CERPEN: Sang Tumbal (Bagian 2)

Sebuah Cerpen Karya Iswan Sual

Badai Mulai Datang



Namun segalanya berubah ketika papa dan mama bersepakat menggadaikan beberapa bidang tanah yang luas ke pada bank. Padahal, itu adalah budel pemberian kakek di Motoling. Tak pernah, kami duga keputusan yang mereka ambil sungguh berakibat fatal.
Tak tahu mengapa, dewi Fortuna makin lama kian menjauh dari rumah kami.
Menjauhi papaku.
Karena pasang surutnya orderan jasa papa, pendapatan keluarga jadi tak menentu. Pinjaman, atau katakanlah itu utang, di bank jadi membengkak. Bunga makang bunga. Uang yang diambil papa dan mama dari bank tak sanggup lagi dikembalikan. Terasa hanya mimpi. Semuanya berubah 180 derajat.
Aku sendiri, awalnya tak habis pikir dengan alasan papa dan mama meminjam uang dari bank.
Papa dan mama ternyata, selama ini tidak puas dengan apa yang telah mereka gapai. Ternyata mereka punya rencana yang lebih besar. Rencana yang secepat kilat mau diwujudkan.
Mereka berkeinginan kuat membeli rumah super megah di salah satu kawasan elit di kota Manado. Padahal bank itu adalah laksana orang yang meminjamkan payung saat hari cerah, dan memintanya kembali dikala hari hujan dengan sangat derasnya.
Sikap mama dan papa lambat laun menjadi suram.
Aku tinggal laksana di padang pasir gersang yang membentang luas.
Temperamen mama dan papa kini berubah dari lemah lembut menjadi galak dan kasar. Tak jarang kata-kata tak pantas meluncur begitu saja dari mulut mama.
Dulunya lagu-lagu pembangun rohani yang terlantun dari CD player kami. Sekarang mama dan papa telah berganti aliran.
Kehidupan surga yang selama ini begitu meninabobokan kini berganti kehidupan seperti di neraka.
Sungguh sangat kontras yang terlampau kentara!
Keseharian ceritanya adalah kurang lebih seperti ini.
Pagi-pagi sudah dimulai dengan lagu berjudul; “Jangan Kau Tuduh Aku”, “mengapa kau selingkuh?” Siangnya “burung bajingan”. Malamnya “lebe bae bacere.”
Kondisi ini sangat mempengaruhi jiwa dan perilakuku. Maklumlah aku masih anak-anak yang polos dan lugu. Bak kertas putih. Kosong.
Lagu-lagu orang dewasa menjadi begitu akrab ditelingaku sekarang.
Sebaliknya, lagu sekolah minggu semakin menghilang dari ingatanku. Aku tak pernah lagi diantar ke gereja. Mereka sibuk dengan perasaan mereka masing-masing. Kadang aku merasa mama dan papa tak lagi sayang dan peduli padaku.
Aku jadi malas makan, malas bagun pagi dan malas ke sekolah. Soal makan, mereka masih sangat peduli. Mereka selalu mempersoalkan apakah tubuhku telah diisi atau belum. Tapi mereka tidak tahu bahwa jiwaku juga butuh makanan. Bukan hanya tubuh.
“Ratu, so makang ngana?!” tanya Mama.
“Masih kenyang e mama,” jawabku sambil sedikit merengek.
Aku dulu yang tak berani berdusta kini terbiasa karena menghindari apa yang namanya makan.
Aku lebih suka makan snack. Junk food
Tak heran badanku semakin ceking bak seorang anak yang menderita busung lapar.
Mama marah-marah karena aku kedapatan membuang makanan dengan sengaja.
 “Ratu! Kyapa ngana buang tu nasi?” bentak mama. Matanya serasa mau keluar. Tapi aku tahu itu hanya gertakan saja. Tidak mungkin dia tega memukulku hanya karena membuang makan. Aku adalah anak satu-satunya. Aku adalah kebanggaan mereka. Tak mungkin sesuatu yang buruk akan mama lakukan.
Besoknya aku ketahuan lagi karena membuang makanan. “Ratu! Ontak apa ngana? Buang-buang makanan….ngana kira tu nasi cuma ja punggu di got?
“Ratu nda buang e mama. Anjing kwa ini da nae di meja kong loku ta pe piring.”
Kini aku semakin lihai mengarang-ngarang alasan. Kali ini mama percaya saja. Mama berpikir bahwa bisa saja aku memang khilaf. Mungkin hanya pikirannya saja yang menyangka anaknya melakukan yang tidak-tidak. Mamanya mengakui, dalam diam, bahwa pikiranya memang ngelantur karena sedang kacau.
Hari berikutnya aku melakukan lagi kesalahan yang sama.
Tanpa disengaja mama melihat aku sedang memberikan makanan kepada 2 anjing peliharaan mereka di belakang rumah.
Ayam-ayampun ikut berebut mendengar bunyi piring walaupun sudah diusahakan pelan. Padahal belum sesendokpun masuk dalam mulutku.
“Setang ngana. Skarang apa ngana mo bilang?” teriak mama dari jarak yang tak berapa langkah jauhnya. Sambil memegang batang sapu dia mulai memukulku. Disertai tendangan. Dia menyeretku saat aku menjauh karena menghindari dari setiap pukulannya. Itu membuatnya sumringah. Aku dipandanginya sebagai anjing penuh borok yang harus dipukul sehingga menjauhi rumah.
“Cuki ngana. So siksa orang tua ja mancari ngana seenaknya kase pa binatang tu makanan. Ontak binatang ngana! So jago ngana badusta pa orang tua e!!”
“Paf!!!!!!!! Buk!! Pakkk!!”
Aku sangat kaget dan berteriak-teriak histeris memohon ampun. Mama terus mengayunkan batang bambu taki yang keras ke badanku.
“Ampung..…mama.…ampung…mama…..ampuuuuuuung. Mama…mama…ampung kita….”
Berkali-kali dagingku berbenturan dengan daging dan tulang yang menonjol keluar.
Mama terus memukul. Dia lupa bahwa aku hanya seorang balita.
Batang sapu patah menjadi 3 bagian. Aku terhempas ke sudut kamar dan terisak sesendu’ang.
Aku belum percaya sepenuhnya dengan apa yang baru saja dia alami. Aku begitu terhenyak dengan apa yang baru saja aku saksikan.
Dulu mama adalah induk domba yang selalu memberi kehangatan.
Sekarang aku bagai anak domba dalam liang induk serigala yang mulai mencabik-cabik. Tak tahu kapan aku nantinya akan habis jadi santapan.
Mama berhenti saat basah karena berpeluh hebat. Dia juga tampak kelelahan telah melampiaskan rasa stresnya karena dikejar-kejar  pegawai bank yang setiap hari datang menagih.
Sisa tangisan masih ada ketika papaku tiba.
“Kyapa e?” tanya papa penasaran dengan apa yang baru terjadi.
Belas kasih menyelimuti papa ketika melihatku tak berdaya meringkuk di pojok. Di dekatinya aku untuk memastikan keadaan yang sebenarnya. Aku tak berani mengeluh. Takut situasi tambah buruk. Sambil menoleh ke mama diapun bertanya lagi.
 “Yunita, kyapa karu tu anak ngana so se biru-biru bagini e? Masih kecil ngana so ja labrak sama deng orang besar.”
Perkataan papa cukup memberikanku gambaran seperti apa ku sekarang. Namun pernyataan papa pasti akan berdampang buruk. Tak berani aku melihat pertengkaran yang sebentar lagi akan membara. Siapa yang sanggup menyaksikan perang dunia III.
“Badiam di situ ngana, John! Kalu perlu deng ngana kita mo se ancor.” Jawaban mama terdengar begitu kasar.
Sungguh membuat papa merasa pedih. Papa berusaha menguasai diri. Keadaan lelah usai kerja seharusnya membuat dia layak memperoleh sambutan yang menyejukkan hati dari sang istri.
Ayah berusaha bersabar. “Mungkin dia hilaf lantaran lala kerja di rumah,” kata papa pada dirinya sendiri meyakinkan bahwa setiap orang dalam keadaan lelah atau stres kadang-kadang memunculkan tanggapan yang tak terkendali. “Wajarlah”.
Aku berharap malamnya semua akan kembali seperti semula. Tentram dan damai. Papapun berharap begitu.
Papa kini mulai masuk kamar dan mulai merayu mama seperti biasa dilakukannya untuk memecah kebekuan. Tapi, mama hanya memberikan tanggapan dingin. Kulihat papa mencoba lagi. Aku tahu, ini demi keutuhan rumah tangga dan demi mengembalikan keselarasan yang sedikit memudar di sore tadi.
“Jang baba dekat pa kita ngana!” teriak mama sambil menghempaskan tangan papa.
Sungguh…reaksi ini tak pernah diharapkan baik oleh papa maupun aku.
“Kita nda suka ngana pe cara tadi. Kita nda suka ngana kendo’o cari muka di muka pa anak.”
 “Sapa yang cari muka?” kini papa angkat bicara. “ kita cuma kase inga pa ngana tu nda bagus yang da beking pa anak. Ini demi torang pe kebaikan.”
“Luji deng ngana. Setang. Tidor di luar ngana! Jang badekat.”
Mendengar papa dan ibu mulai perang mulut lagi aku menutup telinga.
Namun suara makin keras menjangkau sampai rumah-rumah tetangga. Teriakan mereka bertubi-tubi menghujam dan merobek telinga.
Pelan-pelan aku keluar dari rumah kami dan satu langkah demi satu langkah mengarah ke rumah kakek dan nenek yang hanya berjarak kurang lebih 20 meter.
Kakek nenek ternyata juga sedang mendengar apa yang sedang berlaku di rumah kami. Tadi hanya suara. Kini terdengar benturan perkakas rumah menyentuh lantai dan dinding.  
“Kyapa re’e tu di rumah pa ngoni, Ratu?” tanya nenek. “Tau kasana,” jawabku kesal bercampur malu. Mencoba menyembunyikan aib keluarga namun aku tak pandai memberi jawab pada pertanyaan semacam itu.
Nenek dan kakek tahu perasaanku. Merasa aku tak nyaman dengan pertanyaan merekapun mengalihkan pokok pembicaraan pada hal-hal lain. Kakek yang humoris mulai bicara. Dia senang bertutur mengenai cerita rakyat di kampung kami. Ada cerita tentang si Hero yang Mati Sembilan Hari, ada juga Legenda Asal Muasal Tetewatu, cerita epos tentang Mawale dan kaitanya dengan tugu Lutau dan lain sebagainya.
Dalam keadaan gundah sekalipun aku dapat dibuat kakek tertawa.
Dia memang tipe manusia dengan kecerdasan linguistik yang hebat.
Dia mampu berbicara berjam-jam disertai gerak-gerak teatrikal yang membuat orang-orang benar-benar tegang dan terkekeh-kekeh karena kejenakaan ceritanya.
Banyak orang, walaupun sebenarnya jenuh dengan cerita-cerita bertutur kakek saya. Gara-gara itu, kakek dijuluki sebagai si Hans Flasgordon.
Tak terasa, malam semakin larut.
Pertunjukkan teatrikal kakek telah usai.
Aku yang sudah sedikit merasakan kantuk mohon diri pulang ke rumah.
Kakek dan nenekpun tak berusaha menahan.
Karena takut kegelapan aku berlari menuju rumah.
Papa telah berbaring di sofa. Di kamar ibu telah tertidur sendirian.
Aku tak tahu bagaimana akhir cerita dari pepeperangan mereka. Tapi mendingan. Setidaknya telah terjadi genjatan senjata.
Aku keluar kamar lagi sambil membawa selembar kain untuk papa sebagai selimut.
Kasihan papa.
Aku tak mau dia nanti kedinginan.
TV masih saja bicara-bicara sendiri. Ku tekan tombol on/offnya. Karena tinggi tempat colokannya ku naiki meja kecil dan menarik kabel colokan.
Malam ini hujan turun. Guntur mulai menggemuruh. Kilat-kilat kecil mulai berdatangan.
Mama selalu berpesan untuk mematikan semua peralatan elektronik saat dalam keadaan seperti sekarang ini.
Setelah semua tampak beres, aku menuju kamar dan merebahkan diri di samping mama.
Aku tak berani tidur sendirian dalam kamarku dalam cuaca begini.
Lama, baru aku terlelap.
Besoknya aku terbangun saat jam wekerku menunjukkan pukul 06.30. Waktu itu tape deck sudah mengeluarkan lantunan-lantunan putus asah dan pengeluhan.
Sungguh tak sesuai dengan harapanku semalam. Sungguh tak baik memulai hari dengan aura pesimis.
Lagu-lagu yang terdengar sama dengan beberapa hari terakhir: ”Jangan Kau Tuduh Aku”. Seingatku itu adalah lagu grup band bernama Wali. Kemudian ada lagu yang berjudul “ mengapa kau selingkuh”, “Pulangkan Saja Aku Pada Orang Tuaku”, “Burung Bajingan”, “Lebe Bae Bacere”.
Daftar lagu itu sepertinya sengaja menjadi pilihan dan kesayangan orang tuaku sekarang ini.
Padahal, seharusnya lagu-lagu memotivasi yang layak didengar dalam situasi seperti ini.
Sadar atau sadar, lagu-lagu itu sudah menjadi bagian dari kehidupan kami.
Tak tahu pasti kenapa mama papa lebih memilih lagu-lagu seperti itu. Padahal, dulu, setiap pagi aku selalu mendengar lagi religius atau lagu-lagu optimis dari Ebiet.
Aku paling suka kalau yang diputar adalah lagu koleksi untuk anak sekolah minggu. Cocok untuk usiaku. Lagu-lagu yang penuh dengan suasana bermain. Dan keriangan.
Hari-hari berikutnya sama saja. Malahan semakin parah.
Papa kini sering pulang larut malam dalam keadaan mabuk. Berkali-kali papa ingin berdamai tapi selalu ditolak. Sekarang mereka, telah berlangsung lama, tak lagi tidur seranjang. Seperti biasa, papa di sofa. Mama di kamar.
Satu malam karena tak tahan dengan situasi yang makin besae, papa memaksakan diri untuk tidur sekamar dengan mama. Dia berusaha mengeluarkan jurus-jurus pamungkas untuk meluluhkan hati mama. Tapi mama berang karena papa sudah dalam keadaan setengah sadar setengah teler.
Karena hal itu, perang mulutpun pecah di tengah malam.
Mereka tak peduli lagi dengan keadaan sekitar.
“Yunita, kyapa ngana so ta roba skali bagitu e? Apa kita pe salah? Kalaupun kita salah so nda re’e mo dapa maaf so?”
“Jang tanya! Kyapa le ngana tiap malam kaluar deng pulang-pulang amper siang?” mama balas bertanya tak ingin kalah.
“Mo bagimana kita? Di rumah nda ada kesenangan. Tiap pulang kerja bukang ngana sambut bae-bae: sirang akang kopi, malah ngana bajalang baron-ron kampung. Kita nda snang ngana korang bergaul-gaul deng ABG! Ngana musti sadar Yunita; ngana itu so tanta bukang lagi cewek. Kalu so ba stel, artis kala.”
 “Apa ngana bilang?! Ngana bilang kita baron-ron? Ngana anggap kita perempuan lonte! Asal jo ngana. Kong ngana apa? Laki apa tu pulang so pagi? Bukang lonte tu bagitu? So sama kwa. Udang deng ketang kalu bakar sama. Ne, jang bicara kalu ngana lebe soe.” semprot mama.
“Beda. Kita laki-laki. Ngana perempuan.” papa tidak mau kalah.
“Cuki deng ngana. Karena ngoni laki-laki kong sambarang beking ngoni pe mau. Pemai deng ngana! Ngana bilang kita le nda ja layani pa ngana? Oh io, nanti ngana lia kalu kita mo se momasa lagi for ngana.”  balas mama dengan pukulan yang membuat papa teroleng-oleng.
 “Yunita, coba kwa bicara bae-bae.”
“Bicara bae-bae, lawut deng ngana. Ngana kira kita ngana pe pembantu. Kita mo tanya pa ngana: kyapa kendo’o ngana so nda pernah kase doi pa kita na.”
Perdebatan terus berlanjut. Rasa banggaku pada kedua orangtua lululantah sudah. Wibawa mereka tak ada lagi.
Tanpa sadar mereka sedang mengajariku bagaimana bertengkar dengan berbagai macam sumpah serapah.
Aku sebenarnya hanyalah anak yang belum cukup umur untuk memahami persoalan rumit dan pelik yang menimpa keluargaku.
Usiaku belumlah cocok dan siap menghadapi terpaan ini. Seharusnya, masa kecilku dilalui dengan riang gembira dan sarat dengan curahan kasih sayang.
Terlalu berat buatku memikirkan dan menghadapi konflik antara mama dan papa yang kian kronis. Bagaikan konflik Israel dan Palestina yang telah berlarut-larut tanpa ada jalan keluar yang menguntungkan kedua belah pihak. Hari demi hari korban berjatuhan. Nyawa melayang setiap saat. Nyawa manusia tak ubahnya nyawa binatang yang dijagal tanpa ampun.
Sungguh memilukan!
Lama kelamaan kelakuan mama dan papa mulai berubah.
Sifat-sifat baik telah lari dari mereka. Yesus tak lagi terlihat dari laku mereka.
Papa kini juga sering memukulku dengan ikat pinggangnya.
Setiap kali kedapatan bermain dengan anak-anak tetangga aku selalu dicerca dengan makian diikuti dengan sabet-sabetan yang terasa perih dalam daging.
Papa selalu melarangku bermain dengan anak-anak lelaki. Apalagi, gara-gara bermain dengannya aku sampai lupa makan.
Memang, selera makanku tak lagi ada. Apalagi makanan seperti nasi. Aku lebih suka snack. Cepat masuk mulut dan terasa lebih enak. Makanan sampah itu yang menyebabkan badanku semakin kerempeng. Namun, tentu saja, ancaman mama dan papa sulit merubah ketergantunganku pada jenis makanan itu.
Kebiasaanku bermain dengan Gerald sulit untuk dilarang. Si Gerald memang nakal, tapi hanya dialah satu-satunya temanku.
Beberapa anak lainpun telah dilarang orang tua mereka bergaul denganku. Mereka takut anak mereka terjangkiti oleh kebiasaan kasar dari rumahku.
Gerald, walaupun nakal, dia lucu dan menggemeskan. Aku selalu dibuatnya tertawa. Aku lebih bisa berekspresi dengan dia karena kami mungkin sebaya. Dia juga teman berlatihku mengucapkan makian-makian yang aku dengar dari dua orang tuaku yang juaranya memaki.
Aku, sebenarnya juga, mendapat kenyamanan ketika dekat dengan nenek dan kakek serta kedua pamanku yang bernama Wani dan Wady.
Kehadiran kedua pamanku mampu membuat wajahku berseri-seri. Mereka bagaikan oase di tengah padang pasir.
Mereka suka membacakan dongeng untukku. Sayangnya, waktu mereka denganku sangat terbatas. Paman Wani adalah seorang dosen di salah satu perguruan tinggi di kota Manado. Dia hanya pulang sekali dalam dua minggu.
Paman Wady juga sibuk. Dia apalagi. Dia hanya pulang sekali dalam sebulan.
Hari-hari berikutnya, mama dan papa terlihat kadang-kadang insaf kalau aku kekurangan perhatian.
Mereka sudah sering memberiku uang.
Dulu tidak begitu. Tak pernah mereka memberiku uang.
Mereka biasa menghadiahiku buku-buku cerita. Juga membacakannya.
Aku tak butuh uang.
Alat tukar itu tak akan menggantikan kasih sayang dan perhatian mereka.
Aku heran. Mereka memberiku uang di saat kami sedang mengalami krisis keuangan yang berat. (Bersambung).





Posting Komentar

0 Komentar