “Dari mana asal pacarmu?”
- “Dia orang Tondano. Saya yakin.”
- “Kamu sebaiknya tidak meneruskan hubungan itu. Kamu bakal menderita. Carilah yang lain. Paling tidak, walau bukan Tontemboan, yang penting bukan Tondano.”
- Walaupun tidak makan yang penting bergaya (Melayu Manado)
- Menang tampang doang adalah singkatan plesetan dari kata Menado.

0 Komentar