CERPEN: Sang Tumbal (Bagian 5 dan 6 -Selesai-)

Sebuah Cerpen Karya Iswan Sual


AFTERMATH (Bagian 5)

Hari itu juga pemerintah memerintahkan supaya segara mempersiapkan penguburan. Wani dan Wady berupaya protes tentang pemakaman yang mau dipercepat itu. Sang hukum tua bersikeras bahwa dia hanya menjalankan peraturan desa.

Telah ditetapkan bahwa bunuh diri adalah tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai kekristenan dan adat desa. Jadi, tak ada upacara. Tak ada penghormatan jenasah.

“Bapak Hukum Tua, kami mohon supaya penguburan ditunda hingga besok. Bapak kan tahu ini peristiwa mendadak. Kami masih tunggu keluarga dari jauh. Satu hari saja. Tidak lebih,” Wani meminta dengan sedikit memohon.

“Begini, aturan adalah aturan. Aturan sudah dibuat. Dan itu untuk kebaikan kita bersama. Kita harus menghormatinya. Kalau aturan ini dilonggarkan itu sama saja dengan bersikap permisif terhadap perilaku bunuh diri,” kata hukum tua dengan bahasa Indonesa yang dibuat-buat sehingga terdengar ilmiah.

“Bukankah sangat tidak bijak apabila aturan itu diberlakukan pada anak yang sebetulnya tak mengerti dengan apa itu bunuh diri? Kenapa kalian tak memberi pengampunan. Saya yakin Tuhan adalah pengampun. Dia pasti akan mengampuni anak kami. Lagipula, sebetulnya dia tidak bunuh diri. Dia dibunuh oleh ketertekanan dan ketidakadilan. Dia adalah mangsa iblis. Dia adalah korban. Kenapa dia yang harus dihukum?”

Tampaknya selogis apapun argumen Wani tak akan mengubah pendirian Hukum Tua. Padahal, pada kasus waktu lalu, waktu adik dari sekdes melakukan bunuh diri, peraturan ini didiamkan saja. Begitulah nasib orang kecil. Hukum seharusnya buta. Tak melihat orangnya. Yang bersalah dialah yang dihukum.

Ayah Ratu tak datang saat anaknya dikubur. Rasa bersalah bertubi-tubi menusuk jiwanya. Berkali-kali dia ingin mengakhiri hidupnya agar bisa menyusul anaknya. Tapi dia mengurungnya. Dia sadar bahwa itu tak akan membuat keadaan menjadi lebih baik.

Banyak saudara jauhpun tak sempat datang untuk melayat.



BACK TO THE BEGINNING (Bagian 6)


Masalah lalu biarlah berlalu. Mereka telah belajar tentang nilai-nilai kehidupan sejati. Pernikahan ulang dilakukan. Hal ini harus karena kedua orang tua Ratu sempat bercerai beberapa bulan setelah dia meninggal. Pada umur perkawinan kedua tahun mereka dikaruniakan seorang putri yang cantik. Sangat mirip dengan Ratu. Merekapun menamakan anak itu Ratu. Ratu Langkay. Sungguh suatu keajaiban. Seorang insan mengalami dua kali kelahiran. Dan mungkin dua kali kematian.



Selesai




Posting Komentar

0 Komentar