Apa Kata Mahasiswa FIP Tentang DPM Unima?

TOMOHON - Pemilihan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Unima saat ini menjadi berita hangat dan santer terdengar dikalangan mahasiswa. Berbagai opini datang dari mahasiswa FIP terhadap carut marut lembaga kemahasiswaan di Unima. Fakultas tertua sekaligus Fakultas dengan jumlah mahasiswa terbanyak di Unima ini memiliki mahasiswa yang kritis dalam menyikapi berbagai persoalan kampus, tak terkecuali persoalan DPM Unima.

Beberapa mahasiswa FIP angkat bicara tentang masalah ini saat Unima_Cyber mencoba menemui mahasiswa di kampus Tomohon. "Kalau boleh, diadakan pemilihan raya untuk memilih perwakilan yang akan masuk ke DPM supaya semua mahasiswa terlibat dan mengetahuinya. Tapi karena saat ini sudah terbentuk DPM, maka harapan kami agar mereka yang terpilih bisa pro aktif terhadap mahasiswa dan bisa rajin untuk mengunjungi fakultas-fakultas apalagi fakultas kami berada di Tomohon" ujar Bendahara Komisi Pemilihan Raya Mahasiswa (KPRM) FIP Unima, Ivana.

Ditemui secara terpisah, Sujatmo Herendoli, Ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi (Himapro) PGSD mengatakan "tidak setuju dengan adanya DPM Unima saat ini. Hal ini dianggap liar karena pemilihan tidak dilakukan secara terbuka. Bahkan tidak ada sosialisasi sebelumnya. Siapa yang memilih dan mekanisme pemilihannya seperti apa? PGSD adalah program studi terbesar di Unima tapi tidak menerima pemberitahuan untuk pemilihan tersebut". Bahkan Herendoli mengaku bahwa tidak ada mahasiswa dari FIP yang menghubunginya untuk pemilihan ini dan tidak ada mahasiswa PGSD yang turut serta dalam pemilihan tersebut.

Hal berbeda diungkapkan Wittny Warouw, pengurus pusat di Ikatan Mahasiswa PGSD Se-Indonesia ini mengungkapkan bahwa pemilihan tersebut sebenarnya sudah disosialisasikan oleh pelaksana pemilihan yaitu KPRM Unima, tapi berhubung pelaksanaannya bertepatan dengan hari libur serta sebagian mahasiswa sudah pulang kampung, maka pemilihan tersebut tidak diketahui secara luas oleh mahasiswa FIP. "Pemilihan tersebut sebenarnya sudah disosialisasikan tapi berhubung pelaksanaannya bertepatan dengan hari libur dan hari pulang kampung bagi sebagian orang, maka pemilihan tersebut tidak terlalu terekspos dikalangan mahasiswa FIP" tutur Warouw yang juga anggota DPM Unima utusan FIP.

Permasalahan yang terjadi adalah lambatnya pelaksanaan pemilihan di FIP khususnya di jurusan Psikologi yang sempat terkatung-katung selama beberapa bulan. Kini DPM Unima sudah terbentuk namun masih kontroversial, mahasiswa berharap masalah DPM Unima ini bisa diketahui oleh seluruh mahasiswa Unima agar kinerja DPM jelas memperjuangkan hak dan aspirasi mahasiswa luas, bukan kepentingan pribadi dan kepentingan ormawa tertentu. Harapan mahasiswa FIP akan lembaga kemahasiswaan yang demokratis, transparan dan berpihak pada mahasiswa semoga bisa terwujud.




Laporan oleh: Anfi Mentu

Published with Blogger-droid v2.0.4

Posting Komentar

0 Komentar