![]() |
| 20 Peserta Asal Indonesia |
TOMOHON - Suatu kebanggaan bagi Universitas Negeri Manado. Pasalnya, Christine N.
Theindres mahasiswa semester IV program studi
Manajemen
Fakultas Ekonomi Unima mendapatkan kehormatan
untuk mengikuti kegiatan SUSI
RPA 2012 (Study in the US Institute for Student Leaders on Religious Pluralism
2012) di Temple University Philadelphia, Pennsylvania yang digelar oleh US Department State bekerjasama dengan Dialogue
Institute dan ICCI. Unima adalah
satu-satunya Universitas di Sulawesi yang berhasil menjadi peserta dalam SUSI
RPA 2012. Kegiatan ini diikuti oleh 20 peserta terpilih yang terdiri dari
10 mahasiswa dan 10 mahasiswi terbaik dari berbagai Universitas di Indonesia. Para
peserta merupakan representasi dari 5 agama di Indonesia (14 Muslim, 2
Protestan, 2 Katolik, 1 Hindu dan 1 Budha). Sebelum terpilih, mereka mengikuti
seleksi terlebih dahulu oleh Kedutaan
Besar Amerika Serikat di Indonesia yang berhasil mendapatkan 220 pendaftar dari
berbagai universitas di Indonesia. Kegiatan ini berlangsung selama 6 minggu
dimulai dari waktu keberangkatan ke Amerika pada 13 Januari 2012 sampai kembali
ke Indonesia tanggal 21 Februari 2012. Pada penutupan kegiatan, para peserta
mendapatkan sertifikat dari US Department State dan Temple University. Dan yang pasti seluruh biaya peserta ditanggung oleh pihak penyelenggara.
![]() |
| Christine N. Theindres, Peserta dari Unima |
Unima_Cyber
berkesempatan mewawancarai Christine, dia memberikan informasi tentang agenda kegiatan. “Selama kegiatan, kami banyak belajar tentang pluralisme agama,
sistem demokrasi Amerika (yang dibandingkan dengan
sistem demokrasi Indonesia), hubungan-hubungan International, serta isu-isu global
yang berkembang saat ini diantaraya masalah yang dihadapi Palestina dan Israel.
Intinya yaitu bagaimana kami sebagai mahasiswa yang berbeda agama memberikan pandangan
kepada masyarakat tentang isu-isu global yang sedang berkembang
agar tidak disangkutpautkan dengan agama. Karena kalau bicara soal agama, itu merupakan hal yang sangat sensitif dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara.” Ujar Jendril Fekon Unima pada
Probinas 2010 ini.
Christine juga menuturkan pengalaman paling berkesan yang dialaminya. “Pengalaman yang paling berkesan bagi
saya yaitu ketika kami mengunjugi museum “Dialogue in the Dark” di New York.
Disana, kami merasakan bagaimana menjadi orang buta dalam waktu 30 Menit. Kami
menjelajajahi ruangan dengan bantuan dari seorang pemandu
yang memakai kacamata infra-red untuk
melihat jalan, sementara mata kami tetap terbuka walaupun tidak bisa melihat
apa-apa karena ruangan yang sangat gelap. Sungguh pengalaman yang sangat
berkesan! Saya tidak akan pernah melupakannya. Disini juga dapat diambil hikmah
bahwa kita harus bersyukur dengan kesempurnaan yang diberikan Tuhan kepada kita” tutur Noni Unima 2010 ini. “Sedangkan cuma 30 Menit kita so rasa siksa nda lia apa-apa,
apalagi dengan tu orang-orang yang memang buta” tambah gadis asal kota Tomohon ini.
Selain serangkaian materi yang dipelajari, para peserta juga mengikuti tour yang jadwalnya telah
diatur oleh pihak penyelenggara. Tour tersebut bertujuan untuk mengunjungi
tempat-tempat Ibadah seperti synagoge, gereja, mesjid, vihara Budha, kuil Hindu dan quaker meeting house, selain itu juga mereka sempat mengikuti study
tour ke museum seni, museum sejarah negara serta sempat tour ke tempat-tempat lain seperti di World Trade Center (WTC) Tribute Centre New York Memorial 9/11 (tempat terjadinya tragedi nine-eleven), pantai Miami Florida, dan juga ke White House (Istana Kepresidenan AS) di Washington DC.
“Sebelum kembali ke tanah air, kami diberikan tugas
untuk melaksanakan Proyek Sederhana dengan Misi Kemanusiaan “Action Plan”.
Proyek ini harus dilaksanakan dalam jangka waktu 6 bulan setelah kami tiba di
tanah air. Saya berencana untuk melaksanakan kegiatan Lomba Board
Recycling Contest 2012 dengan target peserta yaitu para siswa se-Sulawesi Utara” tutur mahasiswa yang berjiwa sosial tinggi ini.
Semoga ilmu yang telah dipelajari para peserta ini
bisa diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta bisa mempengaruhi
pola pikir masyarakat tentang toleransi antar umat beragama di Indonesia. Kemajemukan
masyarakat Indonesia sangat vital mengingat Indonesia adalah negara yang multikultural,
multireligi, dan multi-ideologi. Membangun bangsa yang majemuk tidaklah mudah,
namun bisa dilakukan asal ada pemikiran diantara kita bahwa manusia itu setara
dan sederajat, tidak ada yang berkuasa dan tidak ada yang dikuasai. Dan ingatlah
selalu akan semboyan negeri kita “Bhineka Tunggal Ika”. Berbeda-beda tetapi
satu.
Laporan oleh: Anfi Mentu


0 Komentar