CERPEN: Sang Tumbal (Bagian 1)

Sebuah Cerpen Karya Iswan Sual

NAMAKU RATU

Aku diberi nama Ratu.
Tak tahu pasti alasan orang tua berkenaan dengan keputusan penamaan diriku. Aku belum sempat menanyakannya.


Mungkin orang tuaku berharap suatu saat nanti aku menjadi seorang ratu yang bertemu dengan seorang pangeran yang ganteng seperti dalam kisah Cinderella.Umurku kini 9 tahun. Aku sedang duduk di bangku kelas 3 SD. Walaupun badanku kerempeng tapi aku tergolong siswa yang cerdas di sekolah. Di samping itu wajahku juga jelita.



Aku sangat beruntung dengan anugerah Tuhan yang indah itu. Kecerdasan dan kejelitaanku terwarisi secara genetik dari kedua orang tuaku. Papa dan mama, kedua-duanya berkulit terang.
Papa mewarisi darah Tionghoa dari kakek. Mamaku juga cantik. Dia mewarisi darah portugis dari ayahnya. Ibuku  selalu juara kelas sewaktu masih di SD sampai SMK. Tak heran kalau aku juga memiliki kelebihan-kelebihan luar biasa seperti dia. 

Aku sangat dimanjakan oleh orang tuaku sedari lahir. Produk apa saja untuk menopang pertumbuhanku, segalanya dibeli. Semua yang aku butuhkan senantiasa dipenuhi. Tak pelak kemasan-kemasan produk supermarket masih membanjiri pilatu rumah kami. Sengaja tidak dibuang sebab, papa dan mama pikir, aku suka dengan kemasan-kemasan itu.

Memang aku suka.
Saat aku berumur 2 tahun aku sudah cerewet dan pintar menghafal lagu-lagu yang diajar mama dan nenek. Mereka terkagum-kagum dengan kelincahan dan kelucuanku. Aku sering dibelikan bermacam snack sebagai hadiah. Tingkahku, menurut mereka, begitu menghibur.

Setiap pulang kerja, papa selalu memelukku dengan bonus-bonus kecupan manis di pipi dan dahiku. Sulit menggambarkan kesenangan yang disuguhkan papa itu. Papa adalah seorang tukang. Dia adalah pekerja terampil. Berbondong-bondong orang datang ke rumah meminta papa untuk membangun rumah, pagar, gedung perkantoran, dan lain sebagainya. Papaku, sering kelabakan dengan berbagai tawaran yang begitu banyak.

Dalam hal pertukangan, papaku serba bisa. Dia mampu mengerjakan keterampilan perkayuan juga pengecoran. Keahlian papa tersebar di seluruh kampung. Bahkan sampai kekampung tetangga. Padahal dia hanyalah warga pendatang di kampung kami. Setelah menikah mereka bersepakat menjadikan desa Tondei sebagai tempat kediaman dan ladang pencaharian keluarga. Sehari papa bisa membawa pulang sebanyak Rp. 200.000.

Darah Tionghoa yang mengalir dalam tubuh papa adalah berkah. Aku bangga dengan papaku. Dia mewariskanku mata sipit dan rambut tebal nan lurus. Untung aku perempuan, jika saja aku lelaki, sudah tentu aku setegak, setinggi dan seganteng papaku.

Keluarga kami masih seumur jagung namun berkat keuletan papa, kami boleh tinggal dalam rumah besar dengan kamar-kamar yang semuanya berjumlah 3 buah. Rumah kami telah penuh sesak dengan perabotan mewah dan barang elektroknik. Mama adalah wanita penyayang suami dan anak. Dia melakukan tugasnya sebagai ibu rumah tangga dengan baik. Sarapan pagi bagi papa dan aku selalu tersedia sebelum papa berangkat kerja dan aku berangkat sekolah.

Pokoknya, di tangan mama, semua dijamin terurus dengan baik. Pendidikanku sangat penting bagi papa dan mama. Mereka memberikan teladan bagaimana bersikap dan bertingkahlaku. Ketika menghadiri acara-acara, kami bertiga selalu kompak. Setelan pakaian batik yang bercorak sama kami kenakan saat terundang dalam setiap acara pernikahan, ulang tahun dan lain yang semacam.

Setiap hari minggu aku selalu diantar secara bergilir oleh papa dan mama ke gereja. Mereka amat memperhatikan pendidikanku di usia dini. Terutama pendidikan karakter. Belum lagi masuk TK, aku sudah bisa membaca dan hitung-menghitung. Mama, dengan semangat, mendaftarkan aku ke lembaga kursus ternama. Aku dijejali pelajaran bahasa Inggris dan sempoa. Pelajaran-pelajaran aku lahap dengan rakus. Sampai-sampai, orang kampung menjuluki aku bayi ajaib bahkan bayi jenius. Istilah yang tak begitu aku suka. Aku tak ingin kata bayi ditambah di depan kata genius. Aku bukan bayi lagi. Tapi tak apalah, walaupun begitu, rasa percaya diriku meningkat. Tak jarang mama dan papa sering memintaku memamerkan kebolehanku di hadapan saudara-saudara dan tamu-tamu yang datang berkunjung ke rumah.

Mama sangat yakin aku anak dengan segudang talenta dan potensi. Diapun dengan rajin memberiku pelajaran tambahan di rumah. Keinginan kuatnya begitu besar untuk menjadikanku seorang anak yang mahatahu. Aku menurut saja pada mama. Aku belum memahami apa yang ideal atau yang tidak bagiku. Semua itu kulakukan dengan senang sebagai imbalan terhadap kasih sayang mereka yang tak henti-hentinya, walaupun kadang sedikit berlebihan.

Aku membuat anak-anak lain irih.

Keakraban dan keintiman dalam keluarga menjadi bahan pembicaraan di kampung. Seakan-akan kami sedang dijajaki untuk dianugerahi gelar The Family of the Year oleh sebuah majalah Amerika serikat. Wah…hidup kami terasa sempurna.

Posting Komentar

0 Komentar