Oleh: Denni Pinontoan
Tanggal
2 Maret 1957 malam, seorang pemuda keturunan Arab, Jawa dan Minahasa harus
memilih jalan lain dalam hidupnya. Ia
memilih untuk berjuang bersama Permesta ketimbang berangkat ke Surabaya untuk
sekolah. Dia juga harus melepas pekerjaannya sebagai Pegawai Negeri di kantor
Jawatan Pertanian Rakyat Maluku Utara. Pemuda itu, bernama Arifin Assagaf.
Usianya masih 26 tahun lebih 3 bulan.Ayahnya, seorang yang punya jabatan di Maluku Utara,
bingung setengah mati.
Kabar Proklamasi Perjuangan Rakyat
Semesta (Permesta) yang diumumkan oleh Ventje Sumual dan kawan-kawan di
Makassar cepat menyebar ke seluruh nusantara. Proklamasi Permesta diumumkan
pada 2 Maret 1957 di Gubernuran Makassar. Pengumuman itu diambil dalam sebuah
pertemuan yang berlangsung dari jam 03.00 sampai jam 06.00 sore.
Arifin
pada malam itu berada di atas kapal yang sedang bersiap-siap menuju ke
Surabaya. Tak pikir panjang Arifin turun dari kapal. Di tangannya ada selebaran
Proklamasi Permesta. Secara tiba-tiba dia urungkan niatnya ke Surabaya
gara-gara membaca selebaran itu. Semangatnya berkobar.
”Saatnya
melawan diskriminasi yang dilakukan oleh pemerintah pusat terhadap rakyat di
Indonesia bagian Timur,” pikirnya.
Dia
segera berkeliling kota Ambon dan menyebarluaskan naskah kopian Proklamasi
Permesta. Diskriminasi yang dilakukan oleh pemerintah pusat, baginya sudah
berada di luar batas toleransi. Dia mengingat kejadian awal tahun 1956. Waktu
itu dia dan satu temannya dari Maluku Utara mendapat rekomendasi dari
pemerintah daerah untuk belajar ke luar negeri. Rencananya Arifin akan ke
Kanada. Temannya yang satu akan Fransisco, Amerika. Namun, pada saat sudah mau
berangkat, rencana itu batal.
Pemerintah
pusat merubah jumlah peserta yang akan belajar ke luar negeri. Dari rencana 60
berubah menjadi hanya 50 orang. Beberapa orang dari Indonesia Timur dieliminir,
termasuk Arifin dan teman yang sama-sama dari Maluku Utara. ”Kebanyakan yang
dikirim pemuda-pemudi dari Jawa saja.”
Kejadian
itu membekas di hatinya. ”Semua Jawa. Orang-orang Jawa saja yang
diprioritaskan pemerintah!”
Arifin
tidak menerima cara-cara pemerintah pusat seperti itu. Meski sebenarnya di
dalam dirinya mengalir darah Jawa, yaitu dari neneknya. Tapi, bagi Arifin,
pembedaan itu adalah bentuk ketidakadilan. Naskah Piagam Permesta yang ada
ditangannya menegaskan kritik terhadap sentralisme yang dilakukan oleh
pemerintah pusat di Jakarta.
Salah
satu poin dalam ”Piagam Perdjoangan Semesta” menyebutkan: ”Penerimaan2 siswa di
tempat-tempat pendidikan penting dalam negeri dan pengiriman2 siswa ke luar
Negeri harus diberi quotum jang vast untuk Indonesia Bagian Timur.” Itu sangat
pas dengan pengalaman Arifin di awal tahun 1956 itu.
Diskriminasi
yang dialami oleh rakyat Indonesia Bagian Timur, dalam pandangan Arifin sangat
bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang dia yakini. ”Dalam Islam,
diskriminasi haram hukumnya.Juga tentu agama-agama lain yang percaya kepada
kedaulatan Tuhan. Itu dilarang.”
Tekad
Arifin muda berjuang dalam Permesta sangat bulat. Segera setelah mengambil
keputusan untuk berjuang dalam Permesta, dia ke Manado. Di sini dia bergabung
di Kompi II Permesta sebagai staff. Di kompi itu, ada temannya Jan Torar dan Kumontoy. Tak
beberapa lama kemudian, dia ke Ternate. Waktu ke Ternate, waktu itu naik
perahu. Di sana dia sempat
menjadi kepala staff, semacam kodam sekarang. ”Torang pe pangkat waktu itu ja
ator sandiri. Jadi, bisa dengan cepat menjadi pimpinan.”
Wilayah
perjuangan Permesta meliputi hampir semua bagian Indonesia Timur. Dari
Makassar, Minahasa sampai Irian Jaya. Pemimpin Permesta di Maluku dan Irian
Barat adalah Jan Maximilian Johan Pantow, atau biasa disapa Noen (Nun) Pantow. Ia menjabat Komandan KDP-I ADREV
PRRI di Maluku-Irian Barat.
Arifin
termasuk tokoh Permesta yang tetap konsisten dengan perjuangannya. Karena tidak
mau menyerah, akibatnya dia beberapa tahun mendekam di penjara. Pertama di
Ternate, kemudian dipindahkan ke Ambon, ke Surabaya, Semarang, Madiun dan
terakhir di Nusa Kambangan.
"Ketika
saya ditangkap, anak saya pertama baru berumur 8 bulan dan nanti ketemu lagi
pada usianya yang tiga tahun. Sampai-sampai dia tidak mengenal saya sebagai
ayahnya. Anak saya itu diberi nama Taufik Permesta Assagaf Putra."
Setelah
bebas dari Nusa Kambangan, Arifin langsung ke Manado. Dia menetap di Kampung Arab,
Manado. Waktu itu dia
dilarang masuk ke Maluku Utara tanpa ijin.
![]() |
| Penulis dan KH. Arifin Assagaf. (Rokok dan Kopi Hitam Teman Mereka Berdiskusi) |
KINI, Arifin Assagaf sudah uzur. Dia lahir 6 Januari tahun 1931.
Saya mewawancarai dia Kamis 28 Juli 2011 lalu. Arifin tinggal di sebuah rumah
sederhana di Kelurahan Malendeng, Kec. Tikala, Kota Manado. Salah satu bagian
rumahnya dijadikan sebagai Taman Pengajian anak-anak. Waktu saya dan Greenhill
Weol ke rumahnya, anak-anak sementara berkumpul untuk belajar ngaji. Meski
sudah uzur, tapi Arifin masih aktif dalam kegiatan-kegiatan keagamaan. Satu
yang khas padanya adalah rokoh gudang merah dan gudang garam surya yang selalu
menemani dia. Arifin
termasuk perokok berat. Kopi hitam, juga menjadi teman kesayangannya.
Arifin
adalah ulama muslim yang sangat aktif dalam kegiatan-kegiatan lintas agama di
Sulawesi Utara, bahkan Indonesia. Masyaraka, pada umunya mengenal Arifin
sebagai ulama muslim yang aktif dalam gerakan perdamaian. Dia pernah menjadi Ketua Majelis
Ulama Indonesia (MUI) dan Ketua Badan Kerjasama Antar Umat Agama (BKSAUA)
Sulawesi Utara.
Marga
”Assagaf” yang melekat padanya sangat terkait dengan kisah migrasi Islam di
Minahasa. Leluhurnya dari Hadramaut, Arab yang kemudian menjadi tokoh politik,
Islam dan masyarakat di Palembang, Sumatera di masa kolonial. Namun, setengah
dalam dirinya mengalir darah Suratinoyo dari Jawa dan Kawilarang dari Minahasa.
Prof.
EA. Sinolungan pernah mewawancarai KH. Arifin Assagaf pada tahun 2001. Dalam
wawancara itu, KH. Arifin Assagaf menceritakan bahwa datuknya, Raden Syarief
(Sayyid) Abdullah bin Umar Assagaf dari Palembang dibuang Belanda ke
Manado pada tahun 1880. Kemudian pada tahun 1882 pindah ke Kampung Jawa
Tondano. Umar kawin dengan Raden Roro Ruliah Suratinoyo. Ayah Raden Roro Ruliah
Suratinoyo adalah Suratinoyo, waktu itu hukum tua Kampung Jaton. Ibunya, adalah
salah satu anak perempuan Hukum Besar Kawilarang Tondano. Perkawinan inilah
yang menurunkan keturunan Assagaf, yang salah satu generasi keturunannya adalah
K.H. Arifin Assagaf. Sehingga, menurut Arifin, dia dengan Alex Kawilarang,
salah satu tokoh Permesta, masih memiliki hubungan kekeluargaan yang dekat.
Kemudian,
dari perkawinan ketiga datuknya dengan perempuan bernama Meyer (orang Barat),
lahir keturunan keluarga besar Assagaf, antara lain generasinya adalah tokoh NU
Sulut, Hamid Assagaf dari Kampung Arab Manado. Saudara datuknya yang lain ke
Ternate. Dia kawin dengan Raden Ayu Azimah, Putri sultan
Badaruddin II.
Nenek
Arifin adalah generasi kedua komunitas Kampung Jawa Tondano, yang para
leluhurnya dibuang oleh Belanda pada tahun 1831. Mereka dibuang ke Tondano
karena terlibat dalam Perang Jawa atau Perang Dipenogoro yang terjadi pada
tahun 1825 sampai 1830. Waktu itu ada sekitar 70 laki-laki pengikut Kyai Modjo
dari Jawa yang dibuang oleh Belanda ke Manado dan kemudian ditempatkan di
Tondano. Keturunan mereka itulah yang membentuk Kampung Jawa Tondano.
Komunitas
ini berkembang karena terjadi kawin mawin dengan perempuan-perempuan Minahasa.
Arifin mengamini bahwa perjumpaan pengikut Kyai Modjo yang muslim dengan
perempuan-perempuan Minahasa adalah mujizat dari Allah SWT.
Ketika
rombongan pengikut Kyai Modjo datang ke Tondano, waktu itu baru sekitar 22
tahun Perang Tondano (1808-1809) usai. ”Jadi, di masa itu ada semboyan dari
mereka, ’Musuh Belanda, adalah kawan kita. Kawan Belanda adalah musuh kita.
Nah, orang-orang buangan ini adalah musuh Belanda sehingga dengan muda diterima
dan menjadi kawan orang-orang Minahasa,” tutur Arifin.
Orang-orang
Jawa yang dibuang itu adalah orang-orang yang tidak pernah tahu gereja apalagi
mendengar bunyi lonceng gereja. Tiba-tiba mereka dibuang di tengah-tengah
masyarakat yang bukan seagama dengan mereka. ”Jadi, maksud Belanda adalah untuk
menghancurkan mereka. Untung orang-orang Minahasa menerima mereka dengan
terbuka, bahkan merelakan anak-anak perempuan mereka kawin dengan orang-orang
buangan itu.”
”Dengan pengalaman
ini, saya kemudian menemukan makna dari perbedaan itu. Permesta menentang diskriminasi.
Dan, Islam, bagi saya adalah keimanan untuk perdamaian,” tuturnya sambil
meneguk kopi hitam yang hampir dingin.
Sumber: www.minahasaku.com


0 Komentar