Pertanyaan Untuk Yang Menolak Kenaikan Harga BBM
Oleh: Onky L. Manua
KETIKA NEGARA INI dalam kondisi tertekan, apakah mahasiswa Unima diam saja? Pertanyaan yang
dilontarkan oleh salah satu mahasiswa universitas negeri di Jakarta kepada saya
yang disampaikan melalui kakak saya di Jakarta. Dia memberikan pertanyaan
terkait eksistensi pergerakan mahasiswa yang ada di Unima. Saya yang enggan
berbelit-belit dalam menjawab seketika memberi jawaban “kami peduli negara ini,
tapi pemerintah tidak peduli kami rakyatnya” sepintas jawaban saya demikian
karena bagi saya, negara ini hanya untuk kemakmuran segelintir orang saja. Mereka
adalah politisi, birokrat, militer, dan kapitalis.
Pemerintah negara
ini kembali berencana jahat bagi rakyatnya. Ya, benar. Pemerintah negara ini
berencana untuk menaikan harga BBM dengan alasan untuk menutupi devisit
anggaran negara pada pendapatan domestik bruto (GDP). Rencana ini, menurut
pemerintah, diputuskan karena melambungnya harga minyak dunia. Dengan mencabut
subsidi BBM, maka naiklah harga BBM. Demikianlah caranya agar harga BBM naik. Subsidi
yang semula digunakan untuk menekan harga, kini disalurkan pemerintah melalui
bantuan langsung tunai kepada rakyat. Dalam kasus ini pemerintah terkesan
bodoh. Pemerintah terkesan seperti terkontrol oleh pihak asing yang
menginginkan naiknya harga BBM. Sedangkan rakyatnya dibiarkan menderita oleh
jeratan harga yang semakin melambung
Inflasi, itulah setan yang ditakuti oleh
setiap orang yang mengerti tentang ekonomi. Mengapa? Kenaikan harga BBM akan berpengaruh
pada inflasi secara agregat dan akibatnya semua harga barang dan jasa di pasar
akan naik.
Di bebagai
daerah gerakan mahasiswa mengadakan demontrasi besar-besaran. Demo dilakukan
atas dasar kepedulian terhadap kesengsaraan rakyat. Namun nuansa demonstrasi
itu sangat kurang di Sulawesi Utara. Demo hanya sebagian kelompok mahasiswa
saja. Tidak tahu mengapa. Namun dari hasil diskusi saya dengan teman-teman, ada
juga mahasiswa yang ikut mendukung kebijakan pemerintah untuk menaikan harga
BBM. Alasan mereka adalah itu merupakan kebijakan yang pantas diambil
pemerintah karena kondisi ekonomi negara sedang devisit anggaran. Mereka juga mengatakan
bahwa BBM itu mahal harganya dipasaran dunia, maka itu wajar kalau dinaikan. Saya
curiga dengan mahasiswa seperti ini. Apakah mereka mampu menerawang politik
pasar internasional atau tidak? Tapi biarlah, itu hak mereka untuk mendukung
pemerintah.
Kalau yang
mendukung cukup diam saja dengan kondisi ini. Namun bagaimana dengan pihak yang
menolak kenaikan harga BBM? Apakah harus diam? Bebagai cara bisa kita lakukan
untuk menolak kenaikan harga BBM. Mulai dari demonstrasi damai, demonstrasi
chaos, aksi bakar diri, aksi mogok makan, aksi segel pertamina, sampai pada
aksi perang terhadap rezim penguasa negeri ini.
Usul saya,
lakukanlah sesuatu sebagai langkah kongkrit kita sebagai mahasiswa yang menolak
kenaikan harga BBM. Karena saya pikir sangat kongkrit akibatnya jika kita tidak
melawan. Ingat kawan seperjuanganku, melawan pemerintah tidak selalu makar. Melawan
pemerintah tidak selalu dengan menyatakan perang. Melawan pemerintah cukup
dengan satu pemikiran saja, satu jalan saja, yaitu dengan cara berbicaralah
pada rakyat tentang kebobrokan pemerintah kita. Katakan kepada rakyat bahwa
mereka sedang dibunuh perlahan-lahan oleh pemerintah. Dengan begitu rakyat bisa
menilai penguasanya. Dengan demikian kita mendapatkan restu rakyat untuk
melawan rezim penindas rakyat.
Akhir kata
saya yaitu “Jika BBM naik, maka SBY harus turun dari presiden."
0 Komentar