Sebuah Cerpen Karya Iswan Sual
MAKIN TERPEROSOK
Tak ada perubahan ke arah baik.
Malah makin terperosok.
Satu tahun terakhir, hubungan papa
dan mama tak pernah membaik.
Malahan semakin jelek.
Kalau pagi hingga siang mama dan
teman-temannya kumpul-kumpul, bergosip dan sesekali, dalam kehebohan dalam
rumah, meneriakkan kata-kata kotor karena bereaksi terhadap adegan dalam
koleksi video porno yang mereka tonton dari ponsel mereka.
Sore hingga malam, giliran papa dan
teman-temannya yang pesta miras dengan musik-musik super keras.
Tak tahan dengan itu aku selalu
menjadikan rumah kakek dan nenek sebagai tempat mencari suaka. Aku dijadikan
tumbal demi kebahagiaan semu mereka.
Mama sangat marah dengan kelakuan
ayah dan teman-temannya yang setiap malam mengotori rumah dengan muntah-muntah
mereka saat tengah mabuk.
Papapun balas mengeluhkan sikap mama
yang telah berubah drastik. Tak lagi menunaikan tugas kesehariannya sebagai
seorang ibu dan seorang istri.
Pemenuhan kebutuhan biologis ayah
diabaikan. Mama sering dilabeli papa sebagai seorang istri yang telah ingkar
dengan janji pernikahan. Padahal dengan lantang mengucapkannya di gereja
beberapa tahun yang lalu. Sesuatu yang sakral kini tidak berarti.
“Brenti ngana bawa-bawa ngana pe
tamang-tamang setang di sini e. Kita so pastiu.” Serangan dilancarkan lagi.
Sudah bisa diramalkan apa yang bakal jadi berikutnya.
Tak tahan dengan itu papapun tak
mau kalah.
“Kyapa ngana e? Pemai deng ngana.”
Kali ini serangan balik ayah lebih keras. “Tegor-tegor pakita! Kong ngana?! Bini apa le tu
babajalang deng ABG sampe malam. Laki stenga mati kerja. Ngana asik gaul. So
nda butul ngana no. Ngana pe kira kita nda baca tu sms-sms setang dari
laki-laki dari mana sto ja kirim pa ngana?!”, mama sedikit terhenyak dengan
reaksi papa.
“Iyo…deri ngana so ja sangka-sangka
nda-nda pa kita, nanti ngana lia. Nanti kita se butul.” balas mama dengan
ancaman.
Mama tidak sadar dengan ucapan itu.
Ucapan itu adalah doa yang kalau terkabul akan menjadi sumber malapetaka. Dia
seharusnya sadar bahwa melayani suami adalah tugasnya. Itulah yang disebut
sebagai ibadah.
Kata-kata tak senonoh sudah
membiasa di telingaku. Sungguh tak tahu lagi bagaimana aku menggambarkan
kehancuran keluarga kami.
Serasa sungguh-sungguh sudah di
neraka. Sungguh! Keadaan ini makin menyiksaku. Mereka sungguh keterlaluan.
Aku tak lagi dipandang. Aku kini
tak ada lagi di mata mereka.
Kenapa aku harus ada di dunia untuk
menyaksikan keruntuhan demi keruntuhan ini?
Mereka sibuk dengan ego mereka dan mengabaikan
aku yang rapuh ini.
Betul-betul tak berperasaan!
Tak ada tempat lagi aku mencari
pelipur lara bagiku. Kakek nenek sibuk dengan bisnis mereka. Mereka sedang
merencanakan proyek besar. Mereka sedang mempersiapkan bagaimana menghabiskan
masa tua mereka sebelum ke liang kubur.
Terpaksa aku harus mencari sendiri
sumber kenyamanan. Aku harus mandiri.
Aku harus mencari pelipur lara
sendiri. Kalau tidak, lama-lama aku bisa gila dengan semua kesintingan ini.
Gerald, ya Gerald. Dialah teman
baikku. Bukan hanya teman. Tapi sahabat.
Aku secara sembunyi-sembunyi
bermain dengan Gerald sebelum pulang rumah.
Ini membuatku sering pulang
kesiangan dari sekolah. Bahkan kadang-kadang sore.
Mama papa tak juga
memperdulikannya. Hari demi hari itu aku perbuat. Aku dan Gerald bermain
papa-papaan dan mama-mamaan.
Kami mendramakan secara impromptu
beberapa adegan yang mama dan papa lakoni saban hari.
Namun, akhirnya kebiasan pulang
sore ketahuan juga oleh papa apa penyebabnya.
Begitu papa melihatku masih bermain
dengan Gerald, papa langsung menyeretku seperti binatang. Aku dipukulinya
terus-menerus sepanjang jalan hingga di rumah. Aku berteriak minta ampun.
Dia terus saja menghantamku dengan
pukulan-pukulan terbaiknya. Dihempaskannya aku ke lantai begitu saja kemudian
menyuruhku supaya makan. Tak berapa lama dia sudah pergi keluar rumah dengan
sepeda motor. Mama datang saat aku sudah pulih dari penganiayaan. Saat itu aku
tengah bermain sendiri dengan boneka-bonekaku untuk menghibur diri. Ya…untuk
menghibur diriku sendiri.
“So makang ngana?”
Belum sempat ku jawab dia nampaknya
cepat tahu karena melihat tingkahku yang berusaha berkelit.
Tak bisa lagi aku berbohong.
Ku lihat mama berjalan
mondar-mandir seperti kerasukan. Diambilnya sapu lantai dan memukuli aku dengan
batang kerasnya. Tubuhku yang terkena terasa sangat sakit. Bukan hanya
dagingnya. Rasa sakit menembus tulang. Kemudian jantung. Aku berteriak-teriak
seperti kesetanan. Mama malah semakin beringas. Punggungku terasa sangat perih
karena lecet-lecet dan penuh dengan lebam.
“Kyapa ngoni?” terdengar suara.
Suara itu suara kakek. “Oh kasiang. Ngoni jo re’e tu mo bunung tu ngoni pe anak
sandiri.” Kata kakek marah.
Kini dia berdiri di depan pintu.
Kakek mengangkatku perlahan. Aku telah terbujur lemah. Kehabisan kuat menahan
deraan sakit.
Aku tak berdaya. Tak sanggup
mengangkat tangan sebagai tanda menyerah. Tak sedikitpun terlihat bahwa mama
menyesal. Dia kelihatan masih geram. Belum semua rasa kesalnya dilampiaskan.
Tiga hari aku tak keluar dari rumah
kakek dan nenek. Aku teramat takut melihat kedua monster yang secara bergantian
hampir membunuhku di hari yang sama.
Tubuhku masih menggigil mengingat
keberingasan mereka.
Aku akui bahwa aku kadang nakal.
Namun aku tak pantas dididik dengan cara penuh kekerasan seperti itu.
Secara bergantian, suara kedua
monster terdengar di luar kamar. Mereka meminta ijin untuk menengok aku yang
hampir saja dimangsa mereka. Berkali-kali aku memang bilang pada kakek dan
nenek bahwa aku takut bila mereka mendekatiku. Apalagi menyentuhku.
Seminggupun telah berlalu.
Trauma telah hilang. Kepercayaan
kepada orang tua kembali muncul. Aku berpikir pasti mereka sudah merasa sadar
dengan ketelodoran yang telah mereka perbuat padaku.
Kuputuskan untuk kembali tinggal
bersama mama dan papa dan mulai bersekolah lagi.
Aku telah ketinggalan jauh
pelajaran-pelajaran sekolah.
Mama berusaha membantuku
mengatasinya. Disusunlah jadwal belajar tambahan buatku. Aku memang ingin
diajar lagi oleh mama setelah sekian lama belajar sendiri.
Namun, betapa kecewanya aku karena metode
ajar sekarang sudah berubah.
Tak lagi seperti dulu yang mengerti
kelebihan dan kekuranganku, penuh dengan dukungan juga kemakluman. Itu
membuatku sedikit susah untuk belajar.
“Ratu, ngana ja taru dimana ngana
pe ontak? So se ajar, kyapa ngana cuma beking bagini?” kata mama dengan marah.
Tak sempat kulihat dia masuk kamar,
kini dia kembali dengan seikat lidi yang keras. Pukulan bertubi-tubi mendarat
di punggungku.
Aku histeris. Pukulan demi pukulan
melesat tanpa meleset.
Tubuhku terhempas ke kiri dan ke
kanan. Tak ada pengampunan.
Ini adalah lanjutan pelampiasan yang tak
sempat diselesaikannya tempo hari. Aku memekik penuh derita. Kakek tak kunjung
datang membawa keselamatan. Nenekpun tak datang menyerukan kata ‘berhenti!’ Aku
terisak-isak sampai kehabisan suara. Mama kini kehabisan tenaga. Peluhnya yang
besar-besar jatuh ke lantai. Dendamnya tersampaikan. Selanjutnya….
Kami berdua terdiam. Keheningan.
Yang ada hanya keheningan. Aku tertidur. Sore berlalu. Ganti gelap datang. Udara
mendingin. Tiba-tiba terdengar teriakan.
“Yunita, mana tu John?!! Kuda cuki
deng dia. Se kaluar kamari dia. Babi, kaluar ngana laki-laki. Yunita…mana ngana
pe laki? Ta mo teto pa dia!!!”
Aku terbangun. Samar-samar
terdengar kehebohan. Lama-lama situasi makin mencekam. Walau tubuh terasa sakit
di sekujur tubuh aku tetap nekad mencoba bangkit dan mengintip dari celah-celah
dinding rumah. Di depan telah berkerumunan sejumlah besar orang. Seorang pria
dewasa dengan sebilah pedang terus mengeluarkan sumpah serapah dan
ancaman-ancaman.
“Yunita…bilang pa ngana pe laki. Jang berani
kaluar. Brani dia babayang dimuka pakita, ta potong. Sembot!!!!!! Ta bunung.
Brani ngana kaluar, mati ngana!”
Mama masih kebingungan. Tak
mengerti dengan apa yang sebetulnya terjadi. Dia penasaran mendengar seorang
pria terus mengutuk papa, bahkan mengancam hendak membunuhnya. Mama beranikan
diri keluar dan berdiri di beranda sambil mengawasi.
“Kyapa ngana bataria-bataria di
muka kita pe rumah, Stevi? Cuki! Kyapa kendo’o yang mo potong kita pe laki?
Lawut deng ngana!” mama balik menghamburkan sumpah serapah ke lelaki
yang tengah dirasuki setan di depan rumah kami.
“Pemai…! Lawut! Ngana pe laki kita
dapat riki baku cuki dengan kita pe bini di kamar mandi. Ta mo teto pa dia!”
balas lelaki yang telah kerasukan itu.
Beberapa orang dewasa mencoba
menjinakannya namun segala upaya sia-sia.
Dialog demi dialog yang kudengar
membuatku paham apa masalahnya.
Aku terpukul.
Mama beranikan diri keluar dan
berdiri di beranda sambil mengawasi. Tak tahan mengetahui papa ternyata seorang
ayah amoral. Pukulan batang sapu masih bisa ku tahan. Tubuhku telah cukup kuat
untuk itu.
Tapi tidak dengan pukulan memalukan
ini. Aku tak tahu harus ditaruh dimana mukaku. Aku takkan mampu menghadapi hari
esok dengan cemooh dari teman-teman sekolah.
Apalah arti mengada di dunia tanpa
harga diri dan kosong kasih sayang. Sungguh berat beban yang harus ku pikul.
Keluargaku sangat memalukan…hiks…hiks...hiks…
Air mataku terus mengalir. Perasaan
dan pikiran terus berkecamuk.
“Apalah artinya mengada di dunia,
jika harus penuh derita seperti ini. Apalah artinya orang tua bilang menyiksaku
terus-terusan seperti ini. Beban ini terlampau berat untuk ku tanggung.
Terlampau berat untuk ku pikul”.
0 Komentar