CERPEN: Sang Tumbal (Bagian 3)


Sebuah Cerpen Karya Iswan Sual

MAKIN TERPEROSOK


Tak ada perubahan ke arah baik. Malah makin terperosok.
Satu tahun terakhir, hubungan papa dan mama tak pernah membaik.
Malahan semakin jelek.
Kalau pagi hingga siang mama dan teman-temannya kumpul-kumpul, bergosip dan sesekali, dalam kehebohan dalam rumah, meneriakkan kata-kata kotor karena bereaksi terhadap adegan dalam koleksi video porno yang mereka tonton dari ponsel mereka.
Sore hingga malam, giliran papa dan teman-temannya yang pesta miras dengan musik-musik super keras.
Tak tahan dengan itu aku selalu menjadikan rumah kakek dan nenek sebagai tempat mencari suaka. Aku dijadikan tumbal demi kebahagiaan semu mereka.
Mama sangat marah dengan kelakuan ayah dan teman-temannya yang setiap malam mengotori rumah dengan muntah-muntah mereka saat tengah mabuk.
Papapun balas mengeluhkan sikap mama yang telah berubah drastik. Tak lagi menunaikan tugas kesehariannya sebagai seorang ibu dan seorang istri.
Pemenuhan kebutuhan biologis ayah diabaikan. Mama sering dilabeli papa sebagai seorang istri yang telah ingkar dengan janji pernikahan. Padahal dengan lantang mengucapkannya di gereja beberapa tahun yang lalu. Sesuatu yang sakral kini tidak berarti.
“Brenti ngana bawa-bawa ngana pe tamang-tamang setang di sini e. Kita so pastiu.” Serangan dilancarkan lagi. Sudah bisa diramalkan apa yang bakal jadi berikutnya.
Tak tahan dengan itu papapun tak mau kalah.
“Kyapa ngana e? Pemai deng ngana.” Kali ini serangan balik ayah lebih keras.  “Tegor-tegor pakita! Kong ngana?! Bini apa le tu babajalang deng ABG sampe malam. Laki stenga mati kerja. Ngana asik gaul. So nda butul ngana no. Ngana pe kira kita nda baca tu sms-sms setang dari laki-laki dari mana sto ja kirim pa ngana?!”, mama sedikit terhenyak dengan reaksi papa.
“Iyo…deri ngana so ja sangka-sangka nda-nda pa kita, nanti ngana lia. Nanti kita se butul.” balas mama dengan ancaman.
Mama tidak sadar dengan ucapan itu. Ucapan itu adalah doa yang kalau terkabul akan menjadi sumber malapetaka. Dia seharusnya sadar bahwa melayani suami adalah tugasnya. Itulah yang disebut sebagai ibadah.
Kata-kata tak senonoh sudah membiasa di telingaku. Sungguh tak tahu lagi bagaimana aku menggambarkan kehancuran keluarga kami.
Serasa sungguh-sungguh sudah di neraka. Sungguh! Keadaan ini makin menyiksaku. Mereka sungguh keterlaluan.
Aku tak lagi dipandang. Aku kini tak ada lagi di mata mereka.
Kenapa aku harus ada di dunia untuk menyaksikan keruntuhan demi keruntuhan ini?
Mereka sibuk dengan ego mereka dan mengabaikan aku yang rapuh ini.
Betul-betul tak berperasaan!
Tak ada tempat lagi aku mencari pelipur lara bagiku. Kakek nenek sibuk dengan bisnis mereka. Mereka sedang merencanakan proyek besar. Mereka sedang mempersiapkan bagaimana menghabiskan masa tua mereka sebelum ke liang kubur.
Terpaksa aku harus mencari sendiri sumber kenyamanan. Aku harus mandiri.
Aku harus mencari pelipur lara sendiri. Kalau tidak, lama-lama aku bisa gila dengan semua kesintingan ini.
Gerald, ya Gerald. Dialah teman baikku. Bukan hanya teman. Tapi sahabat.
Aku secara sembunyi-sembunyi bermain dengan Gerald sebelum pulang rumah.
Ini membuatku sering pulang kesiangan dari sekolah. Bahkan kadang-kadang sore.
Mama papa tak juga memperdulikannya. Hari demi hari itu aku perbuat. Aku dan Gerald bermain papa-papaan dan mama-mamaan.
Kami mendramakan secara impromptu beberapa adegan yang mama dan papa lakoni saban hari.
Namun, akhirnya kebiasan pulang sore ketahuan juga oleh papa apa penyebabnya.
Begitu papa melihatku masih bermain dengan Gerald, papa langsung menyeretku seperti binatang. Aku dipukulinya terus-menerus sepanjang jalan hingga di rumah. Aku berteriak minta ampun.
Dia terus saja menghantamku dengan pukulan-pukulan terbaiknya. Dihempaskannya aku ke lantai begitu saja kemudian menyuruhku supaya makan. Tak berapa lama dia sudah pergi keluar rumah dengan sepeda motor. Mama datang saat aku sudah pulih dari penganiayaan. Saat itu aku tengah bermain sendiri dengan boneka-bonekaku untuk menghibur diri. Ya…untuk menghibur diriku sendiri.
“So makang ngana?”
Belum sempat ku jawab dia nampaknya cepat tahu karena melihat tingkahku yang berusaha berkelit.
Tak bisa lagi aku berbohong.
Ku lihat mama berjalan mondar-mandir seperti kerasukan. Diambilnya sapu lantai dan memukuli aku dengan batang kerasnya. Tubuhku yang terkena terasa sangat sakit. Bukan hanya dagingnya. Rasa sakit menembus tulang. Kemudian jantung. Aku berteriak-teriak seperti kesetanan. Mama malah semakin beringas. Punggungku terasa sangat perih karena lecet-lecet dan penuh dengan lebam.
“Kyapa ngoni?” terdengar suara. Suara itu suara kakek. “Oh kasiang. Ngoni jo re’e tu mo bunung tu ngoni pe anak sandiri.” Kata kakek marah.
Kini dia berdiri di depan pintu. Kakek mengangkatku perlahan. Aku telah terbujur lemah. Kehabisan kuat menahan deraan sakit.
Aku tak berdaya. Tak sanggup mengangkat tangan sebagai tanda menyerah. Tak sedikitpun terlihat bahwa mama menyesal. Dia kelihatan masih geram. Belum semua rasa kesalnya dilampiaskan.
Tiga hari aku tak keluar dari rumah kakek dan nenek. Aku teramat takut melihat kedua monster yang secara bergantian hampir membunuhku di hari yang sama.
Tubuhku masih menggigil mengingat keberingasan mereka.
Aku akui bahwa aku kadang nakal. Namun aku tak pantas dididik dengan cara penuh kekerasan seperti itu.
Secara bergantian, suara kedua monster terdengar di luar kamar. Mereka meminta ijin untuk menengok aku yang hampir saja dimangsa mereka. Berkali-kali aku memang bilang pada kakek dan nenek bahwa aku takut bila mereka mendekatiku. Apalagi menyentuhku.
Seminggupun telah berlalu.
Trauma telah hilang. Kepercayaan kepada orang tua kembali muncul. Aku berpikir pasti mereka sudah merasa sadar dengan ketelodoran yang telah mereka perbuat padaku.
Kuputuskan untuk kembali tinggal bersama mama dan papa dan mulai bersekolah lagi.
Aku telah ketinggalan jauh pelajaran-pelajaran sekolah.
Mama berusaha membantuku mengatasinya. Disusunlah jadwal belajar tambahan buatku. Aku memang ingin diajar lagi oleh mama setelah sekian lama belajar sendiri.
Namun, betapa kecewanya aku karena metode ajar sekarang sudah berubah.
Tak lagi seperti dulu yang mengerti kelebihan dan kekuranganku, penuh dengan dukungan juga kemakluman. Itu membuatku sedikit susah untuk belajar.
“Ratu, ngana ja taru dimana ngana pe ontak? So se ajar, kyapa ngana cuma beking bagini?” kata mama dengan marah.
Tak sempat kulihat dia masuk kamar, kini dia kembali dengan seikat lidi yang keras. Pukulan bertubi-tubi mendarat di punggungku.
Aku histeris. Pukulan demi pukulan melesat tanpa meleset.
Tubuhku terhempas ke kiri dan ke kanan. Tak ada pengampunan.
 Ini adalah lanjutan pelampiasan yang tak sempat diselesaikannya tempo hari. Aku memekik penuh derita. Kakek tak kunjung datang membawa keselamatan. Nenekpun tak datang menyerukan kata ‘berhenti!’ Aku terisak-isak sampai kehabisan suara. Mama kini kehabisan tenaga. Peluhnya yang besar-besar jatuh ke lantai. Dendamnya tersampaikan. Selanjutnya….
Kami berdua terdiam. Keheningan. Yang ada hanya keheningan. Aku tertidur. Sore berlalu. Ganti gelap datang. Udara mendingin. Tiba-tiba terdengar teriakan.
“Yunita, mana tu John?!! Kuda cuki deng dia. Se kaluar kamari dia. Babi, kaluar ngana laki-laki. Yunita…mana ngana pe laki? Ta mo teto pa dia!!!”
Aku terbangun. Samar-samar terdengar kehebohan. Lama-lama situasi makin mencekam. Walau tubuh terasa sakit di sekujur tubuh aku tetap nekad mencoba bangkit dan mengintip dari celah-celah dinding rumah. Di depan telah berkerumunan sejumlah besar orang. Seorang pria dewasa dengan sebilah pedang terus mengeluarkan sumpah serapah dan ancaman-ancaman.
 “Yunita…bilang pa ngana pe laki. Jang berani kaluar. Brani dia babayang dimuka pakita, ta potong. Sembot!!!!!! Ta bunung. Brani ngana kaluar, mati ngana!”
Mama masih kebingungan. Tak mengerti dengan apa yang sebetulnya terjadi. Dia penasaran mendengar seorang pria terus mengutuk papa, bahkan mengancam hendak membunuhnya. Mama beranikan diri keluar dan berdiri di beranda sambil mengawasi.
“Kyapa ngana bataria-bataria di muka kita pe rumah, Stevi? Cuki! Kyapa kendo’o yang mo potong kita pe laki? Lawut deng ngana!” mama balik menghamburkan sumpah serapah ke lelaki yang tengah dirasuki setan di depan rumah kami.
“Pemai…! Lawut! Ngana pe laki kita dapat riki baku cuki dengan kita pe bini di kamar mandi. Ta mo teto pa dia!” balas lelaki yang telah kerasukan itu.
Beberapa orang dewasa mencoba menjinakannya namun segala upaya sia-sia.
Dialog demi dialog yang kudengar membuatku paham apa masalahnya.
Aku terpukul.
Mama beranikan diri keluar dan berdiri di beranda sambil mengawasi. Tak tahan mengetahui papa ternyata seorang ayah amoral. Pukulan batang sapu masih bisa ku tahan. Tubuhku telah cukup kuat untuk itu.
Tapi tidak dengan pukulan memalukan ini. Aku tak tahu harus ditaruh dimana mukaku. Aku takkan mampu menghadapi hari esok dengan cemooh dari teman-teman sekolah.
Apalah arti mengada di dunia tanpa harga diri dan kosong kasih sayang. Sungguh berat beban yang harus ku pikul. Keluargaku sangat memalukan…hiks…hiks...hiks…
Air mataku terus mengalir. Perasaan dan pikiran terus berkecamuk.
“Apalah artinya mengada di dunia, jika harus penuh derita seperti ini. Apalah artinya orang tua bilang menyiksaku terus-terusan seperti ini. Beban ini terlampau berat untuk ku tanggung. Terlampau berat untuk ku pikul”.



Posting Komentar

0 Komentar