CERPEN: Sang Tumbal (Bagian 4)


Sebuah Cerpen Karya Iswan Sual

TAK TAHAN LAGI


Besoknya, semua penuh keheningan. Mama tak tidur sepanjang malam. Dia menangisi nasibnya yang malang dihianati suami. Dia terus-terusan menyumpahi papa.
Dari tadi malam tak sedikitpun dia bergeser dari sofa.
Papa kini tak lagi di kampung. Semalam dia telah dilarikan ke Motoling. Om Obrin, dengan sepeda motor, meloloskannya dari sabetan parang. Syukur dia lolos dari maut. Kalau dia masih tinggal mungkin sekarang dia sudah merenggang nyawa.
Hari semakin terang. Aku tak kunjung keluar dari kamar. Mama tak begitu peduli. Sibuk menangisi diri sendiri. Dia menyesali semua perbuatannya selama ini. Dia sadar dia turut memberi sumbangan atas perbuatan suaminya. Dia ingat akan ancamannya untuk berselingkuh. Sekarang, justru suaminyalah yang terlebih dulu membuatnya jadi nyata.
Mama terus sesenggukkan. Kalau saja….
Ah percuma! Nasi telah membubur.
Waktu terus berjalan. Jam dinding telah menunjukkan pukul 12.07. Ratu belum keluar kamar.
Yunita terakhir kali mendengar suara anaknya kemarin sore, saat meraung-raung karena kesakitan. Saat berteriak-teriak memohon pengampunan. Tapi tak diberi sedikitpun.
Yunita ingin berteriak memanggil Ratu. Dia mau marah karena pasti anak itu tak ke sekolah. Geram mulai diundangnya. Tapi suaranya telah hilang. Dia mengumpulkan semua tenaga yang tersisa.
Dia memutuskan untuk masuk dan hendak menyeret Ratu keluar. Dia bahkan telah meraih batang sapu taki. Dia ingin melampiaskan semua dosa suaminya pada si kecil. Anak mereka semata wayang. Anak satu-satunya.
Kini dia telah dekat dengan daun pintu. Begitu pintu dibuka tak ada sosok yang berbaring di atas tempat tidur.
Matanya yang lelah mencoba memindai seluruh sudut kamar.
Dengan samar-samar sepasang matanya menangkap sesuatu di atas kepala. Wujud yang tak pernah dia bayangkan.
Seperti ada yang melayang. Namun tak bergerak. Perlahan-lahan dia mendongakkan kepala……….
Tak pernah terbayang. Tak pernah terpikir apa yang sekarang dilihatnya. Mata Yunita terbelalak tak percaya dengan apa yang kini dia saksikan. Tak pernah dia menginginkan ini. Tak pernah sedikitpun.
Puterinya yang cantik jelita tergantung kaku. Lidah menjulur keluar…… memandang kosong. Sungguh kasihan!
Tubuh Yunita berguncang hebat. Dia meronta-ronta dalam diam. Berusaha berteriak sekuat tenaga. Namun tak keluar suara.
Air mata-mata bercucuran. Mengalir deras. Sedikit berubah warna.
Kini semua sudah terlambat… Upaya apapun tak akan berfaedah. Sang semata wayang kini tinggal nama.
Didekapnya kaki anaknya yang dingin membeku.
Dia menangis keras dalam kebisuan. Tapi semua itu tak lagi ada maknanya.
Sehelai kertas tergeletak di atas lantai. Dia tahu itu tulisan tangan anaknya. Dialah yang mengajar anaknya sehingga bisa menghasilkan goresan-goresan huruf indah di atas kertas itu. Tulisan yang pernah mengantarkan anaknya menjadi juara menulis indah sekabupaten……. Dia ingat anaknya berlari kencang ke pelukannya saat setelah menerima piala dan piagam penghargaan.

Tondei, 20 Desember 2010

Buat mama dan papa,
(Dua Orang Yang Paling Ku Sayang)

Sungguh indah kenangan yang kita lalui bersama sepanjang separuh dari sepuluh tahun yang telah berlalu.
Aku adalah anak yang paling bahagia di dunia saat itu. Banyak teman-temanku irih karena aku dilimpahi dengan kasih sayang dan kehangatan serta perlakuan-perlakuan kalian yang penuh dengan kelembutan.
Namun, ambisi kalian merenggut semua perhatian yang seharusnya membahagiakan kita. Keegoisan kalian telah merampas kemesraan di antara kita. Apalah artinya hidup jika kehilangan senyuman seorang ibu? Apalah artinya berada di dunia tanpa belaian seorang ayah?
Berbahagialah orang yang tak pernah dilahirkan. Lebih baik tak pernah dilahirkan, daripada berada dalam dunia sambil menyaksikan segala ketidakadilan ini.
Anakmu yang nakal,
Ratu Langkay
Nb: aku janji saat kita bertemu di surga nanti, kelakuanku sudah berubah.

Rasa penasaran kakek dan nenek membawa mereka melihat kebisuan di rumah anak dan cucu mereka.
“Tak biasanya sesunyi itu”.
Rasa rindu kakek dan nenek untuk bersenda gurau dengan cucu mereka mendorong mereka melangkah memasuki rumah itu.
Betapa terkejutnya mereka menyaksikan cucu mereka telah terbaring tanpa nyawa. Tali pencabut nyawa masih menggantung. Tak ada yang perlu dijelaskan lagi.
Semua begitu terang benderang.
Sang nenek berkali-kali jatuh pingsan tak kuasa melihat sang cucu yang tak berkata setitikpun.
Padahal kemarin dia masih dengan lincahnya berlari kian kemari mengejar ayam-ayam kecil untuk menangkapinya. Cucunya berkali-kali didapati mereka berbicara dengan anak-anak ayam itu.
Tahulah sang nenek bahwa anak ayam itu lebih dipercaya sang cucu untuk mencurahkan isi hati, ketimbang kedua orang tuanya.

Posting Komentar

0 Komentar