AKSI MENOLAK KENAIKAN BBM 1 APRIL 2012
AMPERA
(Aliansi Mahasiswa Peduli Rakyat )
( BEM FBS, BEM FIP, PMII Cab. Minahasa, KAMMI Komsat Unima, LNMD
Eks. Minahasa, HMI Cab. Tondano,GMNI Cab. Tondano, KPMIBM Cab. Minahasa,
AKM
Sitaro, FKMTK, IMI Bangkep)
AKM Sitaro, FKMTK, IMI Bangkep)
Latar Belakang Kenaikan BBM, Versi Pemerintah
Ada beberapa alasan krusial terkait kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM Bersubsidi. Tahun lalu, ketika pemerintah menyusun APBN 2012 diasumsikan harga minyak mentah Indonesia per barel USD 90 atau Rp 792.000 (berdasarkan kurs 1 USD = Rp 8.800). Satu barel sama dengan kira-kira 159 liter. Jadi ketika itu perkiraan harga minyak mentah Indonesia Rp 4.981 per liter. Itu harga minyak mentah. Dari minyak mentah untuk dapat dijadikan bensin premium dan untuk menyalurkannya sampai ke SPBU, diperlukan biaya yang dibutuhkan kira-kira Rp 3.019 per liter. Jelaslah bahwa ketika menyusun APBN 2012 diperkirakan harga pokok dan biaya distribusi bensin premium adalah Rp 8.000 per liter. Nah agar tidak memberatkan rakyat Indonesia, bensin premium dijual bukan dengan harga Rp 8.000, namun lebih murah, yaitu Rp 4.500 per liter. ”Artinya untuk setiap liter ada selisih harga sebesar Rp 3.500 yang ditanggung negara,” jelas Jero Wacik.Perkiraan ketika itu jumlah volume BBM Bersubsidi yang akan disalurkan adalah 40 juta kiloliter. Maka subsidi untuk BBM, Bahan Bakar Nabati dan LPG diperkirakan sekitar Rp 123 triliun. Itu belum termasuk subsidi listrik sekitar Rp 45 triliun. Sehingga total seluruh subsidi energi sekitar Rp 208 triliun. Dengan meningkatnya harga minyak mentah per barel dari USD 90 menjadi rata-rata USD 105 (meningkat 16,66 persen), bahkan mungkin masih bisa bergerak naik lebih tinggi, maka total subsidi energi itu jika tidak dilakukan perubahan harga BBM bisa menjadi lebih dari Rp 230 triliun setahun.
“Kalau kita paksakan mendanai subsidi Rp 230 triliun dari belanja negara 2012 yang totalnya Rp 1,435 triliun, akan semakin berkurang kemampuan kita membangun sarana dan keperluan lain untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Pada akhirnya semakin sulit kita mewujudkan kesejahteraan rakyat dan memajukan perekonomian negara kita,” tutur menteri asal Bali ini. Dia menambahkan, pada Maret 2012 harga minyak di dunia terus meningkat naik. Awal Maret harga minyak mentah Indonesia sudah mencapai USD 112 per barel atau Rp 1.008.000 (berdasarkan kurs 1 USD = Rp 9.000), atau Rp 6.340 per liter. ”Sekali lagi, itu adalah harga minyak mentah yang belum diolah menjadi bensin premium. Itulah sebabnya harga BBM bersubsidi terpaksa harus kita naikkan demi kepentingan kita bersama,” tutur Jero Wacik.
Campur Tangan Global Terhadap Kenaikan BBM
Jadwal globalisasi yang
ditandatangani Presiden Soeharto Dalam KTT APEC di Tahun 1994 di mana Indonesia
di jadwalkan untuk 2003 AFTA..., 2010
AC-FTA, 2015 AP-FTA, serta Pada saat Krisis Moneter Tahun 1997, Presiden
Soeharto menandatangani Kembali Letter Of Intens dengan Michael Camdessus dari
IMF yg berujung terbentuknya Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) yang
diawasi Standard Chartered Bank dan Citybank, lalu lewat BPPN ini, aset-aset
BUMN dan Swasta Nasional yg tak mampu membayar hutang luar Negeri diambil-alih.
Fakta menunjuk bahwa lewatt BPPN yang
dikontrol Standard Chartered Bank & Citybank, Raksasa – raksasa Perusahaan dunia
seperti Caltex, Shell, Exxon Mobile, British Petroleum, Chevron, Amerada Hess,
Standard Mobile Oil, Marathon, Gulf Union Oil membeli dengan murah aset
Nasional di bidang pertambangan minyak dan gas, Freeport dan Newmont membeli
aset Nasional di bidang pertambangan emas & tembaga, Cement Mexico membeli
semua aset nasional di bidang produksi semen, Phillip Morris, British American
Tobacco, Soros Corp membeli aset Nasional di bidang rokok, cengkeh dan tembakau,
ABN Amro Bank, Citybank, Standard Chartered, Chemical Bank, Chase-Manhattan
Bank, Federal Reserve Bank membeli aset Nasional di bidang perbankan, Singtel
& Tumasik membeli aset- aset Telekomunikasi Indosat, bahkan Golden
Missisipi, Nestle Dan Danone mendominasi penguasaan komoditi air dalam kemasan
seperti Aqua, Ades, Aquades, Club, Cheers, Cleo, dsb.
Dengan di Amandemennya UUD 45
Program lanjutan melahirkan UU berifat Neoliberal, termasuk melegalkan jadwal
globalisasi yang ditandatangani Presiden Soeharto dalam KTT APEC di Bogor Tahun
1994 ,Pada era Presiden Mega lahir UU
Naker dengan sumber utama UUD 45 amandemen, yang mengusung fenomena outsourcing. Sejak SBY naik 2004 lahir UU yang
berpijak pada UUD 45 Hasil Amandemen seperti UU PMA, UU PSDA, UU Migas No 22
Tahun 2001, UU LH, dsb, yang benar- benar melegitimasi Neoliberalisme dalam sistem
ekonomi Indonesia. Sebagai contoh, degan pasal 33 UUD 45, perusahaan Negara
Pertamina menjadi pemegang monopoli pertambangan minyak di Indonesia. Dengan
UUD 45 amandemen, Pertamina hanya menjadi salah satu anggota IPA (Indonesia
Petroleum Association), organisasi perusahaan- perusahaan minyak di Indonesia
yg dipimpin presidennya: Ron Aston.
Tahun
2008, Organisasi Kerjasama dan Pengembangan Ekonomi (OECD) sudah “mengejar-ngejar”
pemerintah Indonesia agar memastikan penghapusan subsidi BBM. Lalu, pada 1
November 2010, Sekjend OECD Angel Gurria menemui sejumlah Pejabat Tinggi
Indonesia, termasuk Wapres Boediono dan Menkeu Agus Martowardoyo. Di situ, OECD
berusaha menyakinkan pemerintah Indonesia agar segera menghapus subsidi BBM dan
listrik hingga 2014.
Di Forum G-20, baik di
di Pittsburgh (AS) maupun di Gyeongju, Korea Selatan, proposal penghapusan
subdisi BBM sangat gencar disuarakan. Di Pittsburgh, G20 ( Afrika Selatan, Amerika Serikat, Arab Saudi, Argentina, Australia, Brasil, Britania Raya, RRC,India,Indonesia, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Korea Selatan, Meksiko, Perancis, Rusia, Turki, Uni Eropa) memaksa
negara anggotanya, termasuk Indonesia, segera menghapus subsidi BBM secara
bertahap. Di Gyeongju, Korea Selatan, Pemerintah Indonesia menjanjikan akan
melaksanakan penghapusan subdisi energi, khususnya BBM dan TDL, dimulai pada
tahun 2011.
Sebelumnya,
tagihan juga sudah disampaikan oleh IMF, Bank Dunia, USAID dan ADB. Maklum,
sebelumnya pemerintah Indonesia sudah menjanjikan akan menghapus subsidi,
termasuk sektor energi, kepada lembaga-lembaga tersebut: Letter of Intent (LOI)
dengan IMF, Loan Agreement dengan ADB, dan bahkan dukungan penuh USAID dalam
penyusunan UU nomor 22 tahun 2001 tentang Migas. Dengan
demikian, pada tahun 2012 ini, pemerintah Indonesia seperti “dikejar jadwal”
untuk segera menghapus subsidi BBM dan TDL. Singkat cerita, ada atau tidaknya
aksi protes, pemerintah Indonesia diharuskan menghapuskan subsidi energi.
Tapi,
bagaimanapun, Presiden SBY tidak mau kehilangan popularitas. Ia tidak mau
dicatat sejarah sebagai Presiden yang terguling di tengah jalan. Karena itu, ia
pun mencari alasan untuk membenarkan kebijakannya menaikkan harga BBM.
Dipakailah alasan yang sudah usang: kenaikan harga minyak dunia dan defisit
APBN.
Tetapi,
gerakan mahasiswa, ekonom progressif, dan partai oposisi sangat bandel. Mereka
seperti bahu-membahu membongkar kedok itu. Ibarat anak kecil yang direbut
permennya, Presiden pun terpaksa menggunakan jurus terakhir: curhat di depan
rakyat. Berharap curhat itu menyentuh lubuk hati rakyat yang paling dalam dan
rakyat pun tidak jadi marah. Mestinya,
kalau media massa kita cukup dewasa dan kritis, curhat semacam itu tidak perlu
disiarkan atau diberitakan. Sebab, hal itu tidak mendewasakan atau mencerdaskan
kehidupan politik kita. Lagipula, media massa merupakan penyambung lidah rakyat,
bukan “penyambung curhat Presiden”.
Menyoal Pengunaan APBN 2012
Forum
Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) mendesak pemerintah merevisi
rencana pembelanjaan keuangan di 2012 agar menghemat anggaran demi menghentikan
rencana kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).
"Dalam
nota keuangan APBN 2012, Pemerintah pusat mengajukan proposal sebesar Rp1.418
triliun," kata aktivis Fitra, Uchok Sky Khadafi di Jakarta, Senin (19/3). Ia
mendesak DPR menolak proposal anggaran perubahan tahun 2012 dari pemerintah.
"Kerena terlalu besar untuk belanja rutinnya maupun gaji pegawainya,"
tegas Uchok. Dia
menyesalkan, ternyata angaran yang besar itu banyak dialokasikan untuk
belanja rutin pemerintah pusat. Yakni sebesar Rp724 trilliun naik dari Rp625
triliun dibanding tahun sebelumnya. Alokasi belanja itu seperti pemeliharaan,
membayar gaji PNS, tunjangan profesi guru, pembayaran bunga utang dan pokok,
dan biaya perjalanan dinas, dan DAU.
Menurutnya,
APBN seperti ini bisa dianggap tidak sehat, karena terlalu banyak uang negara
untuk kepentingan belanja birokrat. "Mending digunakan untuk menambal
subsidi BBM," katanya. Ia mencontohkan, belanja gaji pegawai pemerintah
pusat 2011 sebesar Rp182 triliun, dan 2012 Rp215 triliun. "Ini
masih di luar biaya perjalanan dinas mereka yang nilainya hingga hampir
mencapai Rp25 trilliun di 2012," kata Uchok.
Belum
lagi anggaran negara yang dialokasikan untuk gaji pegawai Pemda sebesar
Rp225 triliun di 2011 naik menjadi Rp269 triliun di 2012. Uchok
mempertanyakan pelaksanaan rencana Pemerintah melakukan moratorium atau
penghentian penerimaan pegawai? "Tak jelas semuanya," tegasnya. Ia
menambahkan, rencana pemerintah semakin aneh bila merujuk anggaran modal pemerintah
pusat sebagai instrumen pembangunan, yang hanya sebesar Rp168 triliun di 2012. Menurutnya,
jumlah ini sangat kecil dibandingkan alokasi anggaran birokrasi. Bisa
diilustrasikan seperti mau membangun sebuah rumah, belanja untuk gaji tukang
sangat besar sekali jika dibandingkan dengan belanja program atau belanja
pembangunanan rumahnya. "Itu
sebabnya pembangunan tak bisa memperbaiki nasib rakyat," kata Uchok.
Fitra mendesak, DPR mengingatkan pemerintah, dan mendesak agar program
pro-rakyat seperti anggaran kesehatan dan subsidi lebih dipertahankan.
BLSM ( Bantuan Langsung Semantara Masyarakat ) Solusi Atau Masalah Baru Untuk ?
Dampak rencana menaikkan harga bahan
bakar minyak (BBM) terhadap masyarakat miskin menjadi perhatian serius
pemerintah. Empat paket kompensasi kenaikan harga BBM sudah disiapkan sebagai
antisipasi bertambahnya angka kemiskinan. Tidak tanggung-tanggung, jumlah
penerima kompensasi tersebut mencapai 74 juta jiwa. "Jumlah penerimanya
18,5 juta RTS (rumah tangga sasaran) dikali empat, jadi 74 juta jiwa,"
ujar Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Agung
Laksono setelah mengikuti rapat terbatas di Kantor Presiden, kemarin (1/3).
Jumlah itu melebihi cakupan jumlah
penduduk miskin berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS). Menurut Agung,
saat ini terdapat 30 juta penduduk hampir miskin. Kemudian 30 juta penduduk
miskin dan sangat miskin. Dengan jumlah penerima mencapai 74 juta jiwa, berarti
ada 14 juta jiwa yang tidak masuk klasifikasi. "Termasuk nelayan dan buruh.
Jadi mengcover semuanya," kata Agung.
Empat kompensasi kenaikan harga BBM
yang disiapkan pemerintah itu adalah Bantuan Langsung Sementara Masyarakat
(BLSM), penambahan subsidi siswa miskin, penambahan jumlah penyaluran beras
miskin (raskin), dan subsidi pengelola angkutan (transport) masyarakat/desa.
Untuk BLSM misalnya, bentuknya
hampir sama dengan program bantuan langsung tunai (BLT). Agung menyebutkan,
jika dulu diberikan Rp 100 ribu selama enam bulan, nantinya besaran BLSM adalah
Rp 150 ribu perbulan diberikan selama sembilan bulan. "Begitu diumumkan 1 April
(kenaikan harga BBM), langsung diberlakukan selama sembilan bulan," kata
Agung. Dalam kesempatan sebelumnya, mantan ketua DPR itu menyebut sasarannya
adalah 1,5 juta rumah tangga sangat miskin (sekitar 10 juta jiwa). Sementara untuk subsidi transport,
Agung menyebutkan, saat ini masih dalam tahap penghitungan. Termasuk menentukan
apakah langsung untuk keperluan operasional, seperti uji kir dan STNK.
Agung menjelaskan, tanpa ada
kompensasi tersebut, kenaikan harga BBM diperkirakan akan memicu bertambahnya
angka kemiskinan sebesar 1,5 persen. Berdasarkan data BPS, angka kemiskinan di
Indonesia per Maret 2011 mencapai 30,02 juta jiwa. Angka ini turun 3,2 persen
(sekitar satu juta orang) jika dibandingkan tahun sebelumnya, yakni 31,02 juta
jiwa. Nah, adanya kompensasi diharapkan
bisa mencegah naiknya angka kemiskinan. Malah Agung berharap sebaliknya.
"Bukan saja kita mencegah penambahan jumlah penduduk miskin, tetapi
diharapkan angka kemiskinan bisa turun lagi," katanya.
Sementara itu, kenaikan harga BBM
juga bakal berimbas pada kenaikan tarif angkutan umum. Menteri Perhubungan
(Menhub) EE Mangindaan mengatakan, saat ini sudah mulai dibahas mengenai
besaran kenaikan tarif angkutan. "Tapi belum kami putuskan," kata
Mangindaan usai menghadiri pengucapan sumpah ketua MA di Istana Negara. Mangindaan mengatakan, untuk
angkutan laut dan kereta api sudah disiapkan dengan PSO (public service
obligation). Menurut dia, problem terletak pada angkutan kota, pedesaan, dan
angkutan kota dalam provinsi. "Kami sedang minta masukan dari bawah
bagaimana cara mengatasinya, bagaimana kompensasinya," tutur mantan
menteri pendayagunaan aparatur negara dan reformasi birokrasi itu.
Dia mengakui sudah bertemu dengan
organda dan akan melakukan pertemuan lagi untuk pembicaraan lebih lanjut.
Mengenai prosentase kenaikan, Mangindaan juga masih belum memberikan bocoran.
"Karena tergantung karakter daerah masing-masing kan," kata
Mangindaan. Rencana kenaikan harga BBM juga
berpengaruh pada sejumlah asumsi makro ekonomi, seperti pertumbuhan ekonomi.
Dalam draf rancangan Undang-undang APBN-P yang diserahkan ke DPR, pemerintah
menurunkan target pertumbuhan dari 6,7 persen (sesuai APBN) menjadi 6,5 persen. "Nanti akan di-exercise. Kita
lihat nanti seperti apa. Memang tren dunia pertumbuhannya menurun," kata
Menteri Koordinator bidang Perekonomian Hatta Rajasa setelah rapat terbatas. Sementara untuk inflasi, Hatta
menyebutkan akan mengalami kenaikan. "Hanya managable berkisar 6 sampai 7,
sekitar itu bergeraknya. Tapi yang penting harga pangan jangan
bergejolak," katanya.
10 negara dengan harga BBM termurah se Dunia
Posisi
Pertama, Venezuela. Salah satu negara di Amerika Selatan yang dipimpin oleh
Hugo Chavez ini, meski tidak Negara terkaya, namun mampu memberi harga BBM
termurah bagi rakyatnya. Rakyat Indonesia boleh gigit jari, karena harga BBM
per liter di negara ini dijual hanya sekitar Rp 585 saja.
Posisi
kedua adalah Negara Turkmenistan yang mampu menjual BBM hanya sekitar Rp 936 per
liter.
Nigeria
menjadi negara ketiga dengan harga minyak termurah di dunia. Meski banyak
konflik kekerasan dan perang saudara, namun salah satu negara dengan cadangan
minyak terbesar di dunia ini menjual BBM hanya sekitar Rp1.170 per liter.
Posisi
keempat, adalah Arab Saudi. Negara eksportir minyak terbesar di dunia ini
menjual BBM sekitar Rp 1.404 per liter.
Posisi
kelima adalah Iran. Di negara Ahmadinejad ini, pasokan minyak yang melimpah
cukup mempengaruhi harga minyak dunia. Per liternya, BBM di Iran dihargai
sekitar Rp 1.287 per liter.
Sebagai
negara dengan cadangan minyak terbesar di Afrika, Libya termasuk negara yang
menjual BBM murah di dunia. Negara bekas rezim Khadafi ini menjual BBM hanya
sekitar Rp 1.636 per liter.
Qatar,
Negara ke – 7 yang menjual BBM murah. Di negara terkaya di dunia ini, harga
minyak bagi rakyatnya hanya Rp 2.575 per liter.
Negara
ke – 8 Kuwait, yang menjual BBM dengan harga Rp2.457 per liter.
Posisi
ke-9 ditempati Bahrain, yang menjual BBM sekitar Rp3.159 per liter. 60 persen
perekonomian negara berakar pada pemurnian minyak bumi, yang selama sepuluh
tahun terakhir semakin kuat. Harga BBM murah juga terpengaruh karena luas
negara pulau ini hanya sekitar 266 mil atau bila berkendaraan 100 mil/jam, maka
hanya memerlukan jarak tempuh 161 Km. Jadi buat apa BBM mahal, sementara luas
negara lebih kecil dari sebuah Provinsi di Indonesia.
Uni
Emirat Arab (UEA). Sebagai salah satu negara pemasok minyak terbesar minyak di
dunia, harga BBM di UEA hanya Rp 4.300 per liter. (Dikutip dari lovemoney).
Kutipan Peryataan Kwik Kian Gie Salah satu Ekonom Indonesia yang bisa di
Jadikan Bahan kajian Bersama. Dalam
paparan ini saya memberlakukan penyederhaan atau simplifikasi dengan maksud
untuk memperoleh gambaran yang sangat jelas tentang esensinya saja. Maka saya
mengasumsikan bahwa semua minyak mentah Indonesia dijadikan satu jenis BBM
saja, yaitu bensin Premium. Metode ini sering digunakan untuk memperoleh
gambaran tentang esensi atau inti permasalahannya. Metode ini dikenal dengan
istilah method of decreasing abstraction, terutama kalau dilanjutkan
dengan penyempurnaan dengan cara memasukkan semua detil dari data dan
kenyataan, yang dikenal dengan istilah putting the flesh on the bones. Cara
perhitungan yang saya lakukan dan dijadikan dasar untuk paparan hari ini
ternyata 99% sama dengan perhitungan oleh Pemerintah yang tentunya sangat
mendetil dan akurat.
Dengan data
dan asumsi yang sama, Pemerintah mencantumkan kelebihan uang tunai sebesar Rp.
96,8 trilyun, dan saya tiba pada kelebihan uang tunai sebesar Rp. 97,955
trilyun. Berikut ini
data yang saya kompilasi dari berbagai sumber, terutama dari para ekonom yang
tidak bermahzab neolib!
- Indonesia
menghasilkan 930.000 Barel/hari, 1 Barel = 159 liter.
- Harga Minyak
Mentah = 105 USD per Barel.
- Biaya
Lifting + Refining + Transporting (LRT) 10 USD per Barel = (10/159) x Rp.9000 = Rp. 566 per Liter.
- Biaya LRT
untuk 63 Milyar Liter = 63 Milyar x Rp.566,- = Rp. 35,658 trilyun Lifting =
930.000 barel per hari, atau = 930.000 x 365 = 339,450 juta barel per tahun.
- Hak
Indonesia adalah 70%, maka = 237,615 Juta Barel per tahun.
- Konsumsi BBM
di Indonesia = 63 Milyar Liter per tahun, atau dibagi dengan 159 = 396,226 juta barel per tahun.
- Pertamina
memperoleh dari Konsumen : = Rp 63 Milyar Liter x Rp.4500,- = Rp. 283,5 Trilyun.
- Pertamina
membeli dari Pemerintah = 237,615 Juta barel @USD 105 x Rp. 9000,-
= Rp. 224,546 Trilyun.
- Kekurangan
yang harus di IMPOR = Konsumsi BBM di Indonesia – Pembelian Pertamina ke pemerintah = 158,611 Juta
barel= 158,611 juta barel @USD 105 x Rp. 9000,-
= Rp. 149,887 Trilyun.
KESIMPULAN:
- Pertamina
memperoleh hasil penjualan BBM premium sebanyak 63 Milyar liter dengan harga
Rp.4500,- yang hasilnya Rp. 283,5 Trilyun.
- Pertamina
harus impor dari Pasar Internasional Rp. 149,887 Trilyun.
- Pertamina
membeli dari Pemerintah Rp. 224,546 Trilyun.
- Pertamina
mengeluarkan uang untuk LRT 63 Milyar Liter @Rp.566,- = Rp. 35,658 Trilyun.
- Jumlah
pengeluaran Pertamina Rp. 410,091 trilyun.
- Pertamina
kekurangan uang, maka Pemerintah yang membayar kekurangan ini yang di Indonesia
pembayaran kekurangan ini di sebut “SUBSIDI”.
- Kekurangan
yang dibayar pemerintah (SUBSIDI) = Jumlah pengeluaran Pertamina dikurangi
dengan hasil penjualan Pertamina BBM kebutuhan di Indonesia = Rp. 410,091 trilyun – Rp. 283,5 Trilyun = Rp. 126,591 trilyun.
- Tapi ingat,
Pemerintah juga memperoleh hasil penjualan juga kepada Pertamina (karena
Pertamina juga membeli dari pemerintah) sebesar Rp. 224,546 trilyun. Catatan
Penting: hal inilah yang tidak pernah disampaikan oleh Pemerintah kepada
masyarakat.
- Maka
kesimpulannya adalah pemerintah malah kelebihan uang, yaitu sebesar perolehan
hasil penjualan ke pertamina – kekurangan yang dibayar Pemerintah (subsidi) = Rp. 224,546 Trilyun – Rp. 126,591 Trilyun = Rp. 97,955 Trilyun.
Artinya,
APBN tidak Jebol justru saya jadi bertanya: dimana sisa uang keuntungan SBY
jual BBM Sebesar Rp. 97,955 trilyun, itu baru hitungan 1 tahun. Dimana uang
rakyat yang merupakan keuntungan SBY jual BBM selama 7 tahun kekuasaannya?
Dari Pemaparan Diatas Maka Kami Dari Beberapa
Elemen Mahasiswa Unima Yang Tergabung Dalam Ampera ( Aliansi Mahasiswa Peduli
Rakyat ) Akan Melakukan Aksi Sosial dan Damai Pada Hari kamis, Tanggal 29 ,Maret 2012, Titik Aksi Kantor DPRD Provinsi Sulawesi Utara.
PERYATAAN SIKAP
1. Menolak
Kenaikan Harga BBM.
2. Stop
Privastisasi BUMN.
3. Berantas
kasus Korupsi di Indonesia.
4. Revisi
UU Migas No 22.Tahun 2001 dan Penanaman Modal Asing No.25 Tahun 2007.
5. Perbaiki
Sistem Perpajakan Dan Pembagian Royalti untuk
perusahaan Asing di Indonesia.
6. Laksanakan
amanat Pasal 23 dan Pasal 33 UUD 1945.
7. Turunkan
SBY - BUDIONO.
0 Komentar