NAMAKU RATU
Aku diberi nama Ratu.
Tak
tahu pasti alasan orang tua berkenaan dengan keputusan penamaan diriku. Aku
belum sempat menanyakannya.
Mungkin orang tuaku berharap suatu saat nanti aku menjadi seorang ratu yang bertemu dengan seorang pangeran yang ganteng seperti dalam kisah Cinderella.Umurku kini 9 tahun. Aku sedang duduk di bangku kelas 3 SD. Walaupun badanku kerempeng tapi aku tergolong siswa yang cerdas di sekolah. Di samping itu wajahku juga jelita.
Mungkin orang tuaku berharap suatu saat nanti aku menjadi seorang ratu yang bertemu dengan seorang pangeran yang ganteng seperti dalam kisah Cinderella.Umurku kini 9 tahun. Aku sedang duduk di bangku kelas 3 SD. Walaupun badanku kerempeng tapi aku tergolong siswa yang cerdas di sekolah. Di samping itu wajahku juga jelita.
Aku
sangat beruntung dengan anugerah Tuhan yang indah itu. Kecerdasan
dan kejelitaanku terwarisi secara genetik dari kedua orang tuaku. Papa dan
mama, kedua-duanya berkulit terang.
Papa
mewarisi darah Tionghoa dari kakek. Mamaku
juga cantik. Dia mewarisi darah portugis dari ayahnya. Ibuku selalu juara kelas sewaktu masih di SD sampai
SMK. Tak heran kalau aku juga memiliki kelebihan-kelebihan luar biasa seperti
dia.
Aku
sangat dimanjakan oleh orang tuaku sedari lahir. Produk apa saja untuk menopang
pertumbuhanku, segalanya dibeli. Semua yang aku butuhkan senantiasa dipenuhi. Tak
pelak kemasan-kemasan produk supermarket masih membanjiri pilatu rumah kami. Sengaja
tidak dibuang sebab, papa dan mama pikir, aku suka dengan kemasan-kemasan itu.
Memang
aku suka.
Saat
aku berumur 2 tahun aku sudah cerewet dan pintar menghafal lagu-lagu yang
diajar mama dan nenek. Mereka terkagum-kagum dengan kelincahan dan kelucuanku.
Aku sering dibelikan bermacam snack sebagai hadiah. Tingkahku, menurut mereka,
begitu menghibur.
Setiap
pulang kerja, papa selalu memelukku dengan bonus-bonus kecupan manis di pipi
dan dahiku. Sulit menggambarkan kesenangan yang disuguhkan papa itu. Papa
adalah seorang tukang. Dia adalah pekerja terampil. Berbondong-bondong orang
datang ke rumah meminta papa untuk membangun rumah, pagar, gedung perkantoran,
dan lain sebagainya. Papaku, sering kelabakan dengan berbagai tawaran yang
begitu banyak.
Dalam
hal pertukangan, papaku serba bisa. Dia mampu mengerjakan keterampilan perkayuan
juga pengecoran. Keahlian papa tersebar di seluruh kampung. Bahkan sampai
kekampung tetangga. Padahal dia hanyalah warga pendatang di kampung kami. Setelah
menikah mereka bersepakat menjadikan desa Tondei sebagai tempat kediaman dan
ladang pencaharian keluarga. Sehari papa bisa membawa pulang sebanyak Rp.
200.000.
Darah
Tionghoa yang mengalir dalam tubuh papa adalah berkah. Aku bangga dengan papaku.
Dia mewariskanku mata sipit dan rambut tebal nan lurus. Untung aku perempuan,
jika saja aku lelaki, sudah tentu aku setegak, setinggi dan seganteng papaku.
Keluarga
kami masih seumur jagung namun berkat keuletan papa, kami boleh tinggal dalam
rumah besar dengan kamar-kamar yang semuanya berjumlah 3 buah. Rumah kami telah
penuh sesak dengan perabotan mewah dan barang elektroknik. Mama
adalah wanita penyayang suami dan anak. Dia melakukan tugasnya sebagai ibu
rumah tangga dengan baik. Sarapan pagi bagi papa dan aku selalu tersedia
sebelum papa berangkat kerja dan aku berangkat sekolah.
Pokoknya,
di tangan mama, semua dijamin terurus dengan baik. Pendidikanku
sangat penting bagi papa dan mama. Mereka
memberikan teladan bagaimana bersikap dan bertingkahlaku. Ketika menghadiri
acara-acara, kami bertiga selalu kompak. Setelan pakaian batik yang bercorak
sama kami kenakan saat terundang dalam setiap acara pernikahan, ulang tahun dan
lain yang semacam.
Setiap
hari minggu aku selalu diantar secara bergilir oleh papa dan mama ke gereja. Mereka
amat memperhatikan pendidikanku di usia dini. Terutama pendidikan karakter. Belum
lagi masuk TK, aku sudah bisa membaca dan hitung-menghitung. Mama, dengan
semangat, mendaftarkan aku ke lembaga kursus ternama. Aku dijejali pelajaran bahasa
Inggris dan sempoa. Pelajaran-pelajaran aku lahap dengan rakus. Sampai-sampai,
orang kampung menjuluki aku bayi ajaib bahkan bayi jenius. Istilah yang tak
begitu aku suka. Aku tak ingin kata bayi ditambah di depan kata genius. Aku
bukan bayi lagi. Tapi tak apalah, walaupun begitu, rasa percaya diriku
meningkat. Tak jarang mama dan papa sering memintaku memamerkan kebolehanku di
hadapan saudara-saudara dan tamu-tamu yang datang berkunjung ke rumah.
Mama
sangat yakin aku anak dengan segudang talenta dan potensi. Diapun dengan rajin
memberiku pelajaran tambahan di rumah. Keinginan kuatnya begitu besar untuk
menjadikanku seorang anak yang mahatahu. Aku
menurut saja pada mama. Aku belum memahami apa yang ideal atau yang tidak
bagiku. Semua itu kulakukan dengan senang sebagai imbalan terhadap kasih sayang
mereka yang tak henti-hentinya, walaupun kadang sedikit berlebihan.
Aku
membuat anak-anak lain irih.
Keakraban
dan keintiman dalam keluarga menjadi bahan pembicaraan di kampung. Seakan-akan
kami sedang dijajaki untuk dianugerahi gelar The Family of the Year oleh
sebuah majalah Amerika serikat. Wah…hidup kami terasa sempurna.

0 Komentar