Sebuah Cerpen Karya Iswan Sual
Badai Mulai Datang
Namun segalanya berubah ketika papa
dan mama bersepakat menggadaikan beberapa bidang tanah yang luas ke pada bank. Padahal,
itu adalah budel pemberian kakek di Motoling. Tak pernah, kami duga keputusan
yang mereka ambil sungguh berakibat fatal.
Tak tahu
mengapa, dewi Fortuna makin lama kian menjauh dari rumah kami.
Menjauhi papaku.
Karena
pasang surutnya orderan jasa papa, pendapatan keluarga jadi tak menentu. Pinjaman,
atau katakanlah itu utang, di bank jadi membengkak. Bunga makang bunga. Uang
yang diambil papa dan mama dari bank tak sanggup lagi dikembalikan. Terasa
hanya mimpi. Semuanya berubah 180 derajat.
Aku
sendiri, awalnya tak habis pikir dengan alasan papa dan mama meminjam uang dari
bank.
Papa dan
mama ternyata, selama ini tidak puas dengan apa yang telah mereka gapai.
Ternyata mereka punya rencana yang lebih besar. Rencana yang secepat kilat mau
diwujudkan.
Mereka
berkeinginan kuat membeli rumah super megah di salah satu kawasan elit di kota Manado.
Padahal bank itu adalah laksana orang yang meminjamkan payung saat hari cerah,
dan memintanya kembali dikala hari hujan dengan sangat derasnya.
Sikap
mama dan papa lambat laun menjadi suram.
Aku
tinggal laksana di padang pasir gersang yang membentang luas.
Temperamen
mama dan papa kini berubah dari lemah lembut menjadi galak dan kasar. Tak
jarang kata-kata tak pantas meluncur begitu saja dari mulut mama.
Dulunya
lagu-lagu pembangun rohani yang terlantun dari CD player kami. Sekarang mama
dan papa telah berganti aliran.
Kehidupan
surga yang selama ini begitu meninabobokan kini berganti kehidupan seperti di
neraka.
Sungguh
sangat kontras yang terlampau kentara!
Keseharian
ceritanya adalah kurang lebih seperti ini.
Pagi-pagi
sudah dimulai dengan lagu berjudul; “Jangan Kau Tuduh Aku”, “mengapa kau
selingkuh?” Siangnya “burung bajingan”. Malamnya “lebe bae bacere.”
Kondisi
ini sangat mempengaruhi jiwa dan perilakuku. Maklumlah aku masih anak-anak yang
polos dan lugu. Bak kertas putih. Kosong.
Lagu-lagu
orang dewasa menjadi begitu akrab ditelingaku sekarang.
Sebaliknya,
lagu sekolah minggu semakin menghilang dari ingatanku. Aku tak pernah lagi
diantar ke gereja. Mereka sibuk dengan perasaan mereka masing-masing. Kadang
aku merasa mama dan papa tak lagi sayang dan peduli padaku.
Aku jadi
malas makan, malas bagun pagi dan malas ke sekolah. Soal makan, mereka masih
sangat peduli. Mereka selalu mempersoalkan apakah tubuhku telah diisi atau
belum. Tapi mereka tidak tahu bahwa jiwaku juga butuh makanan. Bukan hanya
tubuh.
“Ratu, so
makang ngana?!” tanya Mama.
“Masih
kenyang e mama,” jawabku sambil sedikit merengek.
Aku dulu
yang tak berani berdusta kini terbiasa karena menghindari apa yang namanya
makan.
Aku lebih
suka makan snack. Junk food
Tak heran
badanku semakin ceking bak seorang anak yang menderita busung lapar.
Mama
marah-marah karena aku kedapatan membuang makanan dengan sengaja.
“Ratu! Kyapa ngana buang tu nasi?” bentak
mama. Matanya serasa mau keluar. Tapi aku tahu itu hanya gertakan saja. Tidak
mungkin dia tega memukulku hanya karena membuang makan. Aku adalah anak
satu-satunya. Aku adalah kebanggaan mereka. Tak mungkin sesuatu yang buruk akan
mama lakukan.
Besoknya
aku ketahuan lagi karena membuang makanan. “Ratu! Ontak apa ngana? Buang-buang
makanan….ngana kira tu nasi cuma ja punggu di got?
“Ratu nda
buang e mama. Anjing kwa ini da nae di meja kong loku ta pe piring.”
Kini aku
semakin lihai mengarang-ngarang alasan. Kali ini mama percaya saja. Mama berpikir
bahwa bisa saja aku memang khilaf. Mungkin hanya pikirannya saja yang menyangka
anaknya melakukan yang tidak-tidak. Mamanya mengakui, dalam diam, bahwa
pikiranya memang ngelantur karena sedang kacau.
Hari
berikutnya aku melakukan lagi kesalahan yang sama.
Tanpa
disengaja mama melihat aku sedang memberikan makanan kepada 2 anjing peliharaan
mereka di belakang rumah.
Ayam-ayampun ikut berebut mendengar
bunyi piring walaupun sudah diusahakan pelan. Padahal belum sesendokpun masuk
dalam mulutku.
“Setang
ngana. Skarang apa ngana mo bilang?” teriak mama dari jarak yang tak
berapa langkah jauhnya. Sambil memegang batang sapu dia mulai memukulku.
Disertai tendangan. Dia menyeretku saat aku menjauh karena menghindari dari setiap
pukulannya. Itu membuatnya sumringah. Aku dipandanginya sebagai anjing penuh
borok yang harus dipukul sehingga menjauhi rumah.
“Cuki
ngana. So siksa orang tua ja mancari ngana seenaknya kase pa binatang tu
makanan. Ontak binatang ngana! So jago ngana badusta pa orang tua e!!”
“Paf!!!!!!!!
Buk!! Pakkk!!”
Aku sangat
kaget dan berteriak-teriak histeris memohon ampun. Mama terus mengayunkan
batang bambu taki yang keras ke badanku.
“Ampung..…mama.…ampung…mama…..ampuuuuuuung.
Mama…mama…ampung kita….”
Berkali-kali
dagingku berbenturan dengan daging dan tulang yang menonjol keluar.
Mama terus memukul. Dia lupa bahwa
aku hanya seorang balita.
Batang
sapu patah menjadi 3 bagian. Aku terhempas ke sudut kamar dan terisak
sesendu’ang.
Aku belum
percaya sepenuhnya dengan apa yang baru saja dia alami. Aku begitu terhenyak
dengan apa yang baru saja aku saksikan.
Dulu mama adalah induk domba yang
selalu memberi kehangatan.
Sekarang
aku bagai anak domba dalam liang induk serigala yang mulai mencabik-cabik. Tak
tahu kapan aku nantinya akan habis jadi santapan.
Mama berhenti saat basah karena berpeluh
hebat. Dia juga tampak kelelahan telah melampiaskan rasa stresnya karena
dikejar-kejar pegawai bank yang setiap
hari datang menagih.
Sisa
tangisan masih ada ketika papaku tiba.
“Kyapa
e?” tanya papa penasaran dengan apa yang baru terjadi.
Belas
kasih menyelimuti papa ketika melihatku tak berdaya meringkuk di pojok. Di
dekatinya aku untuk memastikan keadaan yang sebenarnya. Aku tak berani
mengeluh. Takut situasi tambah buruk. Sambil menoleh ke mama diapun bertanya
lagi.
“Yunita, kyapa karu tu anak ngana so se
biru-biru bagini e? Masih kecil ngana so ja labrak sama deng orang besar.”
“Badiam
di situ ngana, John! Kalu perlu deng ngana kita mo se ancor.” Jawaban mama
terdengar begitu kasar.
Sungguh
membuat papa merasa pedih. Papa berusaha menguasai diri. Keadaan lelah usai
kerja seharusnya membuat dia layak memperoleh sambutan yang menyejukkan hati
dari sang istri.
Ayah
berusaha bersabar. “Mungkin dia hilaf lantaran lala kerja di rumah,” kata papa
pada dirinya sendiri meyakinkan bahwa setiap orang dalam keadaan lelah atau
stres kadang-kadang memunculkan tanggapan yang tak terkendali. “Wajarlah”.
Aku
berharap malamnya semua akan kembali seperti semula. Tentram dan damai. Papapun
berharap begitu.
Papa kini
mulai masuk kamar dan mulai merayu mama seperti biasa dilakukannya untuk
memecah kebekuan. Tapi, mama hanya memberikan tanggapan dingin. Kulihat papa
mencoba lagi. Aku tahu, ini demi keutuhan rumah tangga dan demi mengembalikan
keselarasan yang sedikit memudar di sore tadi.
“Jang
baba dekat pa kita ngana!” teriak mama sambil menghempaskan tangan
papa.
Sungguh…reaksi
ini tak pernah diharapkan baik oleh papa maupun aku.
“Kita nda
suka ngana pe cara tadi. Kita nda suka ngana kendo’o cari muka di muka pa
anak.”
“Sapa yang cari muka?” kini papa angkat
bicara. “ kita cuma kase inga pa ngana tu nda bagus yang da beking pa anak. Ini
demi torang pe kebaikan.”
“Luji
deng ngana. Setang. Tidor di luar ngana! Jang badekat.”
Mendengar
papa dan ibu mulai perang mulut lagi aku menutup telinga.
Namun suara makin keras menjangkau
sampai rumah-rumah tetangga. Teriakan mereka bertubi-tubi menghujam dan merobek
telinga.
Pelan-pelan
aku keluar dari rumah kami dan satu langkah demi satu langkah mengarah ke rumah
kakek dan nenek yang hanya berjarak kurang lebih 20 meter.
Kakek
nenek ternyata juga sedang mendengar apa yang sedang berlaku di rumah kami. Tadi
hanya suara. Kini terdengar benturan perkakas rumah menyentuh lantai dan
dinding.
“Kyapa re’e
tu di rumah pa ngoni, Ratu?” tanya nenek. “Tau kasana,” jawabku
kesal bercampur malu. Mencoba menyembunyikan aib keluarga namun aku tak pandai
memberi jawab pada pertanyaan semacam itu.
Nenek dan
kakek tahu perasaanku. Merasa aku tak nyaman dengan pertanyaan merekapun
mengalihkan pokok pembicaraan pada hal-hal lain. Kakek yang humoris mulai
bicara. Dia senang bertutur mengenai cerita rakyat di kampung kami. Ada cerita
tentang si Hero yang Mati Sembilan Hari, ada juga Legenda Asal Muasal Tetewatu,
cerita epos tentang Mawale dan kaitanya dengan tugu Lutau dan lain sebagainya.
Dalam
keadaan gundah sekalipun aku dapat dibuat kakek tertawa.
Dia memang tipe manusia dengan
kecerdasan linguistik yang hebat.
Dia
mampu berbicara berjam-jam disertai gerak-gerak teatrikal yang membuat orang-orang
benar-benar tegang dan terkekeh-kekeh karena kejenakaan ceritanya.
Banyak
orang, walaupun sebenarnya jenuh dengan cerita-cerita bertutur kakek saya. Gara-gara
itu, kakek dijuluki sebagai si Hans Flasgordon.
Tak
terasa, malam semakin larut.
Pertunjukkan
teatrikal kakek telah usai.
Aku yang
sudah sedikit merasakan kantuk mohon diri pulang ke rumah.
Kakek dan
nenekpun tak berusaha menahan.
Karena
takut kegelapan aku berlari menuju rumah.
Papa telah
berbaring di sofa. Di kamar ibu telah tertidur sendirian.
Aku tak
tahu bagaimana akhir cerita dari pepeperangan mereka. Tapi mendingan.
Setidaknya telah terjadi genjatan senjata.
Aku
keluar kamar lagi sambil membawa selembar kain untuk papa sebagai selimut.
Kasihan
papa.
Aku tak
mau dia nanti kedinginan.
TV masih
saja bicara-bicara sendiri. Ku tekan tombol on/offnya. Karena tinggi tempat
colokannya ku naiki meja kecil dan menarik kabel colokan.
Malam ini
hujan turun. Guntur mulai menggemuruh. Kilat-kilat kecil mulai berdatangan.
Mama
selalu berpesan untuk mematikan semua peralatan elektronik saat dalam keadaan
seperti sekarang ini.
Setelah
semua tampak beres, aku menuju kamar dan merebahkan diri di samping mama.
Aku tak
berani tidur sendirian dalam kamarku dalam cuaca begini.
Lama,
baru aku terlelap.
Besoknya
aku terbangun saat jam wekerku menunjukkan pukul 06.30. Waktu itu tape deck
sudah mengeluarkan lantunan-lantunan putus asah dan pengeluhan.
Sungguh
tak sesuai dengan harapanku semalam. Sungguh tak baik memulai hari dengan aura pesimis.
Lagu-lagu
yang terdengar sama dengan beberapa hari terakhir: ”Jangan Kau Tuduh Aku”.
Seingatku itu adalah lagu grup band bernama Wali. Kemudian ada lagu yang
berjudul “ mengapa kau selingkuh”, “Pulangkan Saja Aku Pada Orang Tuaku”, “Burung
Bajingan”, “Lebe Bae Bacere”.
Daftar
lagu itu sepertinya sengaja menjadi pilihan dan kesayangan orang tuaku sekarang
ini.
Padahal,
seharusnya lagu-lagu memotivasi yang layak didengar dalam situasi seperti ini.
Sadar
atau sadar, lagu-lagu itu sudah menjadi bagian dari kehidupan kami.
Tak tahu
pasti kenapa mama papa lebih memilih lagu-lagu seperti itu. Padahal, dulu,
setiap pagi aku selalu mendengar lagi religius atau lagu-lagu optimis dari
Ebiet.
Aku
paling suka kalau yang diputar adalah lagu koleksi untuk anak sekolah minggu.
Cocok untuk usiaku. Lagu-lagu yang penuh dengan suasana bermain. Dan keriangan.
Hari-hari
berikutnya sama saja. Malahan semakin parah.
Papa kini
sering pulang larut malam dalam keadaan mabuk. Berkali-kali papa ingin berdamai
tapi selalu ditolak. Sekarang mereka, telah berlangsung lama, tak lagi tidur
seranjang. Seperti biasa, papa di sofa. Mama di kamar.
Satu
malam karena tak tahan dengan situasi yang makin besae, papa memaksakan diri
untuk tidur sekamar dengan mama. Dia berusaha mengeluarkan jurus-jurus
pamungkas untuk meluluhkan hati mama. Tapi mama berang karena papa sudah dalam
keadaan setengah sadar setengah teler.
Karena
hal itu, perang mulutpun pecah di tengah malam.
Mereka
tak peduli lagi dengan keadaan sekitar.
“Yunita,
kyapa ngana so ta roba skali bagitu e? Apa kita pe salah? Kalaupun kita salah
so nda re’e mo dapa maaf so?”
“Jang
tanya! Kyapa le ngana tiap malam kaluar deng pulang-pulang amper siang?” mama
balas bertanya tak ingin kalah.
“Mo
bagimana kita? Di rumah nda ada kesenangan. Tiap pulang kerja bukang ngana
sambut bae-bae: sirang akang kopi, malah ngana bajalang baron-ron kampung. Kita
nda snang ngana korang bergaul-gaul deng ABG! Ngana musti sadar Yunita; ngana
itu so tanta bukang lagi cewek. Kalu so ba stel, artis kala.”
“Apa ngana bilang?! Ngana bilang kita
baron-ron? Ngana anggap kita perempuan lonte! Asal jo ngana. Kong ngana apa? Laki
apa tu pulang so pagi? Bukang lonte tu bagitu? So sama kwa. Udang deng ketang
kalu bakar sama. Ne, jang bicara kalu ngana lebe soe.” semprot mama.
“Beda.
Kita laki-laki. Ngana perempuan.” papa tidak mau kalah.
“Cuki
deng ngana. Karena ngoni laki-laki kong sambarang beking ngoni pe mau. Pemai
deng ngana! Ngana bilang kita le nda ja layani pa ngana? Oh io, nanti ngana lia
kalu kita mo se momasa lagi for ngana.” balas mama dengan pukulan yang membuat
papa teroleng-oleng.
“Yunita, coba kwa bicara bae-bae.”
“Bicara
bae-bae, lawut deng ngana. Ngana kira kita ngana pe pembantu. Kita mo tanya pa
ngana: kyapa kendo’o ngana so nda pernah kase doi pa kita na.”
Perdebatan
terus berlanjut. Rasa banggaku pada kedua orangtua lululantah sudah. Wibawa
mereka tak ada lagi.
Tanpa
sadar mereka sedang mengajariku bagaimana bertengkar dengan berbagai macam
sumpah serapah.
Aku
sebenarnya hanyalah anak yang belum cukup umur untuk memahami persoalan rumit
dan pelik yang menimpa keluargaku.
Usiaku
belumlah cocok dan siap menghadapi terpaan ini. Seharusnya, masa kecilku
dilalui dengan riang gembira dan sarat dengan curahan kasih sayang.
Terlalu
berat buatku memikirkan dan menghadapi konflik antara mama dan papa yang kian
kronis. Bagaikan konflik Israel dan Palestina yang telah berlarut-larut tanpa
ada jalan keluar yang menguntungkan kedua belah pihak. Hari demi hari korban
berjatuhan. Nyawa melayang setiap saat. Nyawa manusia tak ubahnya nyawa
binatang yang dijagal tanpa ampun.
Sungguh
memilukan!
Lama
kelamaan kelakuan mama dan papa mulai berubah.
Sifat-sifat
baik telah lari dari mereka. Yesus tak lagi terlihat dari laku mereka.
Papa kini
juga sering memukulku dengan ikat pinggangnya.
Setiap
kali kedapatan bermain dengan anak-anak tetangga aku selalu dicerca dengan
makian diikuti dengan sabet-sabetan yang terasa perih dalam daging.
Papa
selalu melarangku bermain dengan anak-anak lelaki. Apalagi, gara-gara bermain
dengannya aku sampai lupa makan.
Memang,
selera makanku tak lagi ada. Apalagi makanan seperti nasi. Aku lebih suka
snack. Cepat masuk mulut dan terasa lebih enak. Makanan sampah itu yang
menyebabkan badanku semakin kerempeng. Namun, tentu saja, ancaman mama dan papa
sulit merubah ketergantunganku pada jenis makanan itu.
Kebiasaanku
bermain dengan Gerald sulit untuk dilarang. Si Gerald memang nakal, tapi hanya
dialah satu-satunya temanku.
Beberapa
anak lainpun telah dilarang orang tua mereka bergaul denganku. Mereka takut
anak mereka terjangkiti oleh kebiasaan kasar dari rumahku.
Gerald,
walaupun nakal, dia lucu dan menggemeskan. Aku selalu dibuatnya tertawa. Aku
lebih bisa berekspresi dengan dia karena kami mungkin sebaya. Dia juga teman
berlatihku mengucapkan makian-makian yang aku dengar dari dua orang tuaku yang
juaranya memaki.
Aku,
sebenarnya juga, mendapat kenyamanan ketika dekat dengan nenek dan kakek serta
kedua pamanku yang bernama Wani dan Wady.
Kehadiran
kedua pamanku mampu membuat wajahku berseri-seri. Mereka bagaikan oase di
tengah padang pasir.
Mereka suka
membacakan dongeng untukku. Sayangnya, waktu mereka denganku sangat terbatas.
Paman Wani adalah seorang dosen di salah satu perguruan tinggi di kota Manado.
Dia hanya pulang sekali dalam dua minggu.
Paman
Wady juga sibuk. Dia apalagi. Dia hanya pulang sekali dalam sebulan.
Hari-hari
berikutnya, mama dan papa terlihat kadang-kadang insaf kalau aku kekurangan
perhatian.
Mereka sudah
sering memberiku uang.
Dulu
tidak begitu. Tak pernah mereka memberiku uang.
Mereka
biasa menghadiahiku buku-buku cerita. Juga membacakannya.
Aku tak
butuh uang.
Alat
tukar itu tak akan menggantikan kasih sayang dan perhatian mereka.
Aku
heran. Mereka memberiku uang di saat kami sedang mengalami krisis keuangan yang
berat. (Bersambung).
0 Komentar