Bandar Lampung - Belasan aktivis mahasiswa dan pemuda yang tergabung dalam Geraka Mahasiwa dan Pemuda Lampung menolak rencana pemerintah untuk menaikan harga bahan bakar minyak dan tarif dasar listrik. Mereka menilai kebijakan pengurangan subsidi itu merupakan bentuk kegagalan pemerintah dalam mensejahterakan rakyat.
“Pemerintah sudah takluk dengan pasar. Kepentingan rakyat tidak lagi menjadi prioritas dalam melahirkan kebijakan,” kata Isnan, koordinator aksi, Senin, 12 Maret 2011.
Aksi penolakan kenaikan harga premium dan tarif dasar listrik yang berlangsung di Tugu Adipura, Bandar Lampung, itu mendapat pengawalan ketat aparat keamanan. Sebuah alat penyemprot air disiagakan tidak jauh dari lokasi unjuk rasa. “Pengurangan subsidi akan membuat jumlah rakyat miskin di Indonesia bertambah. Ada sekitar 70 juta warga miskin yang paling terkena dampak kenaikan bahan bakar minyak,” kata Isnan.
Mahasiswa menyerukan rakyat Indonesia untuk bersama-sama merebut seluruh aset asing untuk dimanfaatkan rakyat. Selama ini, sumber daya alam, kata dia, lebih banyak dikeruk oleh perusahaan asing. “Subsidi mestinya tidak perlu ada jika hasil sumber daya alam benar-benar dinikmati oleh rakyat, bukan malah diekspor,” ujarnya.
Sumber: TEMPO.CO
0 Komentar