Sebuah Cerpen Karya Iswan Sual
TAK TAHAN LAGI
Besoknya,
semua penuh keheningan. Mama tak tidur sepanjang malam. Dia menangisi nasibnya
yang malang dihianati suami. Dia terus-terusan menyumpahi papa.
Dari tadi malam tak sedikitpun dia bergeser
dari sofa.
Papa kini tak lagi di kampung. Semalam dia
telah dilarikan ke Motoling. Om Obrin, dengan sepeda motor, meloloskannya dari
sabetan parang. Syukur dia lolos dari maut. Kalau dia masih tinggal mungkin
sekarang dia sudah merenggang nyawa.
Hari semakin terang. Aku tak kunjung keluar
dari kamar. Mama tak begitu peduli. Sibuk menangisi diri sendiri. Dia menyesali
semua perbuatannya selama ini. Dia sadar dia turut memberi sumbangan atas
perbuatan suaminya. Dia ingat akan ancamannya untuk berselingkuh. Sekarang,
justru suaminyalah yang terlebih dulu membuatnya jadi nyata.
Mama terus sesenggukkan. Kalau saja….
Ah percuma! Nasi telah membubur.
Waktu terus berjalan. Jam dinding telah
menunjukkan pukul 12.07. Ratu belum keluar kamar.
Yunita terakhir kali mendengar suara anaknya
kemarin sore, saat meraung-raung karena kesakitan. Saat berteriak-teriak
memohon pengampunan. Tapi tak diberi sedikitpun.
Yunita ingin berteriak memanggil Ratu. Dia mau
marah karena pasti anak itu tak ke sekolah. Geram mulai diundangnya. Tapi
suaranya telah hilang. Dia mengumpulkan semua tenaga yang tersisa.
Dia memutuskan untuk masuk dan hendak menyeret
Ratu keluar. Dia bahkan telah meraih batang sapu taki. Dia ingin melampiaskan
semua dosa suaminya pada si kecil. Anak mereka semata wayang. Anak
satu-satunya.
Kini dia telah dekat dengan daun pintu. Begitu
pintu dibuka tak ada sosok yang berbaring di atas tempat tidur.
Matanya yang lelah mencoba memindai seluruh
sudut kamar.
Dengan samar-samar sepasang matanya menangkap
sesuatu di atas kepala. Wujud yang tak pernah dia bayangkan.
Seperti ada yang melayang. Namun tak bergerak.
Perlahan-lahan dia mendongakkan kepala……….
Tak pernah terbayang. Tak pernah terpikir apa
yang sekarang dilihatnya. Mata Yunita terbelalak tak percaya dengan apa yang
kini dia saksikan. Tak pernah dia menginginkan ini. Tak pernah sedikitpun.
Puterinya yang cantik jelita tergantung kaku.
Lidah menjulur keluar…… memandang kosong. Sungguh kasihan!
Tubuh Yunita berguncang hebat. Dia
meronta-ronta dalam diam. Berusaha berteriak sekuat tenaga. Namun tak keluar
suara.
Air mata-mata bercucuran. Mengalir deras.
Sedikit berubah warna.
Kini semua sudah terlambat… Upaya apapun tak
akan berfaedah. Sang semata wayang kini tinggal nama.
Didekapnya kaki anaknya yang dingin membeku.
Dia menangis keras dalam kebisuan. Tapi semua
itu tak lagi ada maknanya.
Sehelai kertas tergeletak di atas lantai. Dia
tahu itu tulisan tangan anaknya. Dialah yang mengajar anaknya sehingga bisa
menghasilkan goresan-goresan huruf indah di atas kertas itu. Tulisan yang
pernah mengantarkan anaknya menjadi juara menulis indah sekabupaten……. Dia
ingat anaknya berlari kencang ke pelukannya saat setelah menerima piala dan
piagam penghargaan.
Tondei,
20 Desember 2010
Buat mama dan papa,
(Dua Orang Yang Paling Ku Sayang)
Sungguh indah kenangan yang
kita lalui bersama sepanjang separuh dari sepuluh tahun yang telah berlalu.
Aku adalah anak yang paling
bahagia di dunia saat itu. Banyak teman-temanku irih karena aku dilimpahi
dengan kasih sayang dan kehangatan serta perlakuan-perlakuan kalian yang penuh
dengan kelembutan.
Namun, ambisi kalian merenggut
semua perhatian yang seharusnya membahagiakan kita. Keegoisan kalian telah
merampas kemesraan di antara kita. Apalah artinya hidup jika kehilangan
senyuman seorang ibu? Apalah artinya berada di dunia tanpa belaian seorang
ayah?
Berbahagialah orang yang tak
pernah dilahirkan. Lebih baik tak pernah dilahirkan, daripada berada dalam
dunia sambil menyaksikan segala ketidakadilan ini.
Anakmu
yang nakal,
Ratu
Langkay
Nb: aku janji saat kita bertemu di surga nanti,
kelakuanku sudah berubah.
Rasa penasaran kakek dan nenek membawa mereka
melihat kebisuan di rumah anak dan cucu mereka.
“Tak biasanya sesunyi itu”.
Rasa rindu kakek dan nenek untuk bersenda
gurau dengan cucu mereka mendorong mereka melangkah memasuki rumah itu.
Betapa terkejutnya mereka menyaksikan cucu
mereka telah terbaring tanpa nyawa. Tali pencabut nyawa masih menggantung. Tak
ada yang perlu dijelaskan lagi.
Semua begitu terang benderang.
Sang nenek berkali-kali jatuh pingsan tak
kuasa melihat sang cucu yang tak berkata setitikpun.
Padahal kemarin dia masih dengan lincahnya
berlari kian kemari mengejar ayam-ayam kecil untuk menangkapinya. Cucunya
berkali-kali didapati mereka berbicara dengan anak-anak ayam itu.
Tahulah sang nenek bahwa anak ayam itu lebih
dipercaya sang cucu untuk mencurahkan isi hati, ketimbang kedua orang tuanya.
0 Komentar