Oleh Iswan Sual
Della,
pacarku, mengusulkan supaya kami mampir sebentar di sebuah toko agar dia bisa
membeli sesuatu untuk temannya yang sedang menunggu di kosnya. Usulan itu tak
aku tampik karena memang aku ingin jalan-jalan lagi ke area pertokoan itu. Pasar
swalayan itu adalah pasar modern yang sangat besar. Dulunya kawasan itu begitu
terkenal sehingga orang kampung di pelosok manapun di Minahasa tahu dengan itu.
Sampai-sampai ada teka-teki lucu yang bunyinya begini, “Ada berapa matahari di
Manado Alo?” “Satu,” jawab Alo. Dengan cepat penanya bilang bahwa jawaban Alo
keliru. “Salah Alo!” Matahari yang dimaksud penanya adalah nama toko swalayan
terbesar di Manado. Memang baru saja berdiri Mega Mall. Di situ ada juga Matahari. Penanya ingin mengetes
apakah Alo tahu dengan perkembangan baru itu. Maklum, Alo yang kesehariannya
sebagai magula, jarang pergi ke Manado.
Si Alo salah juga memahami pertanyaan yang dilontarkan itu. Dia menganggap
matahari yang dimaksud penanya adalah secara harafia. Dia dengan setengah
berteriak bilang, “Ado kasiang ngana Yus, sedangkan cuma satu matahari, ngana
lia kamari kita pe kuli so sama deng panta blanga. Apalagi dua!”
Sekarang
gedung banyak tingkat itu tak lagi menjual barang. Melainkan jasa. Telah
menjadi laiknya surya yang memberi
penerangan kepada orang yang masuk dalam gelap sakit. Tapi namanya bukan lagi
Matahari. Sudah berupa menjadi Siloam Hospitals. Rumah Sakit Siloam. Begitulah
bunyinya dalam bahasa Indonesia.
Tujuan
kami saat ini bukan ke situ. Pacarku membawaku ke Singapura. Sebuah toko yang
menjual bermacam-macam kue basah. Tak jauh dari rumah sakit baru itu. Kami
berjalan ke arah pasar 45. Dalam perjalanan aku memperhatikan sekeliling. Berharap
mendapat inspirasi untuk novel yang sementara aku tulis.
Aku
tergugah melihat pemandangan yang membuatku seperti mengalami Dejavu. Aku
melihat sendiri Toar dan Lumimuut baru
bertemu dan menyamakan kedua tongkat mereka. Tampak memang tongkat mereka sudah
tak sama panjang. Mereka boleh menikah. Toar yang dewasa tampak semakin gagah.
Lumimuut yang awet muda buat Toar terperangah.
Rasa
penasaran membuat aku keluar lagi dari toko itu. Bau aneka kue basah yang harum
dan menggoda selera tak bisa menyaingi rasa penasaranku untuk kembali melihat
dua orang yang adalah leluhur orang Minahasa itu. Saat aku keluar terdengar
Toar dan Lumimuut bercakap mesra. Mungkin sedang membahas keturunan mereka, makatelu
pitu yang kawin campur dengan Makarua Siow. Aku mendekat. Nekat.
Memastikan apa yang sedang kulihat.
“So
brapa ngana pe kacang da laku?” tanya Toar. Tangan kirinya memegang se kotak
halua. Sedang tangan kanannya mengusap-usap tongkat berwarna abu-abu.
“Mana
mo laku ni kacang tore ini. Torang sala tampa ini sto no. Co ngana bobow, pe
sadap skali tu kukis di dalam no. Nda ada orang Manado mo makang kacang tore
atau halua kete di saman sekarang. Asi ngana tahu bagimana orang Manado sekarang
pe gengsi,” kata Lumimuut.
Sudah
lama rupanya dua orang tunanetra ini
berdiri di depan toko kue itu. Nasib mempertemukan mereka. Toar tampak begitu rapih. Gayanya
seperti seorang dosen. Sedangkan Lumimuut mirip keke yang dikirim ke
Taiwan atau Singapura. Busananya santai. Potongan rambutnya yang pendek ditambah
celananya yang juga pendek semakin mengukuhkan kemiripannya dengan seorang TKW
yang baru saja pulang membawa dolar.
“Halua!
Halua…halua kacang!” teriak lelaki tunanetra itu lantang. Si perempuan
tunanetra diam saja.
Mungkin
pemilik toko kue basah itu terusik. Seorang cleaning service keluar
dengan sapu. Sungguh tak sopan dia. Sudah tahu ada orang, lalu dia tetap mau
bersih-bersih. Mubazir. Tak ada guna menyapu pada lantai yang dilewati tak
hentinya oleh orang yang lalu lalang di depannya. Aku berdiri saja di depan
toko walaupun tahu dia akan menyapu lantai di mana aku berdiri. Karena tak
bergeser dan mataku menatapnya tajam, dia pun sadar bahwa aku harus diperlakuan
istimewa. Dia ingat bahwa pembeli ada raja. Aku berpotensi menjadi seorang
pembeli.
Dia
mengganti arah.
Dia
menyapu ke arah sepasang tunatetra itu. Dia tahu mereka tak bisa melihat. Dia
menyapu terus walau abu berhamburan di hadapan sepasang tunanetra. Sang
cleaning service ini merasa punya kesempatan berbuat semena-mena pada orang
malang. Alangkah tak adilnya.
Aku
melakukan gerakan mencurigakan untuk mencuri perhatiannya. Saat kami bertemu
pandang ku tunjukkan raut ketidaksetujuan kepadanya. Dia pun mengerti dan
segera berhenti.
Dekat
trotoar terlihat seorang tukang parkir berjalan dengan kedua tongkat tripodnya.
Mungkin dia baru saja sembuh dari penyakit supi karena terlalu banyak
minum cap tikus. Tikus telah menggigit urat-urat vitalnya sehingga dia
lebih tak berdaya daripada sepasang tunanetra itu. Pria dengan tongkat
tripodnya berkali-kali memaki ketika hanya diberi uang receh oleh para bos yang
lewat dengan mobil-mobil mewah keluaran terbaru. Ada perbedaan yang menggelitik
dari dua orang tunetra dan tukang parkir. Tunanetra yang menggunakan tongkat seadanya
padahal mereka tidak melihat. Dan mereka berjalan seperti orang normal.
Sedangkan tukang parkir matanya belum rabun tapi dia memiliki dua tongkat
dengan jumlah kaki, enam.
“Smo
pigi kita e,” kata ibu tunanetra memecah lamunanku. Perlahan dia menyusuri
jalanan ramai.
“Oh
kita kira ngana so pigi dari tadi,” jawab bapak tunanetra.
Tak
ada lambaian tangan atau pun jabat tangan. Juga tak ada anggukkan kepala.
Mereka tahu semua gesture itu tak berlaku dalam dunia mereka. Tapi aneh, jarang
terjadi kesalahpahaman dalam komunikasi para tunanetra.
“Halua!
Halua kacang!”
Tiba-tiba
muncul rasa ibah dan haru dalam dada. Perlahan si ibu tunanetra menjauh. Hampir
pupus dalam jangkauan mata. Sekilas ku lihat dia menjelma menjadi ibuku. Bapak
tunanetra pula menjelma sebagai ayahku. Ku kejar si ibu tunanetra dan kuberikan
beberapa lembar lima ribuan. Kuberikan juga jumlah yang sama kepada bapa
tunanetra.
Kuingat
temanku Kurniawan sering bilang, “Dengan
tak memberi sepeserpun pada orang malang begitu, kita meluaskan jalan revolusi.
Teori-teori tentang ramalan hancurnya kapitalisme pun akan terwujud.”
Dia
selalu melarangku bila memberi uang. “Kita akan membuatnya jadi malas. Atau
bisa saja dia mungkin hanya berpura-pura,” tambahnya.
Teringat
pula kalimat dalam buku Emha Ainun Najib, “Terkadang Tuhan pun masih memberi apa
yang kita minta walaupun dia tahu kita sering menipuNya.”

3 Komentar
like this
BalasHapusTak banyak kaum intelektual yang mau menuangkan dalam bentuk tulisan gejala sosial yang terjadi dalam masyarakat. bisa jadi karna kita kaum intelektual tak mau peduli dng gejala sosial itu...
BalasHapushmmm... lebih baik dibilang kapitalis daripada berat hati untuk memberi...
BalasHapus