RENUNGAN: Kerendahan Hati Ki Hajar Dewantara

Oleh Iswan Sual



Randranath Tagore, seorang Pujangga India yang pernah memenangkan hadiah Nobel  pernah berkunjung ke Indonesia untuk melihat lembaga pendidikan yang diberi nama Taman Siswa. Sepertinya Taman Siswa ini begitu mengglobal sehingga pujangga, budayawan itu susah-susah mau datang ke Indonesia. Di balik kesuksesan lembaga itu tentu ada seorang tokoh. Seorang yang menjadi pendiri sekaligus tokoh dari lembaga pendidikan itu adalah Ki Hajar Dewantara.

Ki Hajar Dewantara dulu bernama Suwardi Suryaningrat. Lahir dari keluarga dengan garis keturunan raja Jawa. Hal ini yang membuat dia memiliki bekal pendidikan yang memadai. Tak mengherankan memang. Dia berada pada posisi aman.

Hidup dalam kenyamanan ternyata tidak serta merta membuat Suwardi berpangku tangan dan ongkang-ongkang kaki. Dia justru membahayakan posisi amannya dengan banyak mengkritik pemerintah kolonial Hindia Belanda yang tidak memberikan kebebasan politik, ekonomi, dan pendidikan yang sama bagi orang pribumi. Kritik-kritiknya di media masa membuat dia harus diasingkan ke negeri Belanda. Di sana dia hidup  pas-pasan. Dia mengandalkan kekuatan sendiri dalam menafkahi keluarga. Tidak pernah dia menerima bantuan gratis.

Ketika masa pengasingannya berakhir dia kembali ke Indonesia dan terus melanjutkan perjuangan. Dia sadar bahwa pilar pertama yang perlu dan mendesak dibangun adalah sumber daya manusia, pendidikan. Dengan upaya yang keras dia bersama beberapa teman mewujudkan cita-cita luhur itu. Lalu, berdirilah Taman Siswa.

Ki Hajar Dewantara rela meninggalkan zona kenyamanannya demi tujuan luhur, kepentingan bangsa Indonesia. Apa yang dilakukan oleh dia sangat pararel (serupa) dengan pengorbanan Yesus yang menanggalkan keilahian untuk menyelamatkan banyak orang. Persis dengan himbauan Paulus dalam suratnya kepada jemaat Filipi (2:1-11).

Ki Hajar Dewantara adalah seorang muslim. Bukan Kristen. Namun dia gaya hidup Kristus benar-benar tercermin dalam pribadinya yang mau mengosongkan diri. Dia rela meninggalkan gengsi dan kekuasaan, lalu menderita karena dikucilkan. Barangkali, dia percaya juga bahwa “power tends to corrupt” sehingga dia memaknai status kebangsawanannya sebagai bentuk keteladanan untuk berkorban. Dari dialah lahir pemikiran: Ingarso sung tulada, Ing madya mangun karya, Tut wuri handayani yang hingga kini dijadikan landasan filosofis pendidikan di Indonesia hingga kini.
Karena jasa-jasanya yang besar sehingga Pemerintah Indonesia menganugerahkannya Pahwalan Pendidikan Nasional.



Posting Komentar

0 Komentar